IDAI Angkat Bicara soal Bayi Alena Meninggal Dunia usai Diberi Telur Mentah
JAKARTA, iNews.id - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) angkat bicara menyusul kasus meninggalnya bayi Alena yang berusia 28 hari setelah sebelumnya dikabarkan mengalami demam dan diduga diberikan telur mentah oleh neneknya.
IDAI mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan memberikan makanan kepada bayi, terutama yang belum genap berusia enam bulan. Terlebih memberikan telur mentah, karena sangat berbahaya bagi kesehatan bayi.
Dalam pernyataan resminya, IDAI menegaskan bahwa pemberian makanan kepada bayi harus memperhatikan usia, kebutuhan gizi, kesiapan perkembangan, serta keamanan pangan. Telur mentah atau setengah matang tidak dianjurkan untuk diberikan kepada bayi dan anak karena berisiko mengandung bakteri penyebab infeksi.
Ketua Pengurus Pusat IDAI dr Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp Kardio(K), menjelaskan bahwa telur mentah atau setengah matang dapat mengandung bakteri Salmonella yang menyebabkan infeksi saluran cerna atau salmonelosis.
Link Live Streaming Persija Jakarta vs Persib Bandung di Super League 2026-2027, Klik di Sini!
Infeksi tersebut dapat menimbulkan berbagai gejala, mulai dari diare, demam, nyeri perut, muntah, hingga dehidrasi. Pada bayi dan anak kecil, infeksi dapat berlangsung lebih berat dan berpotensi menimbulkan komplikasi serius.
Meski demikian, penjelasan IDAI mengenai risiko telur mentah ini merupakan edukasi kesehatan bagi masyarakat. Belum ada keterangan medis yang memastikan bahwa telur mentah menjadi penyebab langsung kematian bayi Alena.
Kasus Alena sebelumnya menjadi perhatian publik setelah bayi berusia 28 hari itu menjalani perawatan intensif di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, Jawa Timur. Dia dinyatakan meninggal dunia pada Minggu (11/10/2026) pukul 07.10 WIB.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak sebelumnya menyampaikan bahwa berdasarkan informasi yang diterimanya dari rumah sakit, Alena mengalami infeksi serius pada saluran pencernaan. Namun, keterkaitan kondisi tersebut dengan makanan yang dikonsumsi Alena perlu dijelaskan oleh tim medis.
IDAI Tegaskan Bayi di Bawah 6 Bulan Cukup Mendapatkan ASI
Selain mengingatkan bahaya telur mentah, IDAI menegaskan pentingnya pemberian makanan sesuai usia bayi. Mengacu pada rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ASI eksklusif dianjurkan selama enam bulan pertama kehidupan.
Bayi yang belum mendapatkan makanan pendamping ASI (MPASI) tidak memerlukan makanan atau minuman lain, termasuk air putih, jus, kaldu, maupun bahan makanan yang diencerkan.
Apabila ASI tidak memungkinkan untuk diberikan atau terdapat indikasi medis tertentu, susu formula bayi dapat digunakan sesuai penilaian dan anjuran tenaga kesehatan.
IDAI menjelaskan, MPASI secara umum mulai diberikan ketika bayi berusia enam bulan. Pada usia tersebut, kebutuhan energi dan zat gizi bayi mulai melampaui jumlah yang dapat dipenuhi oleh ASI saja.
Dalam kondisi tertentu, MPASI dapat dipertimbangkan sejak usia empat bulan atau 17 minggu. Namun, hal ini bukan rekomendasi rutin dan harus berdasarkan penilaian dokter serta kesiapan perkembangan bayi.
Pemberian MPASI sebelum usia empat bulan tidak dianjurkan.
Kesiapan bayi menerima makanan juga tidak cukup dinilai dari usianya. Bayi perlu memiliki kemampuan mengendalikan posisi kepala dan leher, mampu duduk dengan bantuan dalam posisi yang memadai, serta menunjukkan koordinasi gerakan mulut dan kemampuan menelan makanan.
Pemberian makanan yang tidak sesuai dengan usia, kemampuan menelan, atau tekstur yang dapat ditoleransi bayi berisiko meningkatkan kemungkinan tersedak, aspirasi, dan gangguan pemberian makan.





