Ekonomi Indonesia Tetap Kokoh di Tengah Pelemahan IHSG

Ekonomi Indonesia Tetap Kokoh di Tengah Pelemahan IHSG

Berita Utama | idxchannel | Jum'at, 30 Januari 2026 - 13:24
share

IDXChannel - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menegaskan ekonomi Indonesia tetap kokoh meski IHSG sempat melemah selama dua hari berturut-turut.

Menurutnya, saat ini IHSG sudah kembali cerah dan berada dalam jalur hijau.

"Perlu kami tegaskan bahwa fundamental Indonesia secara ekonomi tetap kokok dan koordinasi antara fiscal monitor berjalan dengan baik dan kemarin kita lihat IHSG sudah rebound dan hari ini masuk di, pagi ini masuk di dalam jalur hijau," ujar Airlangga dalam konferensi pers, Jumat (30/1/2026).

Menanggapi dinamika pasar tersebut, Airlangga menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga stabilitas dan kredibilitas perekonomian nasional, termasuk kredibilitas pasar modal, melalui sejumlah langkah strategis.

Salah satu langkah utama yang disiapkan pemerintah adalah percepatan demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI). Menurut Airlangga, proses demutualisasi ditargetkan dapat mulai berjalan pada tahun ini sebagai bagian dari transformasi struktural pasar modal.

"Ini adalah transformasi struktural di mana mengurangi benturan kepentingan di bursa efek antara pengurus bursa dengan anggota bursa, dan juga untuk mencegah praktek pasar yang tidak sehat. Demutualisasi bursa ini juga akan membuka terhadap investasi termasuk dari dana antara dan juga agensi lainnya," kata Airlangga.

Dia menambahkan, tahapan demutualisasi sebenarnya telah diatur dalam Undang-Undang B2SK dan ke depan dapat dilanjutkan dengan opsi bursa untuk melantai di pasar modal atau go public.


Selain itu, pemerintah juga mendorong penguatan tata kelola dan keterbukaan informasi di pasar modal. Pemerintah, melalui Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI, berencana meningkatkan porsi saham beredar bebas (free float) dari 7,5 persen menjadi 15 persen.

"Dan ini sebetulnya setara dengan berbagai negara karena Indonesia atau bursa efek free flow-nya kemarin terlalu rendah bandingkan dengan Malaysia yang 25 persen, Hongkong 25 persen, Jepang 25 persen, Thailand sama dengan Indonesia nantinya 15 persen, Singapura masih 10 persen, Filipina 10 persen dan Inggris 10 persen. Jadi kita ambil langkah yang relatif lebih terbuka dan tata kelola lebih baik," ujar Airlangga.


Ia menilai, peningkatan free float dan demutualisasi akan membuat perdagangan saham lebih stabil serta selaras dengan standar internasional.

Langkah berikutnya yang disiapkan pemerintah adalah peningkatan batas investasi dana pensiun dan asuransi di pasar modal. Batas tersebut akan dinaikkan dari 8 persen menjadi 20 persen.

"Kami bahas juga dengan Pak Menteri Keuangan bahwa dana pensiun, asuransi itu limit untuk investasi di pasar modalnya ditingkatkan dari 8 persen ke 20 persen. Dan ini anggaran terkait dengan regulasi yang baru ini sejalan dengan standar yang berpratek di negara-negara OECD," kata Airlangga.

Dengan berbagai kebijakan tersebut, Airlangga optimistis pasar modal Indonesia akan menjadi lebih kuat, adil, kompetitif, dan transparan. Ia menegaskan, langkah-langkah ini merupakan sinyal positif bagi pasar global bahwa Indonesia tetap solid secara fundamental.

"Ini merupakan signal sekali lagi saya katakan signal kepada global market tetapi faktor fundamental ekonomi kita tetap kuat dan pemerintah tidak khawatir terkait dengan kondisi makroekonomi maupun kondisi fiskal kita," kata Airlangga.



(kunthi fahmar sandy)


Topik Menarik