Wall Street Rebound dari Pekan Terburuk Sejak Juni, Nasdaq Melonjak 1,1 Persen
IDXChannel - Pasar saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, ditutup menguat pada Senin (19/10/2026), pulih setelah aksi jual tajam pada sektor kecerdasan buatan (AI) yang menyebabkan kinerja mingguan terburuk sejak akhir Juni.
Para investor kini mengalihkan perhatian mereka pada gelombang laporan laba kuartalan yang akan mulai dirilis minggu ini. Hal itu mendorong tiga indeks utama ditutup menguat.
Indeks acuan S&P 500 naik 0,4 persen dan ditutup pada level 7.692,64 poin, sementara indeks NASDAQ Composite yang didominasi saham teknologi melonjak 1,1 persen ke posisi 26.430,89 poin. Indeks saham unggulan (blue-chip) Dow Jones Industrial Average turun tipis 0,1 persen dan berakhir di level 51.966,60 poin.
"Fluktuasi tajam pada saham-saham yang terkait dengan AI mencerminkan kondisi pasar yang berada di antara antusiasme jangka panjang yang sangat besar dan pengawasan yang semakin ketat terhadap aspek ekonomi jangka pendek. Sektor AI kini beralih dari fase 'janji' menuju fase 'pembuktian'," ujar kepala strategi sekaligus mitra di BakerAvenue Wealth Management, King Lip, kepada Investing.com.
Lebih lanjut, dia mengatakan volatilitas itu sendiri tidak selalu buruk bagi Wall Street. Hal ini menunjukkan bahwa pasar menjadi lebih disiplin. Investor tidak lagi bersedia memperlakukan setiap perusahaan yang mengusung narasi AI dengan cara yang sama.
“Fokus kini bergeser dari sekadar 'membeli berdasarkan tema' menjadi 'tunjukkan imbal hasilnya'," tambahnya.
Sektor AI Jadi Sorotan Utama
Saham-saham yang terkait dengan AI—mulai dari perusahaan memori hingga semikonduktor—anjlok pekan lalu. Sentimen pasar terpukul akibat kekhawatiran mengenai persaingan dari perusahaan China serta pendanaan masif yang didorong oleh utang.
Aksi jual dipicu oleh laporan mengenai kemajuan yang dicapai oleh perusahaan China, ChangXin Memory Technologies. Berita tersebut menekan saham tiga produsen cip memori terbesar: saham perusahaan AS, Micron Technology, anjlok 14,6 persen sepanjang minggu, sementara saham perusahaan Korea Selatan, Samsung Electronics dan SK Hynix, masing-masing merosot 17,8 persen dan 24,3 persen.
Selain itu, saham-saham perusahaan yang dikenal sebagai neocloud juga turut berada di bawah tekanan. Penyedia layanan komputasi awan (cloud computing) khusus ini berfokus pada penyewaan daya unit pemrosesan grafis (GPU) untuk keperluan pelatihan dan inferensi kecerdasan buatan (AI). Sebuah laporan dari Gartner memprediksi bahwa pada 2030, 80 persen penyedia layanan cloud jenis baru (neocloud) diperkirakan berhenti beroperasi secara independen.
CoreWeave, penyedia layanan neocloud terbesar yang didukung oleh Nvidia, mengalami penurunan nilai lebih dari 25 persen pada pekan lalu, yang sebagian dipicu oleh anjloknya harga obligasi mereka. Penurunan ini mendorong pimpinan tertinggi Nvidia, Jensen Huang, untuk menyatakan keyakinannya terhadap posisi keuangan CoreWeave, seraya menegaskan bahwa perusahaan tersebut tidak memerlukan dukungan pendanaan tambahan (backstop). Nebius, perusahaan sejenis CoreWeave, juga mencatat penurunan lebih dari 25 persen sepanjang pekan tersebut.
Sementara itu, saham-saham sektor chip menjadi salah satu yang paling terdampak. Indeks Semikonduktor Philadelphia (Philadelphia Semiconductor Index) mencatatkan penurunan selama delapan sesi berturut-turut hingga Jumat—rentetan penurunan terpanjang sejak Oktober 2008.
