Lonjakan Inflasi Mengancam Ekonomi RI, THR Belum Cukup Dongkrak Daya Beli

Lonjakan Inflasi Mengancam Ekonomi RI, THR Belum Cukup Dongkrak Daya Beli

Ekonomi | sindonews | Senin, 9 Maret 2026 - 17:37
share

Tunjangan Hari Raya atau THR bagi para pekerja dinilai belum cukup untuk mendongkrak daya beli masyarakat. Ini lantaran kondisi ekonomi terkini berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya karena Ramadan dan Idulfitri 1447 H berlangsung bersamaan dengan meningkatnya tekanan ekonomi global.

Peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Abdul Manap Pulungan mengatakan, konflik yang melibatkan AS-Israel dan Iran yang sedang berlangsung turut memengaruhi stabilitas ekonomi domestik, terutama melalui pelemahan nilai tukar rupiah yang dapat memicu kenaikan inflasi.

"Ini memang kita agak berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya, bahwa ketika kita menghadapi Ramadan dan Idulfitri, justru pada saat sekarang juga terjadi tekanan di ekonomi global. Ini akan mempengaruhi nilai tukar rupiah, lagi-lagi nanti akan mempengaruhi inflasi kita," kata Abdul Manap dalam paparannya, Senin (9/3/2026).

Baca Juga: Banyak Ekonom Sebut RI Sudah Resesi, Purbaya: Daya Beli Masih Ada, Kita Jauh dari Krisis

Menurutnya, inflasi yang berasal dari berbagai sumber seperti kenaikan harga pangan, energi, serta depresiasi nilai tukar rupiah akan mendorong meningkatnya inflasi impor dan berdampak pada inflasi secara keseluruhan.

Terangnya tambahan THR yang diterima masyarakat kemungkinan besar hanya berfungsi sebagai penahan agar daya beli tidak turun lebih dalam, bukan menjadi pendorong konsumsi yang signifikan.

"Hipotesisnya, apakah tambahan THR yang kita dapatkan tadi itu dapat mendorong daya beli atau memang hanya untuk menahan agar inflasi tidak menggerus daya beli selama situasi domestik maupun global yang belum membaik?” ujarnya.

Abdul menjelaskan, tekanan inflasi yang datang dari sisi pasokan maupun permintaan membuat ruang untuk memaksimalkan dampak THR terhadap konsumsi masyarakat menjadi semakin terbatas.

Baca Juga: Fantastis! Pemerintah Prediksi Angka THR Swasta Tembus Rp124 TriliunIa juga menyoroti perkembangan sejumlah indikator makroekonomi hingga Februari 2026. Inflasi tercatat berada di kisaran 4,76, sementara nilai tukar rupiah mendekati Rp17.000 per dolar AS. Di sisi lain, tingkat imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) berada di kisaran 6,39 dan harga minyak dunia melambung tinggi.

Menurut Abdul, kenaikan harga minyak dunia bukan kabar baik bagi Indonesia yang saat ini merupakan negara pengimpor minyak. Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

"Kalau situasi seperti ini, ini akan berat bagi kita karena di APBN Februari sudah Rp135 triliun. Ini angka yang sangat tinggi, yang sangat membebani ekonomi selama 2026," ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menilai konflik global juga berdampak pada pelemahan rupiah yang berpotensi meningkatkan inflasi impor. Di sisi lain, inflasi dalam negeri sebenarnya sudah mulai meningkat bahkan sebelum konflik tersebut terjadi, terutama dari kenaikan harga bahan makanan.

Dengan kondisi tersebut, Abdul menilai tambahan likuiditas dari THR hanya akan menahan penurunan daya beli agar tidak semakin tajam di tengah tekanan inflasi yang meningkat.

"Kita lihat apakah THR ini berkontribusi terhadap peningkatan daya beli di tengah inflasi yang meningkat. Saya pikir tidak seperti itu karena bisa jadi THR ini hanya berguna untuk melindungi agar daya beli tidak signifikan turun ketika kenaikan inflasi cukup besar," ujarnya.

Topik Menarik