Peluang Kerja Sama Terbuka, Fintech Beberkan Tantangan Kolaborasi dengan Bank Daerah
IDXChannel - Industri fintech peer-to-peer (P2P) lending legal atau pinjaman daring (pindar) di Indonesia terus bertumbuh. Hal ini menjadikannya tidak terpisahkan dari sistem jasa keuangan nasional.
Mengutip data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Juni 2026, outstanding pembiayaan pindar telah mencapai Rp105,14 triliun, tumbuh 25,88 persen secara tahunan (year-on-year) dengan 26,91 juta rekening peminjam aktif.
Berbagai langkah ditempuh oleh industri pindar untuk tidak lagi sekadar alternatif pembiayaan, melainkan menjadi salah satu pilar penting dalam ekosistem jasa keuangan nasional.
Dalam hal ini, PT Plus Ultra Abadi (Uatas) menyatakan terbuka dengan berbagai skema kerja sama pada mitra strategis khususnya perbankan daerah yang mendukung bertumbuhnya bisnis ke depan.
Hal tersebut dipaparkan dalam kegiatan Fintech Lending Days 2026 sesi Banking Partnership Forum: Strengthening Collaboration Between Pindar and Regional Banking Ecosystem, belum lama ini.
Direktur Pengembangan Bisnis Uatas Shintya Maulida mengatakan, kolaborasi dengan Bank Perekonomian Rakyat (BPR)/Bank Pembangunan Daerah (BPD) memiliki value yang sangat strategis. Sebab, masing-masing subsektor akan memiliki kekuatan dan keunggulan yang jika dijalankan bersama akan saling melengkapi.
“Pada prinsipnya kami melihat partnership ini bukan sebagai kompetisi antar-subsektor, tetapi sebagai kombinasi capabilities untuk memberikan akses pembiayaan yang lebih tepat, efisien, dan sustainable,” katanya melalui siaran pers, Kamis (27/8/2026).
Keuntungan bagi Uatas sebagai platform pindar, kata dia, pihaknya memiliki kemampuan dari sisi teknologi, data, serta proses pembiayaan yang berbasis digital sehingga efisien. Sementara, BPR/BPD memiliki keunggulan dalam pemahaman karakteristik ekonomi lokal, terutama para calon nasabah.
Alhasil, kata Shintya, partnership ini bukan sekadar menambah channel atau peningkatan penyaluran, tetapi bagaimana masing-masing pihak dapat memanfaatkan kekuatannya untuk menciptakan akses pembiayaan yang lebih tepat sasaran.
“Dari kami, akan dapat melihat peluang untuk memperluas akses kepada segmen underserved, khususnya masyarakat dan pelaku usaha produktif yang memiliki kebutuhan pembiayaan tetapi belum sepenuhnya terlayani oleh pembiayaan formal. Di saat yang sama, kolaborasi dengan perbankan daerah juga dapat memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai karakteristik customer dan kebutuhan pembiayaan di masing-masing wilayah,” ujarnya.
Dengan demikian, partnership dapat menciptakan mutual value akses dan kapabilitas digital dari pindar dikombinasikan dengan local knowledge serta jaringan perbankan daerah.
"Pada akhirnya, yang ingin dibangun bukan hanya pertumbuhan volume pembiayaan, tetapi pertumbuhan yang berkualitas dan berkelanjutan, khususnya untuk mendukung sektor produktif dan UMKM di daerah," kata dia.
Sedangkan dari sisi bottleneck, Shintya menyampaikan, dalam membangun partnership lintas institusi, bukan hanya pada aspek bisnis, tetapi juga bagaimana menyelaraskan proses, data, risk appetite, governance, dan ekspektasi masing-masing pihak.
Menurutnya, setiap institusi tentu memiliki framework, sistem, dan pendekatan risk management yang berbeda. Sehingga, ketika masuk ke dalam satu partnership, tantangannya adalah bagaimana memastikan seluruh proses tersebut dapat terintegrasi tanpa mengurangi standar tata kelola masing-masing pihak.
“Salah satu hal yang menurut kami penting adalah alignment sejak tahap awal. Sebelum masuk ke implementasi, kedua pihak perlu memiliki pemahaman yang sama mengenai target customer, skema pembiayaan, pembagian peran dan tanggung jawab, mekanisme data sharing, risk ownership, hingga bagaimana customer akan dilayani ketika terjadi suatu issue,” katanya.
Dari sisi teknologi, interoperabilitas juga menjadi faktor penting. Sistem yang berbeda perlu dapat berkomunikasi dengan baik, sehingga proses tidak menjadi lebih kompleks hanya karena terdapat dua institusi di dalam satu perjalanan.
Karena itu, Uatas melihat solusi untuk memecahkan bottleneck tersebut adalah membangun partnership secara bertahap. Bisa dimulai dari pilot project dengan scope yang jelas, kemudian dilakukan evaluasi terhadap performance, kualitas portofolio, operational process, maupun customer experience sebelum diperluas.
"Dengan pendekatan tersebut, partnership tidak hanya dibangun berdasarkan business opportunity, tetapi juga berdasarkan trust, transparency, dan shared risk management," ujarnya.
(Dhera Arizona)









