Warga Pertanyakan Perubahan Aliran Kali Cikokol dan Luas Taman Potret

Warga Pertanyakan Perubahan Aliran Kali Cikokol dan Luas Taman Potret

Berita Utama | sindonews | Sabtu, 4 Juli 2026 - 09:29
share

Warga yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Madani Tangerang Libas Mafia (Almamater Lima) mempertanyakan perubahan alur Kali Cikokol, perbedaan data luas Taman Potret kepada pusat pengelola perbelanjaan Cikokol, Kota Tangerang. Warga juga mendesak realisasi sejumlah komitmen yang disebut pernah disampaikan pihak pengelola pusat perbelanjaan saat awal pembangunan.

Koordinator Almamater Lima, Djoko Handoko yang akrab Djalu mengatakan, aksi lanjutan ini dilakukan karena tuntutan yang telah disampaikan pada aksi sebelumnya dinilai belum mendapat tanggapan maupun penjelasan resmi dari pihak terkait.

"Kami menuntut adanya penjelasan yang terbuka kepada masyarakat. Jika memang tidak ada persoalan, sampaikan kepada publik secara transparan. Jangan biarkan masyarakat terus bertanya-tanya," ujar Djalu, Sabtu (4/7/2026).

Djalu menjelaskan, salah satu isu utama yang disoroti adalah dugaan perubahan alur Kali Cikokol. Apabila memang terjadi perubahan aliran sungai, pemerintah maupun pihak terkait harus menjelaskan dasar hukum, perizinan, serta kajian teknis yang menjadi landasannya.

Baca juga: Anak-anak Kian Rentan di Dunia Digital, Pemkot Tangerang Dukung Optimalisasi PP Tunas"Fungsi sungai tidak boleh dipandang sebelah mata. Kami meminta kondisi aliran Kali Cikokol dijelaskan secara terbuka. Bila ditemukan adanya perubahan yang tidak sesuai ketentuan, maka harus ada langkah pemulihan sesuai aturan yang berlaku," tegasnya.

Selain itu, Almamater Lima juga menyoroti adanya perbedaan data mengenai luas Taman Potret. Berdasarkan papan informasi di lokasi, luas taman tercantum 12.000 meter persegi. Sementara, pada portal Taman Kita milik Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang tercatat seluas 9.600 meter persegi. Hasil kajian lapangan yang dilakukan tim Almamater Lima bahkan memperkirakan luas eksisting taman hanya sekitar 5.050 meter persegi.

Lihat video: TPA Sampah 2 Hektar di Jatiwaringin, Tangerang, Terbakar

 

Djalu menambahkan, perbedaan data tersebut perlu dijelaskan secara terbuka agar tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat. "Kami tidak sedang menggiring opini. Kami hanya meminta pemerintah menjelaskan mengapa terdapat perbedaan data yang dapat diakses masyarakat. Transparansi adalah hak publik," jelasnya.

Pihaknya sudah beberapa kali menyampaikan permohonan klarifikasi kepada Pemkot Tangerang, termasuk kepada Wali Kota Tangerang. Namun, hingga aksi kedua digelar, belum ada penjelasan resmi diberikan. Warga juga meminta aparat kepolisian memfasilitasi pertemuan dengan manajemen agar aspirasi masyarakat dapat disampaikan secara langsung dan memperoleh penjelasan dari pihak pengelola.

Tidak hanya menyoroti persoalan lingkungan, Almamater Lima turut menagih realisasi sejumlah komitmen yang disebut pernah disampaikan manajemen pada awal pembangunan kawasan tersebut. Saat proses pembangunan, manajemen disebut berkomitmen menjadi pusat perbelanjaan yang mengangkat budaya lokal Kota Tangerang, menyerap sekitar 5.000 tenaga kerja lokal, membangun kemitraan berkelanjutan dengan pelaku UMKM, serta menghadirkan kawasan bisnis yang ramah lingkungan. Namun, Almamater Lima menilai sejumlah komitmen tersebut belum terealisasi secara optimal. "Kami mempertanyakan realisasi janji-janji yang pernah disampaikan kepada masyarakat Kota Tangerang. Jangan sampai komitmen yang pernah diumumkan hanya menjadi slogan saat pembangunan, tetapi tidak diwujudkan secara nyata," bebernya.

Djalu menyebut, pelestarian budaya lokal kini tidak lagi terlihat berjalan secara berkelanjutan. Selain itu, ia juga mempertanyakan capaian penyerapan tenaga kerja lokal serta efektivitas kemitraan dengan pelaku UMKM yang dinilai belum berjalan sesuai harapan dan harus dievakuasi.

"Melalui aksi ini, kami meminta pemerintah daerah maupun manajemen segera memberikan penjelasan resmi dan terbuka kepada masyarakat terkait seluruh tuntutan yang disampaikan, sehingga tidak menimbulkan polemik berkepanjangan," katanya.

Topik Menarik