Mantan Kepala Badan Anti-Teror Sebut AS Abaikan Temuan Intelijen soal Serang Iran
WASHINGTON, iNews.id - Joe Kent, mantan kepala badan anti-terorisme nasional Amerika Serikat (AS) yang mundur dari jabatannya tahun ini, kembali berkicau. Dia mengungkap pemerintahan Presiden Donald Trump mengabaikan penilaian intelijen soal perang Iran.
Hasil penelusuran seluruh komunitas intelijen AS, termasuk CIA, mengungkap Iran tidak sedang mengembangkan senjata nukklir.
Kent juga mengulangi pandangannya, Israel menyeret AS ke dalam konflik tak berujung, yang pada dasarnya tidak memiliki hubungan dengan kepentingan AS.
Dia menambahkan, badan-badan intelijen juga memperingatkan Iran akan menyerang pangkalan-pangkalan militer AS di seluruh Timur Tengah serta memblokade Selat Hormuz jika diserang lebih dulu, termasuk oleh Israel.
"(Tapi) Narasi dan agenda yang diputarbalikkan oleh pemerintah asing, Israel, memenangkan argumen dan memaksa kita masuk dalam perang ini," kata Kent.
Mantan perwira CIA itu menambahkan, Trump menjadi korban kampanye disinformasi Israel yang menggambarkan Iran sebagai ancaman.
Update Ranking FIVB Timnas Voli Indonesia Usai Juara AVC Mens Volleyball Cup 2026: Melesat Tajam!
Kebohongan serupa digunakan Israel untuk menyeret AS ke dalam Perang Irak pada 2003.
Namun Trump menolak tuduhan itu dan bersikeras Israel tidak pernah membujuknya untuk berperang melawan Iran.
“Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir,” ujar Trump, dalam satu kesempatan.
AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari, memicu serangan balasan Teheran terhadap pangkalan-pangkalan AS di delapan negara Arab.
Bukan hanya itu, Iran juga memblokade Selat Hormuz, memicu gangguan pasokan energi global, menyebabkan lonjakan harga minyak dunia ke rekor baru sejak pandemi Covid-19.









