Dikenal Angker, Ini Alasan Kenapa Aokigahara Jepang Dijuluki Hutan Bunuh Diri!
HUTAN Aokigahara yang terletak di sebelah Barat Laut Gunung Fuji, Prefektur Yamanashi, Jepang terkenal sangat angker dan dijuluki sebagai Hutan Bunuh Diri. Kok bisa?
Aokigahara merupakan hutan seluas 30 kilometer persegi yang tumbuh di atas muntahan lahar Gunung Fuji pada letusan di abad ke-9.
Karena sangat lebat dan horor, sebagian besar wilayah hutan Aokigahara belum tersentuh manusia. Banyak tanaman langka tumbuh subur di Aokigahara. Hutan ini juga rumah bagi banyak satwa liar dan endemik Jepang seperti cerpelai Jepang, tikus Jepang, hingga beruang hitam Asia.
5 Fakta Horor Aokigahara, Hutan Angker Tempat Bunuh Diri Paling Populer Alih-alih terkenal dengan kekayaan ekosistemnya, Aokigahara justru lebih dikenal sebagai hutan bunuh diri. Bahkan reputasinya sebagai hutan bunuh diri menjadi inspirasi dari berbagai novel, film horor hingga acara TV Jepang.
Dilansir dari Howstuffworks , Aokigahara dijuluki Hutan Bunuh Diri tak terlepas dari banyaknya kasus bunuh diri yang terjadi di hutan tersebut.

Aturan Baru untuk Wisatawan yang Berkunjung ke AS, Trump Minta Jejak Digital 5 Tahun Terakhir
Gunung Fuji di Jepang (Lonely Planet)
Menurut pemerintah Prefektur Yamanashi, ada lebih 100 kasus bunuh diri yang terjadi di hutan ini dalam kurun waktu 2013 hingga 2015.
Saking banyaknya korban bunuh diri yang terus saja terjadi, saat ini Pemerintah Jepang tidak lagi memberikan statistik bunuh diri di Aokigahara sebagai upaya pencegahan orang untuk melakukan percobaan bunuh diri di sana.
5 Tempat Paling Mengerikan di Jepang, Pengunjung Ada yang Gila Akibat Tak Kuat Mental Menurut seorang profesor dari Universitas Meiji di Tokyo, Aokigahara sudah jadi tempat bunuh diri sejak berabad-abad lalu oleh sebuah sekte biksu Buddha.
Sama seperti gunung lainnya, Gunung Fuji serta hutan-hutan yang mengelilinginya menjadi tempat yang dianggap suci. Selama lebih dari 1000 tahun, para pertapa biksu Buddha mengasingkan diri dan bermeditasi di tempat ini hingga berakhir pada kematian.
Salah satu tradisi menyebutkan jika para biksu bermeditasi di hutan selama 1000 hari dengan hidup bergantung pada daun dan kulit kayu. Setelah itu, mereka akan dikubur hidup-hidup untuk bermeditasi di bawah tanah. Tujuan utama penguburan ini adalah untuk mengubah tubuh menjadi sokushinbutsu atau mumi.
Bentuk ritual bunuh diri kuno ini dipercaya menjadi salah satu latar belakang dari banyaknya orang Jepang yang melarikan diri ke hutan ini untuk bunuh diri.

Namun lebih dari itu, hutan Aokigahara dianggap sebagai tempat yang ideal untuk bunuh diri. Hal ini karena luasnya hutan akan membuat setiap orang yang putus asa tidak akan bertemu siapapun.
Menurut Atlas Obscura , banyaknya kasus bunuh diri yang tak terhindarkan membuat polisi tidak lagi menghalangi orang-orang yang bertekat untuk bunuh diri. Namun pada setiap pohon di hutan ini, polisi akan memasang sebuah tanda yang bertuliskan "Hidupmu adalah hadiah keluarga dari orang tuamu" dan "Silahkan berkonsultasi ke polisi sebelum memutuskan untuk mati".



