Kerajaan Singasari: Pendiri, Silsilah Lengkap dan Peninggalannya

Kerajaan Singasari: Pendiri, Silsilah Lengkap dan Peninggalannya

Ekonomi | BuddyKu | Selasa, 13 September 2022 - 19:37
share

KERAJAAN Singasari atau disebut juga Kerajaan Tumapel, adalah sebuah kerajaan bercorak Hindu-Buddha yang didirikan oleh Ken Arok pada 1222 di Singasari, Malang.

Berdasarkan keterangan dalam Prasasti Kudadu, Kerajaan Singasari memiliki nama resmi Kerajaan Tumapel. Nama Tumapel juga muncul dalam berita Tiongkok dari Dinasti Yuan dengan ejaan Tu-ma-pan. Kakawin Nagarakretagama juga memperjelas jika ibu kota Tumapel bernama Kutaraja ketika pertama kali didirikan pada 1222.

Pararaton menyebutkan bahwa awalnya, Kerajaan ini hanyalah sebuah daerah bawahan Kerajaan Kadiri. Saat itu, Tunggul Ametung menjabat sebagai ukuwu (setara camat) Tumapel tetapi akhirnya mati dibunuh dengan tipu muslihat oleh pengawalnya sendiri, yaitu Ken Arok.

Setelah membunuh Tunggul Ametung, Ken Arok kemudian mengangkat dirinya menjadi raja pertama Tumapel dengan gelar Sri Ranggah Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi dan menikahi istri Tunggul Ametung yang sedang mengandung, yaitu Ken Dedes

Anak Ken Dedes dari Tunggul Ametung itu nantinya diberi nama Anuspati. Selain Ken Dedes, Ken Arok juga mempunyai satu istri lagi bernama Ken Umang yang kelak melahirkan anak bernama Tohjaya.

Ketika berkuasa, Ken Arok berniat melepaskan Tumapel dari kekuasaan Kadiri. Namun, terjadi perseteruan antara Kertajaya, raja Kerajaan Panjalu, dengan kaum brahmana. Para brahmana lantas menggabungkan diri dengan Ken Arok.

Akhirnya, perang melawan Kadiri lantas meletus di Desa Genter pada 1222 yang dimenangkan oleh pihak Tumapel.

Silsilah Kerajaan Singasari

Berikut daftar raja Tumapel menurut versi Pararaton:

Sri Ranggah Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi (Ken Arok) (1222-1247 M)

Anuspati (1247-1249 M)

Tohjaya (1249-1250 M)

Ranggawuni (Wisnuwardhana) (1250-1272 M)

Kartanegara (1272-1292 M)

Seperti yang dikisahkan dalam Pararaton, Anuspati yang merupakan putra tunggal Ametung dan Ken Dedes ingin membalas dendam pada Ken Arok yang telah membunuh Ayahnya.

Pada tahun 1247, Anuspati melakukan niatnya dan Ken Arok mati di tangannya sendiri. Kemudian ia menjadi penguasa Tumapel.

Namun sayangnya, pada tahun 1249 Anuspati justru tewas dihabisi oleh Tohjaya yang merupakan anak Ken arok dari Ken Umang.

Pada 1253, Wisnuwardhana yang saat itu menjadi pemimpin Tumapel, menunjuk putranya yang bernama Kartanagara sebagai yuwaraja (putra mahkota) dan mengganti nama ibu kota kerajaan menjadi Singasari. Seiring berjalannya waktu, nama Singasari yang merupakan nama ibu kota justru lebih terkenal daripada nama Tumapel. Hal ini yang membuat Tumapel juga dikenal dengan nama Kerajaan Singasari.

Masa Kejayaan Kerajaan Singasari

Kerajaan Singasari menduduki puncak kejayaannya ketika dipimpin oleh Kartanegara sebagai raja terakhir. Di bawah pemerintahannya, kekuasaan Singasari berhasil mencakup seluruh jawa, Madura, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Melayu, dan Semenanjung Melayu.

Kartanegara juga terkenal dengan gagasannya untuk menyatukan kerajaan-kerajaan di Nusantara di bawah payung kekuasaan Singasari. Gagasan ini dikenal sebagai Wawasan Nusantara I.

