Ali Larijani Muncul Sebagai Figur Pengendali Politik Iran Pasca Kematian Khamenei

Ali Larijani Muncul Sebagai Figur Pengendali Politik Iran Pasca Kematian Khamenei

Berita Utama | idxchannel | Senin, 2 Maret 2026 - 08:14
share

IDXChannel -  Nama politikus senior Iran, Ali Larijani, kembali muncul sebagai salah satu figur paling berpengaruh dalam hierarki politik dan keamanan negara tersebut usai kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. 

Sebelumnya, Khamenei tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat (AS)-Israel pada Sabtu (28/2/2026).

Larijani menyatakan bahwa dewan kepemimpinan sementara akan dibentuk untuk mengisi kekosongan pucuk pimpinan negara.  

Melansir Reuters, Senin (2/3/2026), Larijani memiliki portofolio luas, mulai dari negosiasi nuklir hingga hubungan regional Teheran serta penindakan keras terhadap gejolak internal.

Orang Kepercayaan Khamenei

Ali Larijani, 67 tahun, merupakan salah satu figur paling berpengaruh dalam struktur politik dan keamanan Iran. Mantan komandan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) dan politisi konservatif senior ini saat ini menjabat sebagai sekretaris Supreme National Security Council, lembaga keamanan nasional tertinggi Iran.

Sebagai orang dalam lingkaran elite yang berasal dari salah satu keluarga ulama terkemuka di Iran, Larijani memimpin upaya Iran untuk mencapai kesepakatan nuklir dengan AS, sebulan setelah Washington menjatuhkan sanksi terhadapnya pada Januari atas dugaan mengarahkan penindakan mematikan terhadap protes anti-pemerintah.

Dalam beberapa bulan terakhir, ketika ketegangan dengan AS dan Israel meningkat serta gelombang protes nasional melanda Iran, Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan sangat mengandalkan Ali Larijani untuk mengarahkan negara. 

Para pejabat Iran menggambarkannya sebagai penasihat tepercaya dan loyal yang memiliki akses langsung kepada pemimpin tertinggi.

Analis konservatif Nasser Imani mengatakan Khamenei sepenuhnya mempercayai Larijani, dan menyebutnya sebagai sosok yang tepat untuk “momen sensitif” karena pengalaman politik dan pemikiran strategisnya.

Tanggung jawab Larijani meningkat secara signifikan. Dia mengawasi langkah-langkah keamanan dalam negeri selama protes, berkoordinasi dengan aktor-aktor regional seperti Rusia, Qatar, dan Oman, serta berperan dalam negosiasi nuklir dengan Washington. 

Dia juga terlibat dalam perencanaan kontinjensi jika terjadi perang atau gangguan terhadap kepemimpinan.

Larijani berasal dari keluarga politik dan religius elite. Dia menjabat sebagai Ketua Parlemen selama 12 tahun dan sebelumnya pernah menduduki posisi sekretaris Supreme National Security Council dari 2005 hingga 2007 sebelum kembali ke jabatan tersebut pada 5 Agustus tahun ini.

Pada 2021, dia juga ditugaskan untuk merundingkan perjanjian strategis 25 tahun dengan China senilai miliaran dolar, yang mencerminkan posisinya yang kuat dalam sistem pemerintahan.

Meski menjadi figur sentral dalam lingkaran kepemimpinan Iran, Larijani tidak dianggap sebagai calon kuat pengganti Khamenei karena dia bukan ulama Syiah senior, yang merupakan syarat utama untuk menduduki posisi pemimpin tertinggi.

Namun, menurut laporan The New York Times, para pejabat menyebut namanya berada di posisi teratas dalam daftar kontinjensi untuk mengelola negara jika terjadi gangguan dalam kepemimpinan.

Para pengamat menggambarkan Larijani sebagai konservatif yang kalkulatif dengan perpaduan pragmatisme dan nasionalisme. Sementara sejumlah kritikus mengaitkannya dengan tindakan keras terhadap perbedaan pendapat dan menuduhnya terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia.

Sementara itu, para pendukungnya memandangnya sebagai salah satu dari sedikit figur yang masih mampu menjaga stabilitas sistem yang tengah berada di bawah tekanan.

(NIA DEVIYANA)

Topik Menarik