Iran Sudah Kenyang Dikhianati AS, Tak Mudah Percaya Lagi
TEHERAN, iNews.id - Iran menegaskan sudah kenyang dikhianati oleh Amerika Serikat (AS) dan tidak akan lagi mudah percaya dalam setiap upaya perundingan damai.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian bahkan menegaskan pengalaman pahit selama 2 tahun terakhir menjadi bukti bahwa Washington bukan mitra yang bisa diandalkan.
Menurut Pezeshkian, perundingan Iran-AS pada 2025 dan 2026 berulang kali berujung pengkhianatan. Dia menyebut ketidakpercayaan historis terhadap AS semakin dalam, diperparah oleh sikap pejabat Negeri Paman Sam yang dinilai kontradiktif dan tidak konstruktif.
“Rakyat Iran tidak akan tunduk terhadap kekerasan. Menghormati komitmen adalah dasar dari dialog yang bermakna,” ujar Pezeshkian, dalam pernyataannya di media sosial X, dikutip Kamis (23/4/2026).
Pernyataan keras itu muncul di tengah ketidakpastian perundingan damai putaran kedua antara Iran dan AS. Teheran menegaskan enggan kembali ke meja perundingan selama Washington masih memblokade kapal-kapal yang keluar-masuk pelabuhan Iran, termasuk di Selat Hormuz.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump pada Selasa (22/4/2026l memperpanjang gencatan senjata dengan Iran dengan harapan membuka peluang perundingan damai putaran kedua.
Dia bahkan sempat mengklaim telah mengirim delegasi tingkat tinggi yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance ke Islamabad untuk melanjutkan negosiasi. Delegasi itu juga disebut melibatkan utusan khusus Steve Witkoff serta penasihat Jared Kushner. Meski demikian kebrrangkatan mereka ditunda.
Trump menyatakan perundingan harus dilanjutkan demi mengakhiri konflik.
"Saya berasumsi pada titik ini tidak ada yang main-main,” ujarnya.
Namun, klaim tersebut justru memicu kebingungan. Sejumlah laporan media menyebutkan JD Vance belum benar-benar berangkat, bahkan masih berada di AS. Dalam pernyataan berbeda, Trump juga dikabarkan mengatakan Vance tidak jadi ke Pakistan dengan alasan keamanan.
Sikap AS yang dinilai tidak konsisten ini semakin memperkuat kecurigaan Iran. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan negaranya tidak akan menghadiri perundingan selama blokade maritim masih berlangsung.
Dalam komunikasi dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov, Araghchi menyebut tindakan AS sebagai pelanggaran gencatan senjata, termasuk penyitaan kapal kargo dan pembatasan jalur pelayaran.
Meski demikian, Iran menegaskan tetap berkomitmen menjaga kelancaran lalu lintas energi global. Teheran menyatakan siap memastikan kapal tanker dan kargo, termasuk milik Rusia, dapat melintasi Selat Hormuz tanpa hambatan.









