Nasdaq Merosot 2 Persen dan S&P Turun dalam Empat Minggu Imbas Konflik Timur Tengah
IDXChannel – Tiga indeks utama saham Amerika Serikat (AS) berakhir melemah pada perdagangan Jumat (20/3/2026). Bahkan Wall Street tercatat merosot ke penurunan empat minggu berturut-turut karena terpukul oleh sentimen konflik di Timur Tengah.
Indeks acuan S&P 500 turun 1,5 persen menjadi 6.508,32 poin, indeks NASDAQ Composite yang didominasi saham teknologi turun 2 persen menjadi 21.647,61 poin, dan indeks Dow Jones Industrial Average yang didominasi saham blue-chip turun 1 persen menjadi 45.576,83 poin.
Sepanjang minggu, S&P turun 1,9 persen, sementara Nasdaq dan Dow masing-masing turun 2,1 persen. Secara tahunan, S&P kini turun 4,9 persen, Nasdaq 6,9 persen, dan Dow 5,2 persen.
Wall Street berakhir melemah setelah laporan menyebutkan AS sedang bersiap untuk mengerahkan pasukan darat di Iran. Para pejabat Pentagon AS telah membuat rencana terperinci untuk mengerahkan pasukan darat AS ke Iran, lapor CBS News, mengutip beberapa sumber yang diberi pengarahan tentang diskusi tersebut.
Sebelumnya, Reuters melaporkan bahwa AS mengerahkan ribuan Marinir dan pelaut tambahan ke Timur Tengah, mengutip tiga pejabat AS. Informasi tersebut langsung mendorong kenaikan harga minyak di level tertinggi dalam lebih dari 3,5 tahun.
Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah AS melonjak karena para pedagang menjualnya. Sektor-sektor yang sensitif terhadap suku bunga seperti utilitas dan teknologi ikut terpukul.
Aksi jual obligasi yang terus berlanjut sejak dimulainya serangan AS-Israel terhadap Iran pada akhir Februari semakin dalam pada Jumat, menyebabkan imbal hasil melonjak dan menekan pasar saham.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10 tahun terakhir naik 10 basis poin menjadi 4,384 persen. Angka tersebut telah melonjak 32 basis poin sejak awal konflik Iran.
Sementara itu, obligasi pemerintah AS 2 tahun yang lebih sensitif terhadap suku bunga naik 6 basis poin menjadi 3,894 persen, menambah kenaikan 42 basis poin untuk bulan ini.
"Semuanya masih tentang minyak dan suku bunga, dan keduanya bergerak lebih tinggi hari ini. Kenaikan imbal hasil, yang sekarang berada pada level tertinggi sejak Agustus lalu, menekan area yang sensitif terhadap suku bunga seperti utilitas dan real estat, sementara harga minyak yang tinggi membuat kekhawatiran geopolitik tetap menjadi perhatian utama," kata kepala investasi dan kepala strategi pasar di Truist, Keith Lerner, kepada Investing.com.
Dia juga menyebut ada tanda-tanda ketakutan dan penjualan yang lebih sembarangan yang sering muncul di dekat titik terendah pasar, dengan indikator yang lebih dekat, meskipun belum pada tingkat ekstrem.
“Agar pasar dapat kembali stabil, stabilitas harga minyak dan obligasi Treasury 10 tahun kemungkinan akan dibutuhkan,” tambah Lerner.
Harga minyak mentah Brent terakhir naik 2,9 persen menjadi USD111,78 per barel. Sebelumnya mendekati level tertinggi sesi USD113,10 per barel setelah laporan CBS.
Selain itu, faktor yang menambah volatilitas yakni peristiwa yang dikenal sebagai quadruple witching. Terjadi empat kali setahun, peristiwa itu melibatkan berakhirnya empat jenis derivatif: kontrak berjangka indeks saham, opsi indeks saham, opsi saham, dan kontrak berjangka saham tunggal. Peristiwa yang terjadi pada Jumat itu tercatat mencapai USD4,7 triliun dalam masa berlaku kontrak.
(Febrina Ratna Iskana)









