Wamendikdasmen Tegaskan Ekskul Korps Kadet Pilihan: yang Wajib Pramuka

Wamendikdasmen Tegaskan Ekskul Korps Kadet Pilihan: yang Wajib Pramuka

Berita Utama | inews | Rabu, 23 September 2026 - 15:49
share

JAKARTA, iNews.id - Fatty liver atau perlemakan hati kini tidak hanya menjadi masalah kesehatan yang ditemukan pada kelompok usia lebih tua. 

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Primaya Hospital Tangerang, dr Nareswara Anugrah Widi Marbun, Sp.PD, mengungkapkan, kondisi tersebut sudah ditemukan pada pasien berusia 20-an, termasuk kelompok Gen Z.

Menurut dr Nareswara, dalam praktiknya dia menemukan pasien berusia sekitar 25 tahun ke atas yang mengalami perlemakan hati. Bahkan, ada pasien berusia 29 tahun yang sudah mengalami kondisi tersebut.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Primaya Hospital Tangerang, dr Nareswara Anugrah Widi Marbun, Sp.PD. (Foto: Muhammad Sukardi)

"Kalau di praktik sih sudah ada, ya. Usia-usia 25 ke atas, 28 tuh udah ada. Pasien saya kayaknya ada juga yang usia 29 tuh sudah perlemakan hati," kata dr Nareswara kepada iNews.id saat ditemui di Primaya Fair 2026 di AEON Mall BSD, Tangerang, Rabu (23/9/2026). 

Dia menjelaskan, salah satu pasien muda yang mengalami fatty liver tersebut memiliki kondisi tubuh obesitas. Pasien itu juga menjalani aktivitas yang cenderung sedentari, karena pekerjaan yang mengharuskannya duduk dalam waktu lama.

"Secara fisik sih memang ini pasiennya obese, emang gemuk. Terus emang dia kerjanya juga banyak duduk. Karena dia punya toko, dia jaga sendiri. Jadi dia dari pagi sampai malam, ya, duduk saja gitu," tuturnya.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena fatty liver atau dalam istilah medis yang kini banyak digunakan, metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease (MASLD), merupakan kondisi ketika terjadi penumpukan lemak di hati yang berkaitan dengan gangguan metabolisme. Kondisi ini dapat terjadi pada berbagai kelompok usia, termasuk usia muda.

Gaya Hidup Gen Z Jadi Sorotan

Dokter Nareswara menilai perubahan pola hidup turut berperan dalam bergesernya usia munculnya sejumlah penyakit metabolik.

Menurut dia, saat ini masyarakat lebih mudah menemukan makanan dan minuman tinggi gula. Tren minuman manis, kopi dengan tambahan gula, serta makanan yang sedang viral membuat konsumsi jenis makanan dan minuman tersebut menjadi lebih mudah dilakukan berulang kali.

"Mungkin karena hal ini juga menyebabkan adanya pergeseran populasi. Jadi penyakit-penyakit yang biasanya muncul di usia 40-an, sekarang usia 20-an juga bisa ada," ujarnya.

Kebiasaan kurang bergerak juga menjadi persoalan. Gaya hidup sedentari, terutama ketika seseorang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk duduk, dapat membuat pengeluaran energi menjadi rendah.

Selain itu, pola makan tinggi gula dan konsumsi minuman berpemanis termasuk faktor yang dapat meningkatkan risiko masalah metabolik. 

NIDDK menyebut kelebihan berat badan atau obesitas, resistensi insulin atau diabetes tipe 2, kadar trigliserida tinggi, kolesterol abnormal, sindrom metabolik, kurang aktivitas fisik, pola makan tinggi gula, serta konsumsi minuman berpemanis sebagai sejumlah faktor yang berkaitan dengan risiko fatty liver.

WHO juga menyoroti konsumsi minuman berpemanis dan makanan yang tidak sehat sebagai bagian dari faktor risiko berbagai penyakit tidak menular, termasuk obesitas dan diabetes. 

Lebih lanjut, dr Nareswara mengingatkan kelompok usia muda agar tidak merasa terlalu aman hanya karena masih memiliki metabolisme yang relatif baik.

Menurut dia, tubuh memang memiliki kemampuan untuk melakukan kompensasi ketika menghadapi pola hidup yang kurang sehat. Namun, kemampuan tersebut memiliki batas.

"Kalau usia muda itu biasanya memang metabolismenya lebih bagus. Lebih cepat. Jadi sebenarnya badan bisa kompensasi lebih bagus. Tapi jangan tunggu sampai kompensasinya itu overload," kata dia.

Dia pun memberikan perumpamaan yang dekat dengan anak muda agar tidak sengaja menguji batas kemampuan tubuh dengan pola makan dan gaya hidup yang tidak sehat.

"Kalau anak zaman sekarang, istilahnya tuh jangan adu mekanik sama badan. Jadi ngetes-ngetes," ujarnya.

Menurut dr Nareswara, perubahan gaya hidup dapat dimulai dari hal sederhana, seperti memperbaiki pola makan dan mulai rutin berolahraga bagi mereka yang selama ini jarang bergerak.

"Kalau misalnya udah ngerasa kok perutnya sudah mulai gemuk, atau misalnya udah ngerasa kok saya dibandingkan teman saya, kalau naik tangga saya sudah mulai capek, itu sudah lampu kuning lah. Sudah mulai kayak peringatan. Kayaknya harus ada yang diubah dari hidup saya," katanya.

Topik Menarik