Bos BI Akui Rupiah Harusnya Tak Selemah Ini, Apa Penyebabnya?

Bos BI Akui Rupiah Harusnya Tak Selemah Ini, Apa Penyebabnya?

Ekonomi | sindonews | Kamis, 19 Februari 2026 - 21:24
share

Bank Indonesia (BI) membenarkan bahwa posisi nilai tukar rupiah saat ini berada di bawah nilai wajar atau undervalued, meskipun secara fundamental ekonomi masih kuat. Gubernur BI Perry Warjiyo meyakini bahwa kesenjangan antara kondisi riil dan pergerakan teknikal di pasar keuangan yang dipicu sentimen global menjadi penyebab utama pelemahan tersebut.

"Kalau kita lihat pergerakan nilai tukar ada dua faktor yang utama yang berpengaruh ya itulah faktor fundamental yaitu indikator inflasi, pertumbuhan ekonomi, imbal hasil maupun juga indikator-indikator lain yang semuanya menunjukkan berbagai faktor-faktor fundamental itu menunjukkan rupiah mestinya akan lebih stabil dan cenderung menguat," ujar Perry dalam konferensi pers RDG BI, Kamis (19/2/2026).

Baca Juga:Tampil Perdana di Rapat Gubernur BI, Thomas Djiwandono Bicara Ini

Rupiah sempat menyentuh level Rp16.880 per dolar AS pada 18 Februari 2026 atau melemah 0,56 dibandingkan akhir Januari 2026. Pelemahan ini terutama disebabkan oleh tingginya ketidakpastian pasar keuangan global serta meningkatnya permintaan valas dari korporasi domestik seiring dengan naiknya aktivitas ekonomi.

Perry menjelaskan faktor teknikal dan premi risiko global menjadi pemicu tekanan jangka pendek terhadap nilai tukar. Namun demikian, BI optimistis tren ini akan berbalik arah seiring dengan menguatnya fundamental ekonomi domestik yang tetap terjaga."Pertanyaannya tentu saja faktor-faktor teknikal, faktor-faktor premi risiko yang khususnya terjadi di global memang kelihatan faktor-faktor ini yang memang menimbulkan tekanan-tekanan jangka pendek terhadap nilai tukar. Dengan keyakinan ke depan nilai tukarnya akan stabil dan cenderung menguat mengarah kepada fundamental," jelas Perry.

Guna meredam pelemahan lebih lanjut, Bank Indonesia meningkatkan intensitas stabilisasi melalui tiga jalur utama, yakni intervensi pasar, instrumen portofolio, dan uang primer. Langkah ini diambil untuk menjaga kepercayaan pasar terhadap stabilitas rupiah di tengah gejolak global. "Alhamdulillah selama dua bulan ini investasi portofolio asing terus masuk, sudah ada net flow dan itu akan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah," ungkap Perry.

Baca Juga:BI Optimistis Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,7 di 2026

Dari sisi fundamental, bank sentral mencatat tingkat inflasi Indonesia masih sangat konsisten dengan sasaran 2,5±1 untuk tahun 2026 dan 2027. Dengan inflasi yang rendah dan prospek pertumbuhan ekonomi yang meningkat, BI memproyeksikan rupiah akan bergerak stabil dalam jangka menengah.

Perry mengimbau pelaku pasar untuk lebih mencermati indikator fundamental ekonomi domestik yang tetap solid dibandingkan merespons berlebihan terhadap gejolak teknikal jangka pendek.

Topik Menarik