Berisiko Terjadi di Indonesia, Begini Sejarah hingga Cara Penularan Virus Nipah!

Berisiko Terjadi di Indonesia, Begini Sejarah hingga Cara Penularan Virus Nipah!

Travel | BuddyKu | Kamis, 21 September 2023 - 18:18
share

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Belakangan kita dikejutkan dengan menyebarnya virus Nipah di Kerala, India, dan menyebabkan 2 orang meninggal. Ini membuat Nipah menjadi perhatian dunia, termasuk Indonesia.

Peneliti dan Konsultan Hematologi - Onkologi Prof Dr dr Zubairi Djoerban, SpPD, KHOM katakan, virus Nipah masuk dalam genus Henipavirus dan famili paramyxoviridae. Pertama kali terdeteksi pada 1998-1999 di Malaysia dan Singapura.

Wabah terkini dilaporkan pada 4 Januari hingga 13 Februari 2023 di Bangladesh dengan 11 kasus. Sedangkan di Kerala, India, ini masuk wabah keempat sejak tahun 2018.

Lantas, bagaimana cara penularan virus Nipah?

"Virus bisa bertransmisi dari kontak langsung dengan cairan tubuh seperti darah, urin, air lur, kelelawar atau babi. Selain itu mengonsumsi makanan atau buah yang terkontaminasi cairan hewan yang terinfeksi NiV," ujar Prof Zubairi, dikutip dari konten edukasi kesehatannya, Kamis (21/9/2023).

Penularan juga bisa terjadi melalui kontak dekat dengan orang yang terinfeksi NiV, dan terpapar cairan tubuhnya, seperti urin dan darah.

Mereka yang terinfeksi akan mengalami demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, radang. Gejala awal tersebut bisa diikuti terganggunya kesadaran, pembengkakan otak akut, pneumonia atipikal, dan permasalahan pada pernapasan.

Saat ini tidak ada pengobatan berlisensi yang tersedia untuk infeksi NiV. Pengobatan terbatas pada perawatan suportif dan gejala yang muncul. Pengobatan imunoterapi (monoclonal antibody therapies) yang saat ini baru masuk uji klinis 1.

"Pengobatan antivirus remdesivir memang dipakai. Tapi efektif pada primata bukan manusia. Ribavirin sebenarnya telah digunakan untuk mengobati sejumlah pasien di Malaysia, namun kemanjurannya pada manusia belum jelas," jelas Prof Zubairi.

Tingkat kematian kasus diperkirakan mencapai 40% hingga 75%. Angka ini dapat bervariasi berdasarkan wabah, tergantung kemampuan surveilans epidemiologi dan manajemen klinis.

"Hingga saat ini belum ada kasus NiV pada manusia di Indonesia, namun ada potensi untuk masuk karena adanya temuan virus NiV di kelelawar buah di berbagai negara, termasuk Indonesia," kata Prof Zubairi.

Melihat penularannya yang bisa berasal dari droplet hingga sekresi pernapasan, diimbau Prof Zubairi untuk menggunakan masker. Diimbau tidak panik dan sekain waspada dengan Niv juga waspada dengan polusi udara.

"Namun saat ini jangan terlalu panik. Kita upayakan untuk menjaga diri. Tidak hanya karena NiV, tapi juga polusi udara," kata Prof Zubairi.

Topik Menarik