Ramadan 2026, KKP Ungkap Harga Komoditas Hasil Laut Relatif Stabil

Ramadan 2026, KKP Ungkap Harga Komoditas Hasil Laut Relatif Stabil

Berita Utama | idxchannel | Kamis, 19 Februari 2026 - 13:20
share

IDXChannel - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memastikan harga komoditas hasil laut relatif stabil memasuki bulan suci Ramadan 2026. Meski terdapat kenaikan pada sejumlah komoditas di beberapa daerah, namun secara nasional harga dinilai masih dalam level aman.

Direktur Kepelabuhan Perikanan KKP Ady Candra mengatakan, stabilitas harga terlihat pada sebagian besar jenis ikan utama yang didaratkan di berbagai pelabuhan perikanan.

“Kalau kita merujuk ke beberapa jenis ikan utama yang didaratkan, harga sebenarnya relatif stabil, tidak banyak peningkatan,” ujarnya dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta, Kamis (19/2/2026).

Dia menjelaskan, kenaikan harga tercatat pada komoditas ikan cakalang di sejumlah wilayah, terutama di Sulawesi. Namun secara nasional, harga cakalang masih tergolong stabil.

Hal serupa juga terjadi pada komoditas cumi yang mengalami kenaikan terbatas di Jakarta dan Jawa Tengah. Sementara itu, ikan kakap secara umum stabil, meskipun terdapat kenaikan di beberapa provinsi seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Gorontalo, dan Jakarta.

Untuk komoditas ekonomis penting lainnya seperti tongkol, harga juga dominan stabil. Kenaikan hanya terjadi di sejumlah daerah di Sulawesi, terutama Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Utara. 

Harga tuna tercatat stabil secara nasional, dengan kenaikan terbatas di Sulawesi Utara yang memang menjadi salah satu sentra produksi sekaligus konsumsi lokal tuna.

"Tuna dominan stabil, kenaikan hanya di Sulawesi Utara. Ya memang dominan tuna di sana dan juga dominan dikonsumsi oleh masyarakat lokal di sana," kata dia.

Dari sisi produksi, Ady memprediksi adanya penurunan produksi perikanan tangkap pada periode Januari hingga Maret 2026. Penurunan tersebut dipengaruhi faktor musim dan kondisi cuaca yang kurang bersahabat.

Dia menyampaikan, prognosa produksi perikanan tangkap hingga Maret 2026 diperkirakan mencapai sekitar 7,3 juta ton. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan periode normal akibat pola musim tahunan.

"Ini sedikit agak turun memang karena pola musim dan juga pola penangkapan yang memang sangat tergantung dengan faktor cuaca," ujar Ady.

Dia menerangkan, pada periode awal tahun Indonesia memasuki musim barat yang identik dengan curah hujan tinggi, angin, serta gelombang laut yang lebih besar. Kondisi tersebut menyebabkan aktivitas melaut dan penangkapan ikan menjadi terganggu.

Meski demikian, Ady menegaskan situasi ini merupakan pola musiman yang terjadi setiap tahun. Produksi diperkirakan kembali meningkat pada awal Maret seiring membaiknya kondisi cuaca dan menjelang Idulfitri terjadi peningkatan volume tangkapan.

"Biasanya di menjelang Idul Fitri juga akan banyak kapal-kapal yang nanti akan kembali terutama di Pantura sehingga ini juga akan mendorong peningkatan produksi dari sektor perikanan tangkap," kata Ady.

"Jadi ini pola musiman yang terjadi setiap tahunnya. Kalau kita mengacu, merujuk ke beberapa jenis ikan utama yang didaratkan, harga sebenarnya relatif stabil, tidak banyak peningkatan harga berjenis ikannya," ujarnya.

(Dhera Arizona)

Topik Menarik