Waspada Kekerasan Online pada Anak, Orang Tua Wajib Tahu!

Waspada Kekerasan Online pada Anak, Orang Tua Wajib Tahu!

Berita Utama | okezone | Kamis, 23 Juli 2026 - 17:00
share

JAKARTA - Tahukah Moms bahwa satu dari tiga pengguna internet di seluruh dunia adalah anak-anak? Internet memang membuka banyak peluang luar biasa untuk belajar dan berkreasi. Namun, di balik layar perangkat yang menyala, ada bahaya nyata yang sedang mengintai.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah merilis pedoman penting mengenai kekerasan online terhadap anak. Yuk simak temuan utamanya agar orang tua bisa lebih waspada!

Kenali Bentuk-bentuk Kekerasan Online

Menurut WHO, kekerasan di dunia maya bukan sekadar fenomena saling ejek di media sosial. Ada beberapa bentuk ancaman serius yang harus kita pahami:

  • Manipulasi online (Grooming): Orang dewasa atau pelaku kejahatan menggunakan teknologi untuk membangun kepercayaan dan hubungan emosional dengan anak. Tujuannya adalah untuk memanipulasi dan akhirnya melakukan eksploitasi seksual.
  • Produksi dan penyebaran konten seksual: Menyebarkan foto atau video anak tanpa busana, sering kali tanpa izin. Hal ini bisa berdampak fatal, bahkan jika konten tersebut awalnya dibuat secara sukarela oleh korban.
  • Eksploitasi seksual lewat siaran langsung (Live-streaming): Menggunakan fitur video online untuk menyiarkan tindak pelecehan seksual terhadap anak secara langsung kepada penonton tertentu.
  • Perundungan siber (Cyberbullying): Tindakan permusuhan yang berulang, seperti ancaman, ujaran kebencian, hingga penyebaran rumor palsu oleh teman sebaya.
  • Pemerasan seksual (Sextortion): Menggunakan foto atau video intim yang didapat melalui paksaan untuk memeras korban, baik demi uang maupun keuntungan seksual lainnya.

Apa Dampaknya?

Kekerasan online sering kali hanya dianggap sebagai masalah hukum atau urusan pendidikan di sekolah. Padahal, WHO menegaskan bahwa ini adalah masalah kesehatan masyarakat yang sangat serius. Dampaknya benar-benar nyata:

  • Kesehatan Mental: Anak yang menjadi korban sangat rentan mengalami trauma berlebih (PTSD), depresi, kecemasan, peningkatan penggunaan zat terlarang, hingga munculnya keinginan untuk mengakhiri hidup. Bagi korban penyebaran foto intim, mereka harus hidup dalam bayang-bayang ketakutan bahwa foto tersebut akan muncul kembali suatu hari nanti.
  • Kesehatan Fisik: Stres akibat perundungan siber bisa memicu berbagai masalah fisik, seperti gangguan tidur, sakit kepala kronis, hingga masalah pencernaan.

Apa yang Bisa Dilakukan?

WHO sangat menekankan peran tenaga kesehatan dalam mengatasi masalah ini. Karena sering berhubungan langsung dengan anak dan keluarga, tenaga kesehatan (seperti dokter anak, psikolog, atau perawat) bisa menjadi garda terdepan untuk melakukan hal-hal berikut:

  • Merespons secara Tanggap: Mengenali tanda-tanda kekerasan sedini mungkin, memberikan dukungan medis dan psikososial, serta memastikan anak berada di lingkungan yang aman.
  • Mengedukasi: Meningkatkan kesadaran orang tua dan masyarakat tentang bahaya serta dampak jangka panjang kekerasan online.
  • Mengumpulkan Data: Membantu memetakan skala masalah melalui survei kesehatan agar program yang dibuat pemerintah lebih tepat sasaran.
  • Mencegah: Terlibat aktif dalam program pengasuhan anak (parenting) dan memberikan panduan tentang cara membangun hubungan sosial yang sehat di era digital.
  • Berkolaborasi: Bekerja sama secara erat dengan sektor pendidikan, kepolisian, dan layanan perlindungan anak. Masalah sebesar ini tidak bisa diselesaikan sendirian.

Dunia maya hanyalah perpanjangan dari dunia nyata. Bahaya di internet sama nyatanya dengan bahaya di jalanan. Mari lebih peduli, mendampingi anak saat mereka menggunakan teknologi, dan tidak ragu untuk mencari bantuan profesional jika melihat ada tanda-tanda yang mencurigakan.

Topik Menarik