Pada era kepemimpinannya ini, sektor perdagangan dan pelayaran Singasari juga ikut berkembang pesat. Singasari juga berhasil menguasai jalur perdagangan dari Selat Malaka hingga Kepulauan Maluku.

Namun, selain membawa Singasari menuju puncak kejayaan, rupanya pada periode pemerintahan Kartanegara ini lah Kerajaan Singasari juga mengalami keruntuhan.

Keruntuhan ini disebabkan oleh lemahnya pertahanan kerajaan karena Singasari yang justru sibuk mengirimkan angkatan perangnya ke luar Jawa.

Bersamaan dengan itu terjadi pemberontakan Jayakatwang bupati Gelanggelang, yang merupakan sepupu, ipar, dan sekaligus besan dari Kartanagara sendiri, karena ingin membalas dendam terhadap Wangsa Rajasa yang telah merebut kekuasaan,serta membunuh keluarga dan leluhurnya.

Pemberontakan ini menyebabkan kematian Kartanegara dan Kerajaan Singasari runtuh.

Setelah Singasari runtuh, Jayakatwang yang telah berhasil merebut kekuasaan kemudian mengangkat dirinya menjadi raja dan membangun Kerajaan Kediri dengan ibukota di Daha. Sekaligus mengakhiri silsilah Kerajaan Singasari.

Peninggalan Kerajaan Singasari

Candi Singosari

Candi Singosari yang berada di Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang ini berada di lembah antara Pegunungan Arjuna dan Pegunungan Tengger. Candi ini adalah tempat pendharmaan dari Raja Kartanegara.

Prasasti Mula Malurung

Prasasti ini berbentuk lempengan tembaga yang diterbitkan oleh Kartanegara yang saat itu masih menjadi raja muda. Prasasti Mula Malurung merupakan piagam untuk mengesahkan Desa Mulurung dan Desa Mula.

Candi Kidal

Candi ini dibuat khusus sebagai bentuk penghormatan terakhir untuk Raja Anusapati yang mati dibunuh oleh Tohjaya. Kematian Anuspati mambawa cerita bahwa kejadian tersebut merupakan bagian dari kutukan keris Mpu Gandring.

Candi Jago

Kartanegara membangun candi ini sebagai penghormatan terhadap ayahnya, Sri Jaya Wisnuwardhana alias Ranggawuni.

Candi Katang Lumbang

Candi ini dibangun untuk peristirahatan terakhir Raja Tohjaya, anak dari Ken Arok dan Ken Umang.

Candi Kangenan

Sebagai bentuk penghormatan kepada pendiri Kerajaan Singasari, Candi Kangean dibangun sebagai tempat peristirahatan terakhir untuk Ken Arok.

Candi Sumberawan

Candi ini memiliki kaki juga badan berbentuk stupa, dan tidak dilengkapi dengan tangga seperti candi pada umumnya. Lokasinya terletak di Desa Toyomarto, Kecamatan Singasari, Malang.

Candi Jawi

Didirikan atas perintah Kartanegara sebagai tempat ibadah bagi umat Siwa-Buddha yang diperkirakan dibangun pada abad ke-13 dan terletak di Desa Candiwates Kecamatan Prigen, Pasuruan.

Prasasti Singasari

Dibuat pada 1352 M di Singasari, Malang. Prasasti Singasari ini sengaja ditulis untuk mengenang pembangunan candi pemakaman di bawah pimpinan Gajah Mada.

Prasasti Wurare

Prasasti ini ditulis dengan Bahasa Sanskerta, isinya berupa penghormatan untuk Raja Kartanegara yang oleh keturunannya dianggap telah mencapai derajat Jina atau Buddha Agung.

Prasasti ini mengisahkan tentang Arya Bharad yang membelah tanah Jawa menjadi dua kerajaan, yaitu Jenggala dan Panjalu untuk menghindari terjadinya peperangan antara dua pangeran yang memperebutkan kekuasaan.

Selain candi, terdapat juga peninggalan berupa arca yang dibuat oleh masyarakat Singasari. Berikut beberapa arca peninggalan Kerajaan Singasari:

Arca Anusapati

Arca Wisnu Wardhana

Arca Ken Dedes

Arca Joko Dolok

Arca Dwarapala

Topik Menarik