Kronologi Lengkap Bayi 1,5 Tahun Hipotermia di Gunung Ungaran usai Diajak Orang Tua Mendaki

Kronologi Lengkap Bayi 1,5 Tahun Hipotermia di Gunung Ungaran usai Diajak Orang Tua Mendaki

Travel | inews | Senin, 13 April 2026 - 15:22
share

SEMARANG, iNews.id - Insiden mengerikan dialami bayi berusia 1,5 tahun di Gunung Ungaran, Semarang. Bayi tersebut mengalami hipotermia karena cuaca gunung yang sangat ekstrem.

Si bayi tentu saja tidak mendaki seorang diri, dia dibawa kedua orang tuanya mendaki Gunung Ungaran, Semarang. Aksi ini memicu kemarahan netizen, menganggap orang tua si bayi sangat egois.

Seperti apa cerita lengkap kejadian ini? Simak berita selengkapnya hanya di artikel ini.

Bayi 1,5 tahun mengalami hipotermia di Gunung Ungaran. (Foto: X)

Kronologi Lengkap Bayi 1,5 Tahun Alami Hipotermia di Gunung Ungaran

Insiden mengerikan ini terjadi pada Sabtu, 11 April 2026. Sepasang suami-istri asal Kota Semarang nekat membawa bayi mereka yang baru berusia 1,5 tahun mendaki Gunung Ungaran via Jalur Perantunan, Bandungan, Kabupaten Semarang.

Sang bayi akhirnya mengalami kedinginan di tengah jalur dan harus dibantu tim SAR. Sebelum itu semua terjadi, pasangan suami-istri itu sudah diperingati akan adanya cuaca berbahaya, terlebih bagi anak-anak.

Namun peringatan tersebut tidak menyurutkan niat kedua orang tua sang bayi untuk melakukan pendakian tektok. Mereka menyatakan sanggup menanggung risiko dan menjamin keselamatan buah hati mereka. Atas dasar pernyataan kesanggupan tersebut, petugas akhirnya mengizinkan mereka naik.

Rombongan kecil itu pun memulai pendakian. Jalur Perantunan memiliki panjang sekitar 5 kilometer dengan lima pos utama sebelum mencapai puncak, dengan waktu tempuh sekitar tiga hingga empat jam.

Basecamp berada di ketinggian 1.290 mdpl, sementara puncak Gunung Ungaran berdiri di ketinggian 2.050 mdpl, selisih elevasi lebih dari 700 meter yang membuat suhu udara turun drastis seiring ketinggian.

Perjalanan berlanjut melewati pos demi pos. Cuaca yang tidak bersahabat membuat suhu terasa semakin menggigit, terutama bagi sang bayi yang sistem pengaturan suhu tubuhnya belum berkembang sempurna.

Dan masalah mulai muncul ketika rombongan kecil ini sampai di Pos 4 Pendakian Jalur Perantunan. Alih-alih kompak, pasangan suami-istri tersebut justru terlibat perselisihan. Sang suami bersikeras ingin melanjutkan pendakian hingga ke puncak, sementara sang istri meminta untuk segera turun kembali ke basecamp.

Di tengah perdebatan orang tuanya, sang bayi mulai rewel dan menangis terus-menerus. Saat itu, cuaca di ketinggian memang terasa sangat dingin.

Kondisi bayi yang semakin mengkhawatirkan di tengah suhu pegunungan yang rendah menjadi titik kritis dari keseluruhan kejadian ini.

Beruntung, ada anggota SAR yang sedang melakukan kegiatan SMR (Search and Mountain Rescue) di sekitar lokasi. Mengetahui kondisi bayi yang kedinginan dan situasi orangtua yang tengah berdebat, tim SAR segera mengambil tindakan.

Selimut darurat atau blanket emergency segera digunakan untuk menyelimuti tubuh sang bayi guna mencegah penurunan suhu tubuh lebih lanjut. Tindakan cepat ini menjadi penyelamat situasi sebelum proses evakuasi dimulai.

Setelah kondisi bayi distabilkan, tim SAR bersama orang tua segera membawa bayi tersebut turun menuju basecamp. Setelah ditenangkan dan diberikan kehangatan tambahan, bayi tersebut langsung dibawa turun bersama orangtuanya menuju basecamp.

Kejadian ini kemudian beredar luas di media sosial dengan narasi yang sebagian besar menggambarkan kondisi bayi dalam keadaan kritis akibat hipotermia parah. Padahal, kondisi bayi tidak separah itu, namun benar mengalami hipotermia tapi ringan.

Meski demikian, kejadian ini tetap menjadi pengingat serius. Kemampuan bayi untuk mengatur suhu internal tubuh tidak sebaik orang dewasa, dan bayi dengan hipotermia berisiko tinggi mengalami gangguan pernapasan, metabolisme, sampai gangguan kesadaran.

Topik Menarik