Pemprov DKI Perkuat Kualitas Ruang Hijau, Didukung Kontribusi Pajak Warga
JAKARTA - Komitmen Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam meningkatkan kualitas Ruang Terbuka Hijau (RTH) semakin nyata. Sepanjang tahun 2025, transformasi besar dilakukan, mulai dari penataan ulang lanskap, peremajaan fasilitas publik, hingga penguatan sistem keamanan melalui jaringan CCTV. Bahkan, di beberapa titik strategis, taman kini mulai beroperasi 24 jam untuk memberikan akses ruang publik yang inklusif bagi warga, baik untuk berolahraga di fajar menyingsing maupun melepas penat di malam hari.
Namun, di balik rimbunnya pepohonan dan nyamannya bangku taman, ada mesin pembiayaan yang bekerja tanpa henti yakni Pajak Daerah.
Kepala Pusat Data dan Informasi Pendapatan Bapenda Jakarta, Morris Danny, menegaskan bahwa setiap rupiah pajak yang dibayarkan masyarakat memiliki korelasi langsung terhadap kualitas hidup di ibu kota. Menurutnya, kepatuhan wajib pajak adalah fondasi utama yang memungkinkan taman-taman kota tetap terawat dan aman.
“Pajak daerah menjadi motor penggerak dalam menjaga keberlangsungan pembangunan dan pemeliharaan RTH di Jakarta. Dukungan pembiayaan ini memastikan lanskap tetap asri, sarana prasarana terjaga, hingga pengelolaan keamanan kawasan taman berjalan optimal,” ujar Morris Danny.
Ia menambahkan bahwa peran masyarakat dalam membayar pajak bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan bentuk investasi sosial. “Melalui pajak, warga secara tidak langsung bergotong-royong membangun kualitas lingkungan yang lebih baik. Ruang hijau yang terawat adalah aset bersama yang manfaatnya dirasakan langsung oleh warga Jakarta maupun masyarakat komuter yang beraktivitas di sini,” lanjutnya.
Keberhasilan pengelolaan RTH ini juga merupakan buah dari kolaborasi lintas sektor. Dinas Pertamanan dan Hutan Kota bekerja sama dengan Satpol PP untuk memastikan setiap sudut taman tetap tertata dan bebas dari gangguan ketertiban.
Dengan dukungan kontribusi Pajak Daerah, Jakarta perlahan tapi pasti terus bersalin rupa. Ruang-ruang hijau kini tidak hanya berfungsi sebagai paru-paru kota yang menyerap polusi, tetapi juga menjadi ruang interaksi sosial yang manusiawi. Inilah wajah Jakarta masa depan: kota metropolitan yang tetap kompetitif tanpa kehilangan sisi hijau dan kenyamanannya bagi seluruh lapisan masyarakat.










