Aktivitas Gunung Slamet Meningkat, Badan Geologi Larang Pendakian

Aktivitas Gunung Slamet Meningkat, Badan Geologi Larang Pendakian

Berita Utama | inews | Minggu, 29 Maret 2026 - 23:17
share

JAKARTA, iNews.id - Badan Geologi melaporkan peningkatan aktivitas Gunung Slamet sejak 16 hingga 28 Maret 2026. Masyarakat dilarang beraktivitas dan mendaki di radius 2 kilometer (km).

Diketahui, Gunung Slamet merupakan gunung strato berbentuk kerucut dengan ketinggian puncak sekitar 3.432 meter di atas permukaan laut. Secara administratif, Gunung Slamet berada di wilayah Kabupaten Pemalang, Banyumas, Brebes, Tegal, dan Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah.

“Data kegempaan periode tanggal 16-28 Maret 2026, yaitu terekam 541 kali Gempa Hembusan, 421 kali Gempa Low Frequency, 1 kali Gempa Vulkanik Dalam, 7 kali Gempa Tektonik Jauh, Tremor Menerus dengan amplitudo 1 mm, dominan 0.5 mm,” ungkap Plt Kepala Badan Geologi, Lana Saria dalam keterangan tertulisnya, Minggu (29/3/2026).

Lana pun mengatakan bahwa kejadian gempa frekuensi rendah di Gunung Slamet terekam secara fluktuatif. Tercatat, sejak 22 Maret 2026, aktivitas ini menunjukkan peningkatan, yang kemudian rekaman menjadi semakin tegas dan menerus sejak tanggal 27 Maret 2026 hingga saat ini. 

“Gempa-gempa berfrekuensi rendah ini terekam secara teratur dengan amplitudo dan durasi yang relatif seragam, berasosiasi dengan adanya peningkatan aktivitas gas magmatik,” ujarnya.

Lebih lanjut, Lana pun membeberkan bahwa hasil pengamatan dan analisis data-data pemantauan masih menunjukkan adanya peningkatan tekanan di bawah tubuh Gunung Slamet, yang memicu munculnya gempa-gempa dangkal, yang meningkatkan kemungkinan terjadinya erupsi.

Meski begitu, Lana memastikan bahwa hingga tanggal 29 Maret 2026 tingkat aktivitas Gunung Slamet masih ditetapkan pada Level II (Waspada), dengan rekomendasi masyarakat dan pengunjung maupun wisatawan tidak berada atau beraktivitas dalam radius 2 km dari kawah puncak Gunung Slamet.

“Menyikapi peningkatan aktivitas Gunung Slamet dan potensi erupsi, agar radius rekomendasi bahaya 2 km dari puncak Gunung Slamet tidak ada aktivitas wisatawan atau pendakian. Karena erupsi dapat terjadi sewaktu-waktu, utamanya untuk mencegah adanya korban apabila terjadi erupsi,” pungkasnya.

Topik Menarik