IHSG Lesu, Nilai Tukar Rupiah Ikut Loyo ke Rp16.755 per USD
IDXChannel - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) atau USD ditutup melemah pada akhir perdagangan Kamis (29/1/2026), yakni dengan mecatatkan penurunan 33 poin atau sekitar 0,20 persen ke level Rp16.755 per USD.
Pengamat Pasar Uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah ini salah satunya didorong sentimen eksternal yaitu Presiden AS Donald Trump sedang mempertimbangkan serangan besar terbaru terhadap Iran setelah negosiasi mengenai program nuklir dan produksi rudal negara itu terhenti.
“Laporan ini muncul setelah Trump mengerahkan beberapa kapal ke Timur Tengah, dan mengancam akan melakukan aksi militer yang dia sebut sebagai potensi dukungan terhadap protes nasional di Iran,” ujarnya dalam risetnya.
Tindakan AS lebih lanjut terhadap Iran dapat meningkatkan ketegangan di Timur Tengah, dengan Iran telah bersumpah akan melakukan pembalasan yang keras terhadap tindakan tersebut. Selain itu, tuntutan Trump atas Greenland juga semakin memperkuat tren ini, meskipun ia terlihat meredam retorikanya dalam beberapa minggu terakhir.
Lebih lanjut, Ibrahim menerangkan, pernyataan kebijakan moneter Federal Reserve mengungkapkan bahwa para pembuat kebijakan memutuskan untuk mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,50-3,75 persen dalam pemungutan suara 10-2, karena Gubernur Fed Stephen Miran dan Christopher Waller (salah satu calon pilihan Trump untuk menggantikan Jerome Powell) memilih untuk memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin.
Dari sentimen domestik, Goldman Sachs Group Inc menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi underweight, memperingatkan kekhawatiran MSCI Inc terkait kelayakan investasi dapat memicu arus keluar lebih dari USD13 miliar jika peringkat pasar diturunkan menjadi status frontier.
Bank Wall Street tersebut memperkirakan, dalam skenario ekstrem di mana Indonesia diklasifikasikan ulang dari pasar negara berkembang, dana pasif yang mengikuti indeks MSCI dapat menjual hingga USD7,8 miliar. Arus keluar lebih lanjut sebesar USD5,6 miliar juga dapat dipicu jika FTSE Russell meninjau ulang metodologi dan status free float-nya.
Dalam catatan terpisah, analis mengatakan, mengingat manajer dana aktif regional memiliki posisi overweight di pasar, beban dari kemungkinan penurunan status, ditambah dengan meningkatnya tekanan pasar dan potensi penurunan likuiditas, kemungkinan akan mendorong investor long-only menyesuaikan kembali portofolio mereka. Hal ini juga dapat memicu aliran spekulatif dari hedge fund.
“Saham Indonesia anjlok 7,4 persen pada Rabu setelah MSCI mengumumkan akan menunda perubahan indeks hingga regulator menangani kekhawatiran terkait kepemilikan saham yang terlalu terkonsentrasi pada perusahaan terdaftar, dengan alasan masalah fundamental dalam hal kelayakan investasi. Intinya, kekhawatiran terkait rendahnya free float jumlah saham yang tersedia untuk diperdagangkan telah muncul sebagai titik masalah bagi saham Indonesia,” kata Ibrahim.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksikan mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp16.750-Rp16.780 per USD.
(Dhera Arizona)










