Kabut Asap Karhutla di Pontianak Berstatus Bahaya, Kemenkes Ungkap Indeks Pencemaran Udara Tembus 328
JAKARTA, iNews.id - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, berada dalam kondisi mengkhawatirkan. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di wilayah tersebut mencapai 328 dan masuk kategori berbahaya.
Data tersebut tercantum dalam laporan Update Penanganan Karhutla dan Gempa Flores Kemenkes per 28 Agustus 2026. Berdasarkan data ISPU per 27 Agustus 2026 pukul 16.26, Pontianak menjadi wilayah dengan tingkat pencemaran udara paling parah di antara sejumlah kabupaten/kota yang terdampak karhutla.
Dalam laporan tersebut, terdapat 25 kabupaten/kota di tujuh provinsi yang mengalami dampak pencemaran udara akibat karhutla. Ketujuh provinsi tersebut yakni Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan.
Dari data tersebut, 16 wilayah tercatat memiliki status ISPU tidak sehat. Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, menjadi wilayah dengan nilai tertinggi pada kategori tersebut, yakni 183.
Kemudian Banjarmasin, Kalimantan Selatan dengan nilai ISPU 182, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat 171, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan 158, Palembang, Sumatera Selatan 139, serta wilayah WT KpIKN IKN, Kalimantan Timur 137.
Selanjutnya Kabupaten Pelalawan, Riau memiliki nilai ISPU 127, Kabupaten Mura, Sumatera Selatan 123, Mobile AQMS BPBD Kalimantan Tengah 122, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan 122, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan 113, Kabupaten Rokan Hilir, Riau 112, Pekanbaru 111, Kabupaten Kampar 111, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat 104, dan Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat 103.
Selain itu, terdapat delapan wilayah dengan status ISPU sangat tidak sehat. Kabupaten Tebo, Jambi mencatat nilai tertinggi dalam kategori ini dengan angka 287.
Disusul Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah 274, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah 258, Kabupaten PALI, Sumatera Selatan 255, Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah 237, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Barat 230, Kota Prabumulih, Sumatera Selatan 229, serta Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah 219.
Sementara itu, Kota Pontianak menjadi satu-satunya wilayah yang tercatat memiliki status ISPU berbahaya. Nilai ISPU di wilayah tersebut mencapai 328.
Kondisi tersebut berpotensi memberikan dampak terhadap kesehatan masyarakat. Paparan asap karhutla dapat meningkatkan risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), asma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), gangguan pernapasan, serta iritasi mata dan kulit.
Tidak hanya itu, paparan polusi udara juga berisiko memperburuk penyakit sistemik seperti penyakit jantung, stroke, dan tekanan darah tinggi. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma atau PPOK, serta pekerja luar ruangan perlu mendapat perhatian lebih.
Asap karhutla mengandung berbagai polutan berbahaya, termasuk partikel halus PM2.5, karbon monoksida (CO), nitrogen dioksida (NO₂), serta senyawa organik beracun. Zat-zat tersebut dapat masuk ke saluran pernapasan dan memicu berbagai gangguan kesehatan.
Kemenkes Siagakan Layanan Kesehatan
Mengantisipasi dampak kesehatan akibat karhutla, Kemenkes telah melakukan sejumlah langkah promotif dan preventif. Upaya tersebut meliputi edukasi kepada masyarakat mengenai pengurangan risiko krisis kesehatan akibat karhutla.
Kemenkes juga melakukan pemantauan terhadap penyakit yang berkaitan dengan kebakaran hutan, seperti ISPA, pneumonia, asma, iritasi mata, dan iritasi kulit.
Selain itu, surveilans kualitas udara dalam ruang serta dampak kesehatan di permukiman pada wilayah berisiko karhutla turut dilakukan. Kemenkes juga telah menerbitkan Surat Kewaspadaan Karhutla bagi Dinas Kesehatan dan fasilitas kesehatan.
Dari sisi kesiapsiagaan, pemerintah menyiagakan Public Safety Center (PSC) 119 dan Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) di berbagai wilayah terdampak.
Kemenkes juga menyiapkan pos pelayanan kesehatan di 1.691 puskesmas, 360 rumah sakit rujukan, dan 87 Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas) untuk pengujian kualitas udara.
Selain itu, sebanyak 18.457 dokter umum, 280 dokter spesialis mata, 189 dokter spesialis paru, 212 DVE, dan 238 dokter spesialis THT disiapkan untuk mendukung penanganan dampak kesehatan akibat karhutla.









