Iran Sindir Operasi Militer AS-Israel Gagal Total, Ubah Nama Jadi 'Fury Mistake'
TEHERAN, iNews.id - Pemerintah Iran menyindir keras operasi militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap negaranya. Teheran menilai operasi tersebut justru menjadi bumerang karena memicu lonjakan harga minyak dunia hingga berkali lipat serta mengguncang pasar global.
Sindiran itu disampaikan Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi yang menyebut serangan gabungan AS dan Israel sebagai operasi yang berlangsung dengan kegagalan strategis.
Menurut dia, hanya dalam beberapa hari setelah serangan, dampak ekonomi global langsung terasa dengan melonjaknya harga minyak dan berbagai komoditas. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) juga terjadi di AS disertai dengan lonjakan harga barang.
"Sembilan hari setelah Operasi Epic Mistake, harga minyak telah naik berlipat ganda dan semua komoditas meroket," tulis Araghchi, di media sosial X, dikutip Rabu (11/3/2026).
Pernyataan itu merupakan sindiran terhadap nama operasi militer yang digunakan Amerika Serikat dan Israel, yakni Epic Fury. Araghchi mengubahnya menjadi "Epic Mistake" atau kesalahan besar.
Survei Ungkap Program MBG Raih Respons Positif Publik, BGN: Ini Kesuksesan Presiden Prabowo
Dalam pernyataannya, Araghchi juga menegaskan Iran siap menghadapi perang berkepanjangan melawan AS dan Israel jika konflik terus meningkat.
Dia bahkan menuduh Washington tengah merencanakan serangan lanjutan yang menargetkan fasilitas minyak dan nuklir Iran dengan harapan dapat meredam dampak inflasi global yang dipicu oleh konflik tersebut.
Eskalasi konflik meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran pada 28 Februari. Serangan tersebut menewaskan lebih dari 1.200 orang di Iran, termasuk lebih dari 190 siswi sekolah.
Di pihak lain, Amerika Serikat dilaporkan kehilangan delapan tentaranya selama konflik berlangsung. Sementara di Israel, belasan orang dilaporkan tewas dan lebih dari 2.300 lainnya mengalami luka-luka.










