Cita cita Masyarakat Polewali Mandar Punya Perpustakaan Megah Sudah Terwujud

Cita cita Masyarakat Polewali Mandar Punya Perpustakaan Megah Sudah Terwujud

Travel | BuddyKu | Jum'at, 29 September 2023 - 13:13
share

Cita-cita masyarakat Polewali Mandar untuk memiliki gedung perpustakaan daerah membanggakan sudah terkabul. Bangunan megah tiga lantai senilai Rp 10 miliar yang bersumber dana alokasi khusus (DAK) Perpustakaan Nasional (Perpusnas) tahun 2022 sudah selesai. Bangunan itu dilengkapi dengan ruang baca umum, fasilitas ruang baca lansia, ruang diorama, ruang audio visual, ruang baca outdoor , ruang digital, hingga ruang laktasi.

Kami sengaja tempatkan di kawasan Sport Center , di publik area. Jadi, misal orang-orang yang ingin beristirahat setelah berolahraga bisa berkunjung. Siapa pun bisa mengisi waktu luangnya dengan membaca di perpustakaan, kata Bupati Polewali Mandar Andi Ibrahim Masdar, pada peresmian Gedung Perpustakaan Umum Daerah Polewali Mandar, mendampingi Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando, Jumat (29/9).

Setelah peresmian, Andi berjanji merencanakan akselerasi peningkatan indeks literasi dengan membangun 10 gazebo baca yang kedap suara dan kafe literasi.

Pada kesempatan sebagai pembicara kunci, Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando mengatakan, setidaknya ada empat faktor penyebab kemiskinan. Pertama, akses ke ilmu pengetahuan yang kurang. Kedua, minim skill, inovasi, dan kreativitas. Ketiga, akses permodalan yang amat sangat terbatas. Keempat, budaya malas yang masih menjadi kebiasaan.

Keempat masalah ini bisa ditangani melalui pendalaman pengetahuan. Pengetahuan ini tidak hanya didapat di bangku sekolah, tapi juga di perpustakaan. Sayangnya, saat berbicara pendidikan, patokannnya hanya melalui ijazah dan nilai.

Akibatnya, banyak lulusan sarjana yang mengantongi nilai kelulusan tinggi tapi tidak mampu berbuat banyak mengatasi persoalan di masyarakat. Karena mind set mereka setelah lulus belajar adalah mencari pekerjaan bukan menciptakan lapangan pekerjaan, ungkap Syarif Bando.

Dia menegaskan, kualitas pengetahuan seseorang tidak bisa diukur hanya melalui ijazah. Tapi ukurlah pengetahuan dengan kebiasaan membacanya. Sebab, dari kebiasaan membaca bisa lahir bermacam teknologi yang bermanfaat buat kehidupan semesta. Tidak ada transfer teori dan praktik dari buku ke otak kecuali dengan membaca, jelas Syarif.

Pada sesi talkshow, Ketua DPRD Polewali Mandar Jupri Mahmud menerangkan, saat ini kalangan legislatif dan ekeskutif sudah satu frekuensi bahwa perpustakaan adalah hal fundamental untuk memajukan kondisi masyarakat. Tidak ada alasan bagi daerah untuk tidak mendukung, karena legal hukum melalui undang-undang dan Peraturan Pemerintah (PP) tentang perpustakaan sudah ada.

Kita pun sejak 2021 telah memiliki peraturan daerah tentang penyelenggaraan perpustakaan, terang Jupri.

Jupri melanjutkan, dengan kualitas literasi yang kurang, tidak akan ada kemajuan berarti dari suatu daerah. Maka dari itu, pihaknya bakal mengamini usulan Bupati yang menghendaki adanya gazebo baca dan kafe literasi sebagai percepatan indeks literasi di Polman.

Selama masa reses pun, lanjut dia, DPRD menerima adanya permintaan dibangunnya taman baca masyarakat berikut koleksi buku-buku di desa-desa. Permintaan ini sudah disampaikan masyarakat sejak 2020.

Tapi kita menemui kendala karena aturan atau sistem informasi yang mengakomodir program belum ada. Padahal, kondisi daerah memerlukan daya dorong atau program jemput bola karena banyak daerah yang mengalami kondisi masyarakat yang kurang minat baca, ungkap Jupri lagi.

Sementara itu, pegiat pustaka bergerak Perahu Pustaka Muhammad Ridwan Alimuddin menyatakan, secara statistik, Indonesia termasuk negara yang paling banyak memiliki perpustakaan. Namun, seperti yang disampaikan Kepala Perpusnas, justru akses terhadap ke bahan bacaan yang belum memadai.

Ambil contoh di perpustakaan sekolah, yang kondisi ruangan perpustakaan malah dialihfungsikan menjadi gudang alat olahraga. Kalau pun ada koleksi buku-buku, malah dibiarkan bertumpuk, berdebu, dan masih terbungkus plastik, terang Alimuddin.

Alimuddin berterima kasih, karena keberadaan pustaka bergerak sangat di-support Perpustakaan Nasional. Menurutnya, ini tentu sangat memberikan motivasi bagi pegiat literasi bergerak.

Namun, ia mengharapkan adanya dukungan konkret, misal dukungan perpustakaan daerah agar memfasilitasi para penulis di Polman terkait review naskah dan kepengurusan ISBN. Sehingga ilmu pengetahuan dapat terus berproduksi lewat ekosistem literasi yang dibangun, pungkas Alimuddin.

Sesi talskhow juga menghadirkan narasumber akademisi dari Universitas Al Syariah Mandar, Ahmad Al Yakin, dan Pustakawan Utama Perpusnas Abdullah Sanneng. Pada kesempatan yang sama, Bupati Andi turut mengukuhkan Jumriah Ibrahim sebagai Bunda Literasi Kabupaten Polewali Mandar periode 2022-2023.

Topik Menarik