Pengamat: Wacana Duet Prabowo dan Ganjar Hanya Ilusi, Mustahil Diwujudkan
JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago menilai wacana menduetkan Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo dalam satu paket pasangan capres-cawapres memiliki potensi untuk memenangkan Pilpres 2024 dengan lebih mudah dalam format duakandidat calon presiden.
Namun demikian, Pangi memandang wacana tersebut berpotensi menimbulkan kompleksitas terkait penentuan siapa calon presiden dan siapa yang akan menjadi wakilnya.
"Ini adalah persoalan rumit dan pelik karena akan berkaitan secara langsung dengan elektabilitas partai di tengah proses pemilu yang dilakukan secara serentak," kata Pangi dalam keterangan tertulis yang diterima Netralnews, Rabu (27/9/2023).
Pasalnya, menurut Pangi, PDIP sebagai pengusung Ganjar tentu tidak akan dengan mudah mengorbankan posisinya sebagai partai pemenang pemilu demi memuluskan langkah Prabowo dan Gerindra.
"Begitu pula dengan Gerindra yang akan berusaha semaksimal mungkin untuk memenangkan Prabowo sebagai calon presiden sekaligus mengantarkan keberhasilan legislatif bagi Gerindra sebagai partai pemenang pemilu," ujarnya.
Di sisi lain, sebutnya, jika format koalisi besar tidak terbentuk dan pada akhirnya ada tiga poros koalisi, maka hal ini akan menjadi dilema bagi kubu nasionalis (PDIP dan Gerindra) yang akan membuka peluang munculnya kuda hitam (Anies Baswedan) sebab jarak elektabilitasnya dengan Ganjar Pranowo tidak terpaut terlalu jauh.
Lebih lanjut, Pangi menyampaikan bahwa
merujuk data terbaru dari survei Voxpol Center menunjukkan belum ada kandidat dengan elektabilitas yang cukup meyakinkan, elektabilitas ketiga kandidat tidak terpaut terlalu jauh.
Dijelaskannya, dalam simulasi tiga nama Prabowo Subianto dengan elektabilitas 36,5% di posisi pertama, Ganjar Pranowo (30,4%) dan Anies Rasyid Baswedan (26,4%).
"Hasil survei ini menggambarkan bahwa ada potensi pemilu dilakukan dua putaran," ungkap Direktur Eksekutif Voxpol Center Research & Consulting itu.
Jika situasiini terjadi dan jika Anies berhasil masuk ke putaran kedua, tambah Pangi, maka peluang bakal capres dari Koalisi Perubahan itu untuk menang masih terbuka lebar. Perebutan suara di kalangan pemilih yang belum menentukan pilihan dan pergeseran suara pada putaran kedua adalah kunci kemenangan.
"Membaca kompleksitas ini pada akhirnya mengantarkan kita pada sebuah kesimpulan bahawa wacana ini hanyalah ilusi yang sangat mustahil untuk diwujudkan atau dengan kata lain wacana ini adalah kekhawatiran yang sangat berlebihan akan potensi dan ancaman kekalahan yang terus membayangi di depan mata," pungkasnya.








