Tertua di Dunia, Situs Gunung Padang Jadi Wahana Sejarah Spiritual
JAKARTA, iNews.id - Destinasi wisata sejarah Situs Gunung Padang di Cianjur, Jawa Barat, merupakan peninggalan megalitikum terbesar di Asia Tenggara yang berbentuk punden berundak. Terletak di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, situs purbakala ini menyimpan daya tarik luar biasa karena keunikannya yang kerap dikaitkan sebagai salah satu struktur tertua di dunia.
Kompleks Gunung Padang terdiri atas susunan batu andesit yang membentuk lima teras bertingkat. Setiap teras memiliki fungsi dan makna tersendiri, yang diyakini berkaitan dengan aktivitas spiritual masyarakat prasejarah. Untuk mencapai puncaknya, pengunjung harus menaiki ratusan anak tangga batu yang dikelilingi panorama alam pegunungan yang masih asri.
Keistimewaan Situs Gunung Padang tak hanya terletak pada ukurannya, tetapi juga pada misteri yang menyelimutinya. Sejumlah penelitian menyebutkan struktur ini bisa saja jauh lebih tua dari piramida di Giza Pyramid Complex. Meski masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan, ini semakin menambah daya tarik Gunung Padang sebagai situs yang menyimpan banyak teka-teki sejarah.
Ragunan Diserbu Wisatawan! Taman Margasatwa di Jaksel Ini Jadi Primadona Libur Lebaran 2026
Tak hanya destinasi wisata, Situs Gunung Padang juga menjadi sarana spiritual. Memperingati Hari Bumi, pengurus Forum Pemimpin Redaksi Media Siber Indonesia, penggiat alam bebas, anggota Hubungan Antar Agama dan Kemasyarakatan (HAAK) dan komunitas lingkungan hidup Gereja Katedral Jakarta, berkumpul dalam kegiatan doa lintas spiritual di situs bersejarah.
Dalam keterangannya, Dar Edi Yoga menegaskan kegiatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan panggilan batin untuk mengembalikan kesadaran manusia terhadap bumi dan kehidupan.
“Kami tidak datang untuk meminta, tetapi untuk bersujud dalam syukur dan kesadaran. Bumi ini bukan untuk dieksploitasi tanpa batas, tetapi untuk dijaga. Ini adalah seruan tobat ekologis,” ujar Ketua Umum Forum Pemimpin Redaksi Media Siber Indonesia sekaligus Bendahara PWI DKI Jaya, Dar Edi Yoga dalam keterangan persnya, Kamis (23/4/2026).
Sejumlah tokoh turut hadir, di antaranya Ketua Bidang Pembelaan dan Pembinaan Hukum PWI Pusat Anrico Pasaribu, anggota Dewan Pakar PWI Pusat Raldy Doy, Wakil Sekjen WALUBI Romo Asun Gotama, serta jajaran pengurus PWI Pusat dan PWI DKI Jaya.
Dia menyoroti kerusakan alam yang berujung pada bencana tidak semata persoalan teknis, tetapi juga mencerminkan cara manusia memperlakukan bumi yang semakin menjauh dari nilai keseimbangan.
“Jika manusia lupa cara menghormati bumi, maka alam akan mengingatkan dengan caranya sendiri. Doa ini adalah ikhtiar agar Indonesia kembali menjadi negeri yang ramah, terhindar dari bencana dan gejolak,” katanya.
Sementara itu, Wakil Sekjen WALUBI Romo Asun Gotama menekankan pentingnya dimensi spiritual dalam menjaga kelestarian alam. Menurutnya, kesadaran ekologis tidak bisa dilepaskan dari kesadaran batin manusia.
“Dalam ajaran Buddha, harmoni dengan alam adalah bagian dari praktik kebijaksanaan. Ketika manusia hidup dengan kesadaran, welas asih, dan tidak serakah, maka alam pun akan terjaga. Doa ini menjadi pengingat bahwa merawat bumi adalah bagian dari laku spiritual,” ujarnya.
Gunung Padang dipilih sebagai lokasi kegiatan karena dinilai sebagai ruang sunyi peradaban, tempat manusia diajak kembali pada akar kesadaran tentang asal dan tujuan hidup. Kegiatan ini diharapkan menjadi pengingat bahwa menjaga bumi tidak cukup hanya dengan kebijakan dan teknologi, tetapi juga membutuhkan kesadaran spiritual yang mendalam.

