Alasan Penduduk China Tak Mau Melahirkan, Biaya Hidup Anak Tembus Rp 1,2 Miliar

Alasan Penduduk China Tak Mau Melahirkan, Biaya Hidup Anak Tembus Rp 1,2 Miliar

Travel | inews | Sabtu, 3 Januari 2026 - 16:09
share

JAKARTA, iNews.id – Penurunan angka kelahiran di China terus menjadi sorotan dunia. Meski pemerintah telah menggulirkan berbagai kebijakan, kenyataannya banyak warga China justru memilih menunda, bahkan tidak ingin memiliki anak. Ada sejumlah alasan utama yang membuat tren kelahiran di Negeri Tirai Bambu kian merosot.

Salah satu kebijakan terbaru yang menuai kontroversi adalah pengenaan pajak penjualan alat kontrasepsi sebesar 13 persen yang mulai berlaku pada 1 Januari 2026. Kebijakan ini diambil sebagai upaya mendorong angka kelahiran, namun justru memicu perdebatan di kalangan masyarakat.

Banyak pihak menilai kebijakan tersebut tidak menyentuh akar persoalan. Sejumlah pihak menggap kenaikan pajak kondom dapat meningkatkan kelahiran sebagai “upaya berlebihan dan tidak tepat sasaran”.

Faktor ekonomi menjadi alasan terbesar penduduk China enggan melahirkan. Kondisi ekonomi yang lesu, ditambah krisis properti yang berkepanjangan, membuat keluarga muda merasa masa depan finansial mereka tidak pasti. Situasi ini mendorong banyak pasangan untuk berpikir ulang sebelum memutuskan memiliki anak.

Selain itu, biaya membesarkan anak di China tergolong sangat tinggi. Laporan YuWa Population Research Institute di Beijing pada 2024 menyebut China sebagai salah satu negara termahal untuk membesarkan anak di dunia. Biaya pendidikan yang mahal dan sistem akademik yang sangat kompetitif menjadi beban utama keluarga.

Rata-rata, biaya yang dibutuhkan untuk membesarkan seorang anak hingga usia 17 tahun mencapai 75.700 dolar AS atau sekitar Rp1,2 miliar. Angka ini membuat banyak pasangan merasa kewalahan, terutama bagi mereka yang tinggal di kota-kota besar.

Perempuan juga menghadapi tantangan tersendiri. Tekanan untuk menyeimbangkan karier dan peran sebagai ibu masih menjadi persoalan besar. Banyak perempuan khawatir kehamilan dan pengasuhan anak akan menghambat perkembangan karier mereka.

Data resmi menunjukkan populasi China terus menyusut selama tiga tahun berturut-turut. Pada 2024, jumlah kelahiran hanya tercatat 9,54 juta bayi, sekitar setengah dari angka kelahiran satu dekade lalu ketika pembatasan jumlah anak mulai dilonggarkan.

Kini, China menghadapi perubahan besar. Dari negara dengan populasi terbesar di dunia, China justru bergulat dengan krisis generasi muda. Beragam kebijakan telah ditempuh, namun tanpa perbaikan ekonomi dan dukungan nyata bagi keluarga muda, alasan penduduk China untuk enggan melahirkan tampaknya belum akan berubah.