Psikolog Ungkap Bahaya Labeling pada Anak, Disebut Nakal hingga Pemalas Bisa Terbawa hingga Dewasa!
KEBIASAAN orangtua memberikan label negatif kepada anak, seperti menyebut “bodoh”, “malas”, atau “nakal” ketika melakukan kesalahan, ternyata dapat memberikan dampak besar pada anak. Utamanya terhadap perkembangan psikologis anak.
Meski sering kali dilakukan dengan tujuan agar anak berubah menjadi lebih baik, ucapan tersebut justru berpotensi membentuk citra diri negatif pada anak. Karena itu, orangtua perlu hati-hati dalam menuturkan ucapan kepada anak.
1. Labeling Orangtua ke Anak
Psikolog, Maria Ulfah, M.Psi, dalam acara Morning Zone yang tayang di Youtube Okezone menjelaskan bahwa dalam psikologi terdapat istilah labeling. Istilah ini berarti proses ketika seseorang memberikan cap atau identitas tertentu kepada anak secara berulang.
Menurutnya, ucapan orangtua memiliki pengaruh besar terhadap cara anak melihat dirinya sendiri. Ketika anak terus-menerus mendengar bahwa dirinya adalah anak yang bodoh atau pemalas, bukan tidak mungkin ia mulai mempercayai hal tersebut sebagai bagian dari identitasnya.
“Hal-hal sepele yang disebut misal contoh ‘Begini aja kamu gak bisa.’ atau ‘Begini aja kamu gak tau.’ Bahkan kata-kata kasar, nah jadi jangan lupa ada namanya proses labeling dalam psikologis anak,” ujar Maria.
“Ketika anak merasa dia dilabel nakal, bukan tidak mungkin dan jika terlalu sering, dia akan melakukan hal-hal yang sesuai dengan label yang diberikan kepada dirinya. Makanya hati-hati. Ada yang menyebutkan ucapan adalah doa, nah kalau secara psikologis ucapan yang kita ucapkan itu label yang kita berikan ke anak kita,” lanjutnya.
2. Kritik Perilaku, Bukan Memberi Label pada Anak
Maria menekankan bahwa orangtua tetap boleh memberikan teguran ketika anak melakukan kesalahan. Namun, yang perlu diperhatikan adalah cara menyampaikan teguran tersebut.
Alih-alih menyerang karakter anak, orangtua disarankan fokus pada perilaku atau tindakan spesifik yang dilakukan. Sebagai contoh, daripada mengatakan “Kamu malas” atau “Kamu memang bodoh”, orangtua dapat menyampaikan bahwa ada perilaku tertentu yang perlu diperbaiki, seperti “Tugas ini belum selesai karena kamu belum mengatur waktu belajar dengan baik.”
“Makanya sebaiknya tidak diberikan label-label itu tadi. Kembali lagi ke hal yang konkret. Fokus aja pada satu kesalahan yang dia lakukan, tidak usah digeneralisasi menjadi dia sebutan nakal, sebutan bodoh, sebutan tidak bisa, dan lain sebagainya,” jelas Maria.
3. Label Negatif Bisa Menjadi Kenyataan
Maria menjelaskan, niat orang tua memberikan kata-kata keras biasanya adalah agar anak sadar dan termotivasi untuk berubah. Namun, tanpa disadari, cara tersebut justru dapat membuat anak semakin melekat dengan perilaku negatif yang disebutkan.
“Awalnya mungkin orang tua bilang ‘bodoh kamu’ atau ‘pemalas’ supaya anak sadar dan rajin belajar. Tetapi yang terjadi malah menjadi label,” tuturnya.
Ketika label tersebut terus diberikan, anak bisa kehilangan kepercayaan diri. Bahkan, mereka merasa bahwa dirinya memang tidak mampu melakukan sesuatu.
“Dia malah bisa melakukan hal-hal yang mendukung perilaku malas itu sendiri secara tidak sadar,” tambah Maria.
Karena itu, orangtua perlu lebih berhati-hati dalam memilih kata saat berkomunikasi dengan anak. Memberikan batasan, kritik, dan arahan tetap penting, tetapi harus disampaikan dengan cara yang membantu anak memahami kesalahan tanpa merusak harga dirinya.









