Hikmah Dibalik Ibadah Haji: Kembali ke Fitrah, Menjadi Manusia Hakiki
AKURAT.CO Secara bahasa haji bermakna qasdu \' yang artinya \'menyengaja\'. Demikian dikatakan Shalih bin Muhammad bin Hasan al-Asmari dalam kitab Bughyat ar-Raghib fi Syarh Dalil ath-Thalib . Secara istilah, haji berarti bermaksud atau menyengaja ke tempat agung dan mulia yaitu tanah suci Mekkah untuk melakukan amalan-amalan tertentu.
Dari aspek sufistik, haji berarti mengajak manusia untuk selalu menuju dan sadar bahwa ia adalah hamba Allah dan akan kembali kepada-Nya. Kesadaran ini mestinya selalu tertanam dalam sanubari umat Islam yang menjalankan rukun Islam kelima itu agar ia menggapai kebahagiaan hakiki.
Haji mengajarkan manusia untuk selalu kembali dan ingat kepadanya. Karena dunia yang disinggahi manusia sifatnya mengelabuhi. Agoes Noer Che, dalam buku Manusia Mengeluh Al-Quran Menjawab, menyatakan sesungguhnya gegap-gempita dan kesenangan dunia sifatnya menipu dan melalaikan manusia dari kehidupan akhirat.
Konsekuensi dari kesadaran mengingat Allah SWT yang terus dipupuk dapat menghantarkan jemaah haji menjadi manusia yang hakiki. Oleh karena itu dalam sebuah hadits dikatakan orang yang berhaji dan tidak mengatakan kata-kata kotor serta tidak durhaka ia kembali suci seperti bayi yang baru lahir dari rahim ibunya.
Dari sahabat Abu Hurairah RA, dari Nabi Muhammad Saw, ia bersabda: Siapa saja yang berhaji, lalu tidak berkata keji dan tidak berbuat dosa, niscaya ia pulang (suci) seperti hari dilahirkan oleh ibunya, (HR Bukhari, Muslim, An-Nasai, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah).
Bila seseorang suci tanpa dosa tiada yang ia dapatkan kecuali kenikmatan surga. Kesucian fitrah, seperti yang pernah Rasulullah sabdakan kepada umat-Nya, akan menghantarkan seseorang kepada kesucian tempat yang abadi; surga.
Dari sahabat Abu Hurairah RA, dari Nabi Muhammad Saw, ia bersabda, Umrah ke umrah merupakan kafarah (dosa) di antara keduanya. Sedangkan haji mabrur tiada balasan baginya kecuali surga, (HR Malik, Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, Al-Asbihani).
Pada akhirnya hikmah dibalik ibadah haji seyogyanya terus mengingatkan seseorang kepada pencipta-Nya. Menyadarkan setiap saat bahwa ia adalah hamba-Nya. Kesadaran ini dapat membentuk pribadi yang hakiki, suci dan fitrah dari segala dosa dan kesalahan.[]
