AS Serang Iran, Kini Panik Hadapi Skenario Harga Minyak USD200 per Barel
Pemerintah Amerika Serikat (AS) menyiapkan berbagai skenario darurat menyusul eskalasi konflik dengan Iran yang memicu gejolak pasar energi global. Salah satu skenario terburuk yang dipertimbangkan adalah lonjakan harga minyak hingga USD200 per barel.
"Dengan ketegangan masih tinggi, itu bukan hal yang mustahil," kata Kepala Ekonom Moody's Analytics, Mark Zandi, dalam pernyataannya dikutip dari The Daily Beast, Kamis (2/4/2026).
Baca Juga:Purbaya Blak-blakan, Setiap Kenaikan 1 Dolar Harga Minyak Tambah Defisit Rp6 Triliun
Sejumlah pejabat pemerintahan Presiden Donald Trump dilaporkan tengah menyusun rencana kontingensi untuk menghadapi dampak krisis energi yang berpotensi meluas. Langkah ini dilakukan seiring meningkatnya risiko gangguan pasokan minyak global akibat konflik yang berkepanjangan.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran, sebagai respons atas serangan militer AS dan Israel, telah memperburuk situasi. Jalur strategis tersebut selama ini dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia, sehingga gangguan distribusi langsung mendorong harga minyak naik hingga kisaran USD100 per barel.
Kenaikan harga energi tersebut mulai berdampak pada perekonomian, termasuk lonjakan harga bahan bakar di AS. Sejumlah ekonom memperingatkan, tekanan ini berpotensi mendorong ekonomi AS ke jurang resesi jika konflik tidak segera mereda.
Model Moody’s Analytics bahkan meningkatkan probabilitas resesi dalam 12 bulan ke depan menjadi 48. Zandi menyebut harga minyak di level USD125 per barel sudah cukup menjadi titik kritis bagi stabilitas ekonomi.
Bloomberg Economics memperkirakan, lonjakan harga minyak hingga USD170 per barel saja sudah dapat memicu inflasi tajam di AS. Sementara itu, harga di kisaran USD200 per barel dinilai berpotensi menimbulkan dampak global yang jauh lebih serius, mengingat level tersebut terakhir kali mendekati realisasi sebelum krisis keuangan global 2008.
Baca Juga:Israel Tegaskan Tidak akan Gabung Operasi Darat AS di Iran
Di sisi lain, Gedung Putih membantah laporan terkait kekhawatiran ekstrem tersebut. Juru bicara Kush Desai menegaskan bahwa pemerintah memang selalu mengevaluasi berbagai skenario harga energi, namun tidak secara spesifik memproyeksikan lonjakan hingga USD200 per barel.
Meski demikian, Presiden Donald Trump mengakui bahwa konflik yang berlangsung dapat menekan pasar keuangan dan mendorong kenaikan harga energi dalam jangka pendek. Namun, ia menilai dampak tersebut tidak menjadi persoalan utama dalam konteks kebijakan yang lebih luas.