"Pengembangan infrastruktur AI saat ini tidak lagi kebal terhadap suku bunga. Pendanaannya kini semakin bergantung pada peningkatan utang dan penerbitan ekuitas, alih-alih menggunakan arus kas bebas dari segelintir perusahaan saja. Realitas ini mulai tercermin pada harga obligasi yang diterbitkan oleh banyak perusahaan pembangun infrastruktur AI dalam beberapa minggu terakhir," ujar Chief Investment Officer di Northwestern Mutual Wealth Management, Brent Schutte.
"Peringatan paling jelas datang dari CoreWeave," katanya, seraya menambahkan bahwa aksi jual obligasi perusahaan neocloud tersebut menandakan bahwa para pemberi pinjaman "menuntut kompensasi yang jauh lebih besar atas risiko dalam mendanai pengembangan infrastruktur AI."
Menurut Schutte, hal itu menjadi penting karena investasi terkait AI telah memberikan dukungan signifikan bagi pertumbuhan ekonomi AS belakangan ini, sementara kenaikan pasar yang dipicu oleh lonjakan AI turut meningkatkan kekayaan rumah tangga serta belanja konsumen.
Laporan mengenai melambatnya pertumbuhan pendapatan di Anthropic, salah satu laboratorium terdepan dalam pengembangan AI, turut memperburuk sentimen pasar pekan lalu.
Gelombang Laporan Laba Dimulai
Perhatian Wall Street kini tertuju pada gelombang laporan laba kuartal ketiga (Q3) yang akan dimulai pekan ini dan diperkirakan semakin intensif hingga paruh pertama November. Agenda pekan ini akan diwarnai oleh laporan kuartalan kedua SpaceX sebagai perusahaan publik pada Selasa, bersamaan dengan rilis data terbaru dari Netflix. Pada Rabu, giliran Meta Platforms dan Tesla yang akan menyampaikan laporan kinerja mereka.
Bagi SpaceX, para investor akan mencari bukti lebih lanjut apakah perusahaan roket tersebut mampu memenuhi ekspektasi yang tercermin dari valuasi masifnya; komentar dari CEO Elon Musk pun akan disimak dengan saksama. Sementara untuk Tesla, kekuatan pada bisnis inti kendaraan listrik akan menjadi sorotan utama.
Terkait SpaceX, pada Senin, Musk berjanji untuk memberikan satu lembar saham kepada setiap anak di Amerika Serikat tahun depan. Komitmen ini bernilai sekitar USD10,5 miliar, berdasarkan harga penutupan saham pada Jumat dan jumlah penduduk AS berusia di bawah 18 tahun yang mencapai sekitar 72 juta jiwa menurut Biro Sensus AS.
Di sisi lain, laporan keuangan Netflix akan diamati untuk melihat bagaimana pelopor layanan streaming ini berencana mengatasi perlambatan pertumbuhan serta meningkatnya biaya konten.
Perusahaan tersebut baru saja mengumumkan pemangkasan jumlah karyawan terbesar dalam lebih dari empat tahun terakhir. Selain itu, laporan dari Meta akan dicermati untuk melihat perkembangan terkini terkait Muse, agen kecerdasan buatan (AI) yang sangat populer dari raksasa media sosial tersebut.
"Bukti profitabilitas menjadikan musim laporan laba kali ini sangat krusial. Dengan harga saham yang mendekati rekor tertinggi dan valuasi yang tinggi, perusahaan tidak bisa hanya sekadar melampaui ekspektasi. Mereka harus memberikan panduan (proyeksi) yang kredibel, menjaga margin keuntungan, serta menunjukkan bahwa investasi di bidang AI benar-benar menghasilkan imbal hasil yang terukur," ujar Lip dari BakerAvenue Wealth Management kepada Investing.com.
Dia mengatakan laba yang kuat dapat mendorong pasar kembali ke rekor tertinggi sepanjang masa, terutama jika pertumbuhan laba tidak hanya terbatas pada segelintir perusahaan teknologi berkapitalisasi pasar sangat besar (mega-cap). Namun, jika belanja modal terus meningkat lebih cepat daripada imbal hasil yang diharapkan, investor mungkin mulai mempertanyakan apakah valuasi saat ini sudah melampaui fundamental yang ada.
"Antusiasme terhadap AI telah membantu membawa pasar ke titik saat ini. Realisasi laba akan menentukan apakah pasar dapat bertahan di level tersebut atau bahkan bergerak lebih tinggi lagi," tambah Lip.
(Febrina Ratna Iskana)









