Berkshire Hathaway, Perusahaan Pencetak Miliarder

Unik | sindonews | Published at Senin, 02 September 2019 - 23:37
Berkshire Hathaway, Perusahaan Pencetak Miliarder

Warren Buffett bukan satu-satunya orang yang meraih keuntungan melimpah dari kesuksesan Berkshire Hathaway, perusahaan investasi yang dipimpinnya. Setidaknya ada tujuh orang lain yang turut menjadi miliarder. Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang lebih kaya dari Bill Gates yang juga menanamkan modal di Berkshire.

Seperti dilansir Bloomberg, ketujuh miliarder itu ialah keluarga Haslam yang memiliki kekayaan USD5,9 miliar (sekitar Rp83,7 triliun), Walter Scott (USD4,8 miliar atau Rp68,1 triliun), Van Tuyl (USD3,9 miliar atau Rp55,3triliun), Ueltschi (USD2,5 miliar atau Rp35,4 triliun), David Gottesman (USD2,1 miliar atau Rp29,8 triliun), Wakil CEO Berkshire Charles Munger (USD1,5 miliar atau Rp21,2 triliun), dan Stewart Horejsi (USD1,5 miliar atau Rp21,2 triliun).

Ueltschi menjual perusahaan keluarganya, Flight Safety International, dengan saham Berkshire Hathaway pada 1996. Langkah serupa juga diambil Van Tuyl dan Haslam yang menjual Van Tuyl Group pada 2015 dan Pilot Flying J pada 2017. Adapun Scott, Gottesman, dan Horejsi merupakan investor utama dan setia Berkshire.

Sementara itu, Munger merupakan mitra bisnis Buffett sejak Berkshire masih menjadi perusahaan tekstil pada 1962. Dia turut berperan dalam mentransformasi Berkshire menjadi perusahaan raksasa yang merambah beragam sektor bisnis. Kini, Berkshire memiliki valuasi USD531 miliar (Rp7.537 triliun), kelima terbesar di dunia.

Di luar nama-nama di atas, ada juga sejumlah pebisnis yang beruntung bisa bekerja sama dengan Berkshire. Salah satunya Bill Child, pendiri perusahaan RC Willey Home Furnishing. Child mengaku senang dengan keputusannya menukar RC Willey Home Furnishing dengan saham Berkshire pada 1995.

Saat itu nilai saham yang dimilikinya hanya senilai USD24.000, sedangkan sekarang naik berkali-kali lipat dengan total mencapai USD2,5 miliar. "Itu adalah keputusan terbaik saya," kata Child. Perjalanan bisnis Berkshire tidak sepenuhnya mulus. Sahamnya sempat anjlok selama krisis keuangan 2008.

Namun, para investor, terutama yang menumbuhkan Berkshire sejak 1964, tidak putus asa dan membantu Berkshire bangkit dari keterpurukan. Saat ini mereka meraih keuntungan 165 kali lipat dari target awal. Sebagai gambaran, investasi USD10.000 pada 55 tahun lalu sama dengan USD170 juta pada tahun ini.

"Orang bijak akan berkata, ’Buffett merupakan orang hebat, rekam jejaknya fenomenal, saya akan melakukan seperti yang dia lakukan’," ujar Manajer Portfolio Cheviot Value Management Darren Pollock, yang juga memiliki saham di Berkshire.

Buffett merupakan investor yang membeli perusahaan tanpa mencabut pemilik aslinya dari kursi manajemen. Contohnya akuisisi dealer mobil Van Tuyls senilai USD4,1 miliar, produsen rumah pra-fabrikasi Clayton Homes (USD1,7 miliar), Rose Blumkin Nebraska Furniture Mart (USD55 juta), dan Ueltschi (USD1,5 miliar).

Kevin Clayton, yang memimpin bisnis ayahnya, Clayton Homes, mengatakan, perjanjian dengan Buffett membantu perusahaannya berkembang dan aktif dalam program sosial seperti donasi terhadap Knoxville, Kebun Binatang Tennessee, dan pusat studi. Capaian itu disebut tidak akan dapat diraih tanpa Buffett.

Pebisnis lain seperti Child, Helzberg, dan Alfond juga mengaku menerima keuntungan tambahan dari kepemilikan saham di Berkshire. Pada masa awal Buffett lebih senang membayar dengan uang tunai. Kini dia menukarnya dengan saham selama perusahaan yang dinegosiasikan memiliki nilai yang signifikan.

Sebanyak 25.203 lembar saham Berkshire yang digunakan Buffett untuk membeli Dexter pada 1993 kini memiliki nilai USD8 miliar. Namun, Barnett Helzberg Jr, yang menekan kesepakatan dengan Buffett di New York, menolak berbicara tentang saham itu. Dia hanya mengatakan investasi Buffett bersifat jangka panjang.

Model akuisisi dengan saham menarik bagi para pembeli. Tapi tidak selalu berujung manis bagi Buffett. Pria berusia 88 tahun itu mengatakan Dexter merupakan kesepakatan terburuk yang pernah dia tekan. Setelah gagal melihat nilai keunggulan persaingan bisnis Dexter, dia juga menyesal menggunakan saham Berkshire.

Cucu pendiri Nebraska Furniture Mart Rose Blumkin, Irv Blumkin yang juga menyarankan Child menukar perusahaannya dengan saham Berkshire, menolak berkomentar tentang hal itu. Pebisnis lain juga bungkam. Kepemilikan saham sebagian investor di Berkshire kian hari kian gemuk, sedangkan yang lain statis.

Raja Akuisisi

Kejayaan Berkshire, yang menuntun Buffett menjadi orang terkaya keempat di dunia pada 2019, tidak terlepas dari kepandaian Buffett bermain saham. Sejak membeli saham Berkshire pada 1962, Buffett tidak langsung mengibarkan kesuksesan. Dia justru dirisaukan dengan melesunya bisnis tekstil dan modal.

Selain itu, pemilik Berkshire Seabury Stanton mengecewakannya dengan janji dan harapan palsu. Buffett pun batal menjual saham Berkshire karena ditawar begitu rendah. Dia berpikir keras sebelum akhirnya memutuskan membeli lebih banyak saham Berkshire supaya dapat memegang kendali dan memecat Stanton.

Berikutnya Buffett memutar otak agar Berkshire tidak runtuh akibat krisis keuangan. Pada 1967, dia mulai menambah bisnis asuransi sebagai bagian dari Berkshire. Alumnus Universitas Columbia itu membeli National Indemnity Company dan saham ekuitas Government Employees Insurance Company (GEICO).

Sekitar 18 tahun kemudian Berkshire menghentikan bisnis tekstil dan aktif melakukan akuisisi. Saat ini ranah bisnis Berkshire mencapai puluhan, di antaranya bisnis gula, ritel, kereta api, perabot rumah tangga, ensiklopedia, vacuum cleaner, toko perhiasan, surat kabar, seragam, utilitas listrik dan gas, hingga maskapai.

Pemerhati investasi dari Ruane Cunniff & Goldfarb, Jonathan Brandt mengatakan, Buffett menolak memberikan dividen dan memilih akuisisi karena lebih produktif. "Salah satu alasan Berkshire maju di peringkat kapitalisasi pasar ialah karena mereka tidak membagikan dividen sehingga uang menumpuk," katanya.

Artikel Asli