Pengamat Intelijen Bongkar 3 Skenario AS Lawan Iran, Singgung Opsi Paling Realistis

Pengamat Intelijen Bongkar 3 Skenario AS Lawan Iran, Singgung Opsi Paling Realistis

Berita Utama | inews | Rabu, 18 Maret 2026 - 06:53
share

JAKARTA, iNews.id - Pengamat intelijen Marsda TNI (Purn) Prayitno Ramelan mengungkapkan tiga skenario Amerika Serikat (AS) menentukan langkah strategis dalam perang melawan Iran. Dia menilai Presiden AS Donald Trump akan memilih salah satu dari tiga skenario tersebut untuk menentukan langkah Negeri Paman Sam ke depan.

Menurut dia, tiga opsi yang ada masing-masing memiliki konsekuensi besar terhadap stabilitas regional maupun global.

“Presiden (Donald Trump) diperkirakan akan memilih salah satu dari tiga jalur,” ujar Prayitno dalam keterangannya, Rabu (18/3/2026).

Prayitno menjelaskan, skenario pertama adalah jalur diplomasi kompromi dengan probabilitas sedang. Dia mengatakan Trump akan mengirim utusan khusus ke Teheran untuk menawarkan negosiasi tanpa prasyarat kepada Iran.

“Mengirim utusan khusus ke Tehran melalui mediator Oman atau Swiss. Amerika mungkin menawarkan negosiasi tanpa prasyarat yang secara implisit mengakui legitimasi pemerintahan baru Iran," kata dia.

Menurut Prayitno, opsi pertama ini dapat mengurangi eskalasi perang sekaligus mengamankan pasar. Namun, banyak pihak akan menganggap negosiasi ini menjadi akhir dari dominasi AS di Timur Tengah sekaligus memicu kemarahan Israel.

"Konsekuensi, mengurangi eskalasi langsung dan mengamankan pasar, tetapi dianggap sebagai akhir dominasi Amerika di Timur Tengah. Ini akan memicu kemarahan sekutu tradisional Israel,” katanya.

Skenario kedua yang dinilai Prayitno paling mungkin adalah eskalasi terkendali dengan probabilitas tinggi. Opsi itu adalah mengerahkan kekuatan militer ke Iran serta mengingatkan China dan Rusia untuk jangan ikut campur dalam konflik ini.

“Langkah, menolak ultimatum secara diplomatis sambil meningkatkan postur militer secara signifikan. Amerika mengerahkan kelompok tempur kapal induk, kapal pendarat amfibi, serta secara terbuka memperingatkan China dan Rusia agar tidak ikut campur,” ujar Prayitno.

Sementara itu, skenario ketiga adalah operasi militer terbatas dengan probabilitas rendah. Dia mengatakan AS dapat melakukan serangan pendahuluan terhadap fasilitas nuklir bawah tanah yang tersisa dan pangkalan rudal Iran, meskipun tidak akan sepenuhnya efektif. 

"Ini adalah opsi paling berbahaya yang hampir pasti memicu perang regional penuh, persis seperti yang ingin dihindari oleh penilaian Pentagon. Opsi ini hanya akan dipilih jika intelijen menunjukkan Iran diketahui segera menempatkan senjata nuklir dalam hitungan hari,” katanya.

Prayitno mengatakan AS berada pada situasi sulit meski memiliki alutsista yang jauh lebih canggih dibanding Iran. AS akan berhitung lebih matang dalam menentukan langkahnya karena Rusia dan China mulai masuk sebagai penyeimbang konflik.

Menurut dia, skenario kedua kemungkinan lebih disarankan oleh Pentagon. Langkah ini juga sudah terlihat di lapangan.

“Amerika sudah mulai melakukan pergeseran kapal induk tambahan dan kapal pendarat Amfibi ke Teluk dan Mediterania, serta menggeser 5.000 marinir (USMC) dari Jepang. Nampaknya skenario B yang lebih disarankan Pentagon,” ucapnya.

Dia juga menyinggung dinamika terbaru di kawasan serta risiko eskalasi lebih luas. Oleh karena itu, kata dia, Pentagon tidak menyarankan skenario ketiga.

“Mengingat kegagalan operasi Epic Fury yang tidak sesuai dengan perkiraan intelijen, Pentagon tidak menyarankan opsi C yang sama dengan serangan awal akhir Februari. Iran mampu memainkan truf Hormuz, sehingga memecah persatuan AS dan para anggota NATO yang lebih fokus dengan kepentingan nasional masing-masing akan kebutuhan minyak dan gas dari kawasan Teluk,” katanya.

Meski demikian, Prayitno tidak menutup kemungkinan adanya keputusan ekstrem dari Trump.

“Kemungkinan keputusan ekstrem, Presiden Trump masih mungkin mengambil opsi C, setelah melakukan pemboman dan menghancurkan Pulau Kharg, dengan catatan memungkinkan melakukan serangan lebih berat dengan peluru kendali mini nuklir, yang diangkut dengan pembom B2, USAF yang kini sudah berada di Inggris," ucap dia.

"Apakah mungkin? Menurut utusan khususnya, karakter Trump adalah pemimpin yang tidak bisa ditantang. Kita tunggu dalam waktu tidak lama, keputusan Trump akan ditetapkan. Masing-masing pihak dan masyarakat dunia harus berpikir kemungkinan terburuk melanda dunia yang berada di satu tangan,” ucapnya.

Topik Menarik