Pemilu Israel Memanas, Netanyahu Dikecam usai Tuding Partai Arab Curang
TEL AVIV, iNews.id - Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu menuai kecaman dari pemimpin oposisi Gadi Eisenkot dan sejumlah pemimpin partai Arab. Kecaman datang setelah Netanyahu menuding adanya campur tangan asing dalam pemilihan umum yang membuat koalisinya kehilangan mayoritas kursi di parlemen.
Dilansir dari BBC, Partai Likud pimpinan Netanyahu menuduh partai-partai yang dipimpin kelompok Arab di Israel telah mencuri pemilu. Badan keamanan dalam negeri Israel, Shin Bet, kini menyelidiki dugaan pendanaan ilegal dari Qatar dan Turki kepada partai-partai tersebut.
Kementerian Luar Negeri Qatar membantah tuduhan itu dan menyebutnya sebagai klaim konyol dan berbahaya. Doha juga menuding para politisi Israel melancarkan kampanye disinformasi terhadap Qatar.
Hasil akhir pemilu menunjukkan tidak ada blok yang berhasil meraih mayoritas di Knesset, parlemen Israel yang memiliki 120 kursi. Dua aliansi partai Arab, yakni Joint List dan Ra'am, melampaui ekspektasi dengan meraih total 19 kursi setelah tingkat partisipasi pemilih Arab meningkat.
Hasil tersebut menempatkan kedua aliansi sebagai penentu dalam pembentukan pemerintahan berikutnya. Blok Netanyahu memperoleh 53 kursi, sedangkan blok oposisi yang dipimpin Gadi Eisenkot mengamankan 48 kursi.
Sesuai protokol pembentukan pemerintahan Israel, presiden akan menunjuk pemimpin partai yang dinilai memiliki peluang terbesar untuk membentuk pemerintahan mayoritas. Kandidat pertama memiliki waktu hingga 42 hari untuk memenuhi mandat tersebut.
Jika gagal, tugas itu dapat dialihkan kepada kandidat kedua yang diberi waktu 28 hari. Apabila kandidat kedua juga tidak berhasil, kesempatan selama 14 hari akan diberikan kepada kandidat ketiga.
Jika seluruh tahapan berakhir tanpa pembentukan pemerintahan, pemilu baru akan digelar.
Likud Tuduh Ada Campur Tangan Asing
Pada Kamis (29/10/2026), Partai Likud menuding para pemilih telah disuap untuk memberikan suara kepada partai-partai Arab. Tuduhan tersebut muncul setelah ketua Komite Pemilihan Umum Pusat (CEC) meminta Shin Bet menyelidiki dugaan campur tangan asing yang disebut memiliki kecurigaan serius.
Kedua partai Arab dengan tegas menolak tuduhan tersebut. Aliansi Joint List menyatakan klaim itu tidak berdasar.
Menurut para pengkritik Netanyahu, perselisihan tersebut berpotensi menjadi upaya untuk mendelegitimasi partai-partai Arab. Situasi ini juga dapat menyulitkan Eisenkot menjalin kerja sama dengan mereka, padahal dukungan partai-partai Arab menjadi salah satu jalan bagi blok oposisi untuk membentuk pemerintahan.
Media Israel melaporkan CEC menerima klaim Qatar memberikan pendanaan untuk meningkatkan partisipasi pemilih di komunitas Arab. Namun, Kementerian Luar Negeri Qatar secara tegas membantah tuduhan tersebut.
Netanyahu dan Partai Likud menyebut persoalan itu sebagai gempa politik dan serangan terhadap demokrasi yang bertujuan menggulingkan pemerintahan sayap kanan mereka.
Di sisi lain, Shin Bet mengklarifikasi penyelidikan tidak menyasar seluruh komunitas yang telah memberikan suara secara sah. Pelaksana Tugas Direktur Jenderal CEC, Dean Livne, juga menyatakan tidak ada dasar untuk tuduhan mengenai pelanggaran sistematis terhadap integritas pemilu.
Eisenkot, yang telah menerima penjelasan mengenai penyelidikan tersebut, meminta agar kesimpulan tidak diambil terlalu dini.
"Terlalu dini untuk menentukan apa yang sebenarnya terjadi, atau apakah memang ada sesuatu yang terjadi," kata Eisenkot.
Dia juga menuduh Netanyahu menjalankan kampanye yang diatur dan terorganisasi untuk mendelegitimasi hasil pemilu.
Sementara itu, Ketua Partai Balad, Sami Abu Shehadeh, yang merupakan bagian dari koalisi Joint List, turut menepis tuduhan tersebut.
"Pihak yang kalah sedang menyebarkan fitnah rasis yang keji dan mendesak badan-badan keamanan untuk menggunakan kekerasan demi membatalkan hasil pemilu," ujarnya.









