Keganjilan Sebelum G30SPKI hingga Mimpi Pahlawan Revolusi Ditusuk Tombak

Keganjilan Sebelum G30SPKI hingga Mimpi Pahlawan Revolusi Ditusuk Tombak

Nasional | BuddyKu | Sabtu, 30 September 2023 - 07:19
share

JAKARTA - Hari ini, 58 tahun silam Partai Komunis Indonesia (PKI) melancarkan Gerakan 30 September 1965. Peristiwa kelam itu menewaskan 6 jenderal dan satu perwira TNI.

Ada sebuah kisah di balik peristiwa berdarah itu, dari keluarga Mayjen TNI Mas Tirtodarmo Haryono atau MT Harjono, salah satu korban kebiadaban PKI. Keluarga merasakan firasat aneh terhadap perwira TNI kelahiran Surabaya, 20 Januari 1924 tersebut.

Sehari sebelum kejadian pada 30 September 1965 sore, anak-anak MT Haryono melihat ada barisan tentara dekat rumahnya. Salah satu dari mereka bertanya, di mana letak rumah MT Harjono. Sontak dengan spontan, mereka pun menunjuk rumah mereka sendiri.

Firasat lain juga dialami putri bungsu MT Haryono, Enda Marina. Saat itu, sang jenderal tengah sibuk menata bunga anggrek dengan mendengarkan musik klasik. Berbeda dari biasanya, Enda yang ingin mendekati sang Ayah, justru disuruh menjauh.

Perilaku ganjil buat Enda yang selama ini sangat dekat dengan ayahnya. Enda juga bermimpi di malam sebelum kejadian, ayahnya yang ditusuk tombak oleh beberapa orang misterius, hingga tak berdaya dan bersimbah darah.

Keganjilan lainnya yang dialami yakni sang jenderal yang tak pernah bicara politik dengan anak-anaknya di rumah dalam kesehariannya. Namun,pada suatu ketika, anak sulung MT Haryono, Harianto Harjono atau yang biasa disapa Babab, tiba-tiba diajak bicara soal politik oleh ayahnya.

Bahkan, dirinya mendapat sebuah wejangan atau cenderung seperti petuah terakhir MT Haryono pada anaknya.

Bab, kalau kamu sudah besar nanti, sebaiknya hindarilah berpolitik. Karena politik itu sangat berisiko. Politik itu menghalalkan segala cara. Selagi kamu berada dalam satu kelompok, kelompok itu akan menganggapmu sebagai teman, ucap MT Haryono pada Babab.

Tetapi begitu kamu berpisah, kamu akan dianggap sebagai musuh. Persahabatan dan kebajikan yang telah kamu lakukan di masa yang sudah-sudah, akan mereka lupakan. Makanya kamu tak perlu masuk politik. Masuk tentara boleh, tapi masuk politik, sekali lagi, jangan!, seru sang jenderal yang jadi pesan terakhir pada anaknya itu.

Pada malam jahanam itu, sekelompok pasukan Tjakrabirawa yang sudah terinfiltrasi gerakan politik PKI menyasarkan kebengisan mereka terhadap sejumlah perwira tinggi TNI AD.

Mayjen TNI MT Haryono sebelum kejadian di pagi buta pada 1 Oktober 1965, sedianya pejabat Deputi III Menpangad bidang Perencanaan dan Pembinaan itu, sudah mendapati firasat akan jadi target kekerasan golongan ekstrem kiri.

Bapak harus berjaga-jaga. Kabar mengenai rencana penculikan dan pembunuhan itu barangkali benar, ujar ajudan MT Haryono, dikutip dalam buku Tujuh Prajurit TNI Gugur: 1 Oktober 1965.

Buat apa? Saya dan keluargan tak perlu dijaga!, jawab MT Harjono tegas.

Sebagai seorang perwira tinggi TNI AD, rumah MT Haryono saat itu tanpa penjagaan sama sekali. Bahkan, dia tak pernah mau memanfaatkan fasilitas negara untuk melakukan pengamanan dengan tentara di rumahnya.

Pada 1 Oktober sekira pukul 04.00 pagi, rumah MT Harjono di Jalan Prambanan Nomor 8, Menteng, Jakarta Pusat itu didatangi segerombolan pasukan Tjakrabirawa.

Assalaamualaikum!, ujar Serma Bungkus, pimpinan gerombolan tersebut sembari mengetuk pintu.

Kala itu, yang membukakan pintu adalah istri sang jenderal, Mariatni. Dia pun bertanya maksud kedatangan para pria tegap berseragam dengan bersepatu lars itu.

Bung Karno memanggil bapak. Ada rapat penting yang harus dihadiri bapak sekarang juga, jawab Serma Bungkus.

Mariatni pun ingin membangunkan MT Haryono, namun gerombolan itu ikut masuk ke dalam rumah. Di luar ada tentara yang mengaku utusan Bung Karno. Mereka minta Ayah ikut mereka. Ada rapat penting di Istana Bogor, ujar Mariatni pada suaminya.

Tidak ada rapat pagi buta seperti ini, jawab MT Harjono.

Sang jenderal pun curiga dan menyuruh istri dan anak-anaknya untuk pindah dari kamar masing-masing ke tempat aman.

Kamu harus segera pindah kamar dan bangunkan anak-anak, karena mereka akan membunuh saya. Pindahlah ke kamar depat beserta anak-anak, ucap MT Harjono yang malangnya, itu jadi kalimat terakhir sang jenderal pada istrinya.

Tak lama setelah Mariatni memindahkan anak-anaknya, terdengar bunyi rentetan senjata yang ternyata, menembus tubuh MT Harjono. Tubuhnya diseret keluar rumah, dilempar ke dalam truk dan keluarga tak tahu lagi jasadnya dibawa entah ke mana.

Sementara Mariatni segera berusaha cari kontak dengan kerabat yang sialnya, kabel telefon rumah sudah diputus. Dia langsung bergegas ke rumah asisten intel Menpangad, Mayjen TNI Siswondo Parman dan kemudian ke rumah Menpangad Letjen Ahmad Yani. Namun, yang ia temui hal yang tak jauh berbeda dengan yang dialami suaminya.

Topik Menarik