Stunting Ternyata Tak Hanya Bikin Pendek, tapi Bisa Ganggu Kemampuan Otak
JAKARTA - Masih banyak orang tua menganggap stunting hanya soal tinggi badan anak yang lebih pendek dari teman sebayanya. Padahal, dampaknya jauh lebih serius karena bisa memengaruhi kecerdasan anak.
Menurut Ketua Dewan Pembina Indonesia Health Development Center, Nila Djuwita Moeloek, saat ini 1 dari 5 anak Indonesia masih mengalami stunting. Angka ini menunjukkan bahwa masalah gizi masih menjadi tantangan besar di Tanah Air.
Dalam studi yang dilakukan Indonesia Health Development Center, anak dengan stunting memiliki risiko daya tangkap dan kemampuan belajar yang lima kali lebih rendah. Hal ini juga berkaitan dengan working memory atau kemampuan otak untuk menyerap dan mengolah informasi.
“Dengan stunting, kemampuan akademik atau perkembangan otaknya bisa lima kali lebih rendah,” ungkap Prof. Nila.
Selain stunting, banyak anak Indonesia juga mengalami anemia akibat kekurangan zat besi. Padahal, anemia bisa membuat anak mudah lelah, sulit fokus, hingga menurunkan kemampuan berpikir.
“Kalau anak sudah stunting, kurang gizi, lalu anemia, bagaimana dia mau menangkap pelajaran?” jelasnya.
Penyebabnya pun ternyata berasal dari hal sederhana yang dilakukan sehari-hari, seperti asupan makanan. Banyak anak masih kekurangan protein, kalori, dan nutrisi penting lainnya.
Padahal, periode paling krusial ada di 1.000 hari pertama kehidupan, yaitu mulai dari dalam kandungan hingga usia dua tahun. Pada fase ini, apa yang dikonsumsi anak akan sangat menentukan tumbuh kembangnya di masa depan.
Untuk itu, Prof. Nila mengingatkan bahwa jika tidak ditangani sejak dini, dampak stunting bisa berlangsung jangka panjang bahkan hingga dewasa. Sebagai langkah awal, orang tua dianjurkan untuk memastikan anak mendapat asupan gizi yang cukup.
Misalnya protein dari ikan, telur, dan ayam, serta zat besi dari daging dan sayuran hijau.
Bila perlu, lakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin untuk mengetahui kebutuhan nutrisi anak agar tumbuh kembangnya optimal.










