Indonesia Sibuk Cari Sumber Baru Impor BBM: Dari Amerika Butuh Waktu 40 Hari, Timteng 3 Pekan

Indonesia Sibuk Cari Sumber Baru Impor BBM: Dari Amerika Butuh Waktu 40 Hari, Timteng 3 Pekan

Ekonomi | sindonews | Sabtu, 14 Maret 2026 - 11:57
share

Perang Amerika Serikat (AS) versus Iran memaksa Indonesia mencari opsi impor Bahan Bakar Minyak (BBM) dari beberapa negara, seiring blokade di Selat Hormuz. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan, impor BBM dari Amerika membutuhkan waktu yang lebih panjang ketimbang impor dari Timur Tengah.

Selisih waktu pengiriman minyak mentah dari kedua mencapai 20 hari. Jika pengirim minyak mentah dari Timur Tengah memerlukan waktu 2-3 minggu paling lama sampai ke Indonesia, maka minyak impor dari Amerika memerlukan waktu pengiriman hingga 40 hari, baru tiba di Indonesia.

"Memang tantangannya adalah kalau dari Amerika lebih lama, mencapai 40 hari. Kalau dari Middle East itu 2-3 minggu. Tetapi sekarang kita bikin kontrak jangka panjang," ujarnya dalam Sidang Kabinet Paripurna di Jakarta, Jumat (13/3).

Baca Juga: Pertamina Cari Alternatif Sumber Impor BBM di Tengah Konflik Timur Tengah

Bahlil mengatakan, total impor minyak mentah dari kawasan Timur Tengah mencapai 20 dari total impor minyak mentah di Indonesia. Sementara sisanya didapatkan dari sumber-sumber lain termasuk Indonesia.

"Jadi minyak mentah itu 20 persen memang dari Middle East. Sisanya kita dapat dari Angola, Nigeria, Brazil, kemudian sebagian Amerika, sebagian dari Malaysia. Jadi itu pun kita sudah dapat penggantinya," lanjutnya.

Baca Juga: Bagian dari Kesepakatan Tarif Trump, RI Impor Migas AS Senilai Rp253,32 Triliun

Sebelumnya, Pemerintah telah menyepakati perjanjian pembelian minyak mentah dari Amerika Serikat hingga USD15 miliar atau setara Rp253 triliun. Kontrak ini merupakan hasil kesepakatan dagang antara Indonesia dengan Amerika Serikat.

"Ada kesepakatan juga untuk melakukan impor gas (LPG) dan crude oil, nilainya USD15 miliar per tahunnya," kata Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani dalam konferensi pers secara daring.

Topik Menarik