BRI Optimistis Target NZE 2060 Bakal Tercapai, Ini Syaratnya

BRI Optimistis Target NZE 2060 Bakal Tercapai, Ini Syaratnya

Berita Utama | BuddyKu | Rabu, 4 Oktober 2023 - 01:30
share

IDXChannel - PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) meyakini bahwa upaya pemerintah untuk mewujudkan Net Zero Emission (NZE) pada 2060 mendatang dapat terwujud sesuai target.

Namun demikian, syarat untuk mewujudkan hal tersebut adalah adanya peran serta dari semua pihak, mulai dari pihak regulator, kalangan swasta hingga masyarakat luas.

Menurut Direktur Kepatuhan BRI, Achmad Solichin Lutfiyanto, pihaknya juga telah memiliki strategi khusus dalam mendukung secara langsung dan berperan aktif merealisasikan visi pemerintah tersebut.

"Seluruh pihak harus berkolaborasi secara aktif untuk mewujudkan tujuan bersama tersebut," ujar Achmad, dalam keterangan resminya, Selasa (3/10/2023).

Terkait peran BRI dalam mewujudkan target NZE 2060 tersebut, menurut Achmad, pihaknya sudah memiliki policy perusahaan, yang diberi nama ESG roadmap.

Dalam roadmap tersebut bahkan BRI menargetkan dapat mewujudkan kondisi NZE pada 2050, atau 10 tahun lebih awal dari target yang dicanangkan pemerintah.

Kebijakan tersebut kemudian diimplementasikan melalui berbagai strategi, inisiatif, dan program kerja, baik secara bisnis maupun operasional.

Secara bertahap, BRI dalam ESG Roadmap yang dimiliki berharap dapat menurunkan emisi sekitar 30 sampai 40 persen pada 2030, sejalan dengan target Enhanced-NDC Indonesia.

Solichin mencontohkan, porsi BRI dalam mencapai NZE Indonesia di 2060, salah satunya adalah dengan aktif dalam penyaluran kredit kepada green sector serta partisipasi dalam inisiatif pemerintah, seperti pada perdagangan karbon perdana, pada tanggal 26 September 2023 lalu.

"Terkait komitmen kami, tentu ke depan BRI akan terus memperbesar porsi dari pembiayaan hijau," tutur Achmad.

Secara umum, BRI telah memiliki komitmen yang tinggi terhadap pembiayaan berkelanjutan, yaitu pembiayaan yang terdiri dari pembiayaan kepada UMKM dan kepada sektor hijau.

Total pembiayaan sebesar Rp732,3 triliun atau 67,2 persen dari total pembiayaan bank. Sebagai bank yang fokus melayani UMKM, BRI memiliki porsi pembiayaan UMKM sebesar Rp652,9 triliun, sementara pembiayaan ke sektor hijau sebesar Rp79,4 triliun.

Achmad juga menjelaskan adanya tantangan bank dalam menyalurkan pembiayaan hijau. Dijelaskan Achmad, bank merupakan highly regulated industry, karena bank adalah bisnis yang berisiko sangat tinggi, sehingga kami di bank harus menerapkan best practice dalam risk management.

"Dalam konteks ekonomi hijau, ada dua risiko utama yang harus di-manage, itu adalah physical risk dan transition risk. Challenge terbesar buat bank itu adalah bagaimana mengelola transition risk. Ini nilainya besar sekali dan itu nggak mungkin ditanggung sendiri oleh bank. Bahkan harus ada kolaborasi baik dari pemerintah, bank, industri, dan para pihak terkait," ungkap Achmad.

Untuk itu, BRI menerapkan manajemen risiko yang lebih intense dalam menyalurkan kredit ke sektor hijau, diantaranya adalah melakukan climate change scenario analysis dengan standar internasional, serta menyusun credit policy per sektor, yaitu untuk sektor palm oil dan pulp & paper.

Selain risiko yang tinggi, Achmad juga menjelaskan bahwa ketersediaan green project di Indonesia saat ini juga masih terbatas. Untuk itu, peran dari Pemerintah dan pelaku industri menjadi hal yang penting dalam meningkatkan porsi green project di Indonesia.

Sedangkan di tataran operasional, implementasi ESG roadmap BRI mengutamakan dua hal, yaitu People dan Business Process.

"Operasional kita nggak akan pernah optimal ketika kita nggak meng-address isu mengenai manusianya," papar Achmad.

BRI juga mendorong pekerjanya dalam mendukung pencapaian NZE target, antara lain melalui inisiatif Eco-Operational Efficiency Program, seperti penggunaan kendaraan operasional listrik dan instalasi solar panel di unit kerja BRI.

Di samping itu juga terdapat inisiatif Sustainability Culture Program untuk menginternalisasi budaya keberlanjutan kepada seluruh pekerja BRI.

Selain meningkatkan literasi ke pekerja, BRI juga mengajak masyarakat, terutama Desa BRILiaN dan nasabah KUR BRI untuk menjaga lingkungan dan mendukung NZE melalui program BRI Menanam.

Dalam hal ini, BRI melibatkan berbagai stakeholder terlebih masyarakat, di mana perseroan mengambil pula porsi literasi. Hal tersebut dilakukan mengingat literasi menjadi penting dan tentu tidak bisa menjadi tanggung jawab dari pemerintah saja, tapi industri juga harus berperan besar.

"Literasi yang kami lakukan adalah kepada pekerja, nasabah, dan juga kepada masyarakat. Jadi intinya, kalau kita bicara target 2060, kami di BRI yakin bahwa itu akan bisa tercapai dengan kolaborasi dan dukungan dari seluruh para pemangku kepentingan," tegas Achmad. (TSA)

Topik Menarik