Portofolio Kredit UMKM Bantu Ketahanan Perbankan di Tengah Tekanan Global

Portofolio Kredit UMKM Bantu Ketahanan Perbankan di Tengah Tekanan Global

Berita Utama | idxchannel | Senin, 6 April 2026 - 08:10
share

IDXChannel - Upaya beberapa perbankan pelat merah memperkuat portofolio kredit segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang terkait dengan program-program pemerintah diapresiasi oleh sejumlah pihak. Sebab, penguatan portofolio kredit tersebut dinilai bisa menyelamatkan perbankan ketika terjadi krisis.

"Secara historis, UMKM punya kelincahan dan kelenturan dalam menghadapi tekanan krisis. Baik dari kondisi ekonomi domestik, maupun dari eksternal, seperti dampak geopolitik atau perang di Timur Tengah," ujar Ekonom Senior & Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Ryan Kiryanto dalam pernyataannya, Senin (6/4/2026).

Namun, bank pelat merah harus tetap menekankan prinsip 5C dalam melakukan analisis calon debitur, yaitu melihat Character, Capacity, Capital, Condition, dan Collateral.

Selain itu, bank jangan keluar dari sektor unggulan masing-masing demi menjaga kualitas portofolio tetap sehat.

"Sebagai bank yang sebagian besar sahamnya dimiliki negara, wajar kalau mereka mendukung program pemerintah, terutama mendukung Asta Cita, bahkan yang sifatnya populis. Tidak apa-apa, asalkan masuknya ke sektor sesuai dengan keahlian bank tersebut," kata dia.

Pada akhirnya, kata Ryan, upaya untuk mendukung program pemerintah bisa menjadi momentum perbankan untuk menjaga pertumbuhan aset dan pendapatan, di tengah kondisi penuh tekanan global.

"Apalagi bank pelat merah cabang sampai pelosok, jadi bisa untuk menggali beragam lapangan usaha yang prospektif di daerah terkait, sesuai karakteristik wilayah, dan ini bagus untuk berperan dalam mencetak pertumbuhan ekonomi," ujarnya. 

Sebagai contoh, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menjadi salah satu Himbara yang sukses bertumbuh karena mendukung sektor produktif terkait ekonomi kerakyatan.

Buktinya, berdasarkan laporan keuangan bulanan (bank only) Februari 2026, penyaluran kredit Bank Mandiri mencapai Rp1.513,1 triliun atau tumbuh 15,7 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). 

Pertumbuhan ini turut diikuti oleh penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencapai Rp1.644,8 triliun, meningkat 16,3 persen YoY, mencerminkan kepercayaan nasabah yang terus terjaga terhadap layanan Bank Mandiri.

Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini mengatakan, peningkatan kinerja tersebut sejalan dengan semakin aktifnya transaksi nasabah di berbagai kanal layanan Bank Mandiri, khususnya melalui platform digital.

“Laba bersih Bank Mandiri tumbuh 16,7 persen secara tahunan menjadi Rp8,9 triliun hingga Februari 2026, seiring dengan meningkatnya aktivitas transaksi digital masyarakat melalui Livin’ by Mandiri yang turut mendorong pertumbuhan pendapatan berbasis komisi,” ujarnya dalam keterangan resminya.

Secara keseluruhan, hingga Februari 2026 volume transaksi melalui Livin’ by Mandiri terus menunjukkan tren peningkatan yang signifikan dengan total transaksi mencapai lebih dari 738,7 juta transaksi sejak awal tahun, atau tumbuh sekitar 28 persen secara tahunan (YoY). 

Peningkatan ini didorong oleh semakin luasnya pemanfaatan layanan digital oleh masyarakat untuk berbagai kebutuhan transaksi sehari-hari, mulai dari pembayaran tagihan, pembelian produk dan layanan digital, hingga transfer dana antar individu maupun pelaku usaha. 

Selain itu, meningkatnya penggunaan transaksi pembayaran di berbagai merchant dan pelaku usaha, termasuk UMKM, juga turut memperkuat peran layanan digital Bank Mandiri dalam mendukung kelancaran aktivitas ekonomi masyarakat serta memperluas akses transaksi yang lebih praktis, cepat, dan inklusif. 

Sejalan dengan meningkatnya aktivitas transaksi digital tersebut, Bank Mandiri juga mencatatkan pertumbuhan pendapatan berbasis komisi (fee-based income) yang berasal dari berbagai layanan pembayaran, transfer, serta transaksi digital lainnya.

Hal ini tercermin dari pertumbuhan pendapatan berbasis komisi dari berbagai platform digital Bank Mandiri, termasuk Livin' by Mandiri sebesar Rp625 miliar yang meningkat 45,3 persen secara tahunan, serta platform wholesale Kopra by Mandiri sebesar Rp421 miliar yang tumbuh 29,3 persen YoY, seiring dengan semakin tingginya volume transaksi nasabah di kanal digital perseroan.

Di sisi lain, kinerja intermediasi Bank Mandiri juga tetap terjaga yang tercermin dari pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NII) sebesar Rp13,7 triliun, tumbuh 9,16 persen secara tahunan (YoY). Kinerja tersebut didukung oleh penyaluran kredit yang tetap terjaga, serta semakin aktifnya transaksi nasabah melalui berbagai kanal layanan digital Bank Mandiri, khususnya Livin' by Mandiri.

Peningkatan aktivitas transaksi ini turut memperkuat penghimpunan dana murah berbasis rekening transaksi sehingga mendukung efisiensi beban bunga perseroan. Pada saat yang sama, efisiensi operasional juga terus membaik dengan rasio Cost-to-Income Ratio (CIR) yang turun ke level 37,21 persen, mencerminkan pengelolaan biaya yang semakin disiplin sekaligus peningkatan produktivitas bisnis.

Dari sisi kualitas aset, kinerja Bank Mandiri tetap terjaga dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) yang berada di level 0,98 persen, disertai coverage ratio yang kuat sebesar 246,5 persen. Kinerja tersebut mencerminkan penerapan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit serta penguatan manajemen risiko yang konsisten dilakukan perseroan.

Dengan fundamental bisnis yang tetap kuat tersebut, Bank Mandiri optimistis dapat menjaga momentum pertumbuhan ke depan.

“Ke depan, Bank Mandiri akan terus memperkuat sinergi yang terintegrasi di seluruh lini bisnis guna mendorong akselerasi pertumbuhan yang berkelanjutan sekaligus memperkuat keunggulan kompetitif perseroan. Langkah ini sejalan dengan peran Bank Mandiri sebagai mitra strategis pemerintah dalam mendukung penguatan ekosistem ekonomi nasional,” ujar Novita.

(Dhera Arizona)

Topik Menarik