Asal Usul Gelar Haji Di Indonesia, Bukan Dari Arab
AKURAT.CO, Di Indonesia, ada kebiasaan menarik setiap kali orang pulang dari ibadah Haji di Tanah Suci selama 40 hari, yakni yang bersangkutan akan dipanggil "Pak/Bu Haji" atau mencantumkan gelar "H" di depan namanya.
Bahkan, tak jarang orang yang belum pergi haji juga dipanggil dengan sebutan serupa.
Namun, perlu diketahui panggilan seperti ini bukanlah sesuai syariat Islam, atau aturan dari Kerajaan Arab Saudi.
Artinya, panggilan ini hanya ada di Indonesia.
Dan "biang kerok" dari kebiasaan ini adalah pemerintah kolonial Hindia Belanda. Kok, bisa?
Asal usul panggilan haji di Indonesia
Melansir laman Kementerian Agama, pemberian gelar haji dan hajjah telah terjadi sejak masa silam.
Filolog Oman Fathurahman, atau Kang Oman dalam penjelasannya melalui Kemenag mengatakan, pasalnya, perjalanan menuju Tanah Suci bagi orang Nusantara menjadi perjuangan berat tersendiri, harus mengarungi lautan, menerjang badai berbulan-bulan, menghindari perompak, hingga menjelajah gurun pasir
Seorang yang pada akhirnya berhasil melalui ujian tersebut, lalu berhasil kembali selamat ke Tanah Air, kemudian dianggap berhasil mendapat anugerah dan kehormatan.
Terlebih, Ka\'bah dan Mekkah merupakan kiblat suci umat Islam sedunia.
Haji dan perlawanan Indonesia terhadap penjajahan Belanda
Taktik pemerintah Belanda ini sesungguhnya sangat tepat. Karena, beberapa organisasi besar Islam dibangun usai pendirinya haji.
Organisasi ini memotori gerakan perlawan dan eksis hingga kini. Berikut contohnya:
1. KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah pada 1912
2. KH Hasyim Asy\'ari mendirikan Nahdlatul Ulama pada 1926
3. KH Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam (SDI) pada 1905
4. HOS Tjokroaminoto mendirikan Serikat Islam (SI) pada 1912.
Sifat perlawanan organisasi ini berbeda dengan sebelumnya.
Perlawanan di masa awal penjajahan Belanda cenderung tidak terkoordinasi, dalam skala kecil, dan menggunakan kekuatan otot. Perlawanan ini mudah diredam dan banyak tidak tercatat dalam sejarah.
Dengan adanya organisasi pergerakan, perlawanan terhadap penjajah lebih teratur dan menggunakan siasat.
Keteraturan memungkinkan perlawanan skala besar dengan dampak yang positif bagi kemerdekaan Indonesia. Penjajah tentu dirugikan dengan adanya era baru ini.
Pertimbangan itulah yang membuat Belanda menyusun ibadah haji menjadi lebih terkoordinasi.
Belanda tidak melarang namun membuatnya terorganisasi, yang memudahkan pengawasan pada para jamaah.
Selain memberikan gelar, jamaah wajib dikarantina lebih dulu selama empat bulan saat sebelum dan sesudah menunaikan haji.
Karantina tidak hanya bertujuan mencegah masuknya penyakit dari luar Indonesia.
Belanda tak segan ambil tindakan pada jamaah haji yang mulai menunjukkan perlawanan selama karantina.


