Suhu Panas Bikin Rentan Heatstroke dan Dehidrasi, Apa Bedanya?
SUHU udara dan cuaca panas beberapa waktu belakangan ini dikeluhkan banyak masyarakat Indonesia. BMKG sendiri melaporkan sempat mencatat suhu terpanas hingga 37 derajat Celcius terjadi di Ciputat, Tangerang Selatan.
Secara umum, gelombang panas atau heatwave memang tengah melanda benua Asia. Mengutip laman resmi BMKG, Rabu (26/4/2023), memang sejak pekan lalu hampir sebagian besar negara-negara di Asia Selatan masih terdampak gelombang panas atau "heatwave", Bangladesh, Myanmar, India, China, Thailand dan Laos bahkan sudah melaporkan kejadian suhu panas lebih dari 40 derajat Celcius selama beberapa hari belakangan dengan rekor-rekor baru suhu maksimum di wilayahnya.
Suhu panas ekstrim seperti saat ini, membuat banyak orang rentan mengalami heatstroke dan juga dehidrasi. Sama-sama menjadi dampak atas suhu panas, tapi keduanya merupakan kondisi yang berbeda.
Heatstroke merupakan bentuk cedera akibat panas paling serius dan dianggap sebagai keadaan darurat medis. Mengutip WebMD, heatstroke bisa membunuh atau menyebabkan kerusakan pada otak dan organ tubuh dalam lainnya.
Umumnya, disebabkan karena kontak yang terlalu lama dengan suhu tinggi (panas) biasanya dikombinasikan dengan kondisi dehidrasi yang menyebabkan terjadinya kegagalan sistem kontrol suhu tubuh.
Patut diwaspadai, meski lebih sering menyerang orang dengan kelompok usia di atas 50 tahun, tapi heatstroke juga bisa berdampak dan menyerang orang-orang muda yang sehat sekalipun.
Sementara dehidrasi, dilansir dari Healthline adalah kondisi tubuh yang kehilangan lebih banyak air daripada biasanya. Misalnya, karena berkeringat secara intens tapi tubuh tak diisi cairan lagi (tidak minum), demam, atau karena sedang sakit yang menyebabkan muntah atau diare secara terus menerus. Ini semua merupakan kondisi yang bisa menyebabkan dehidrasi.
Gejalanya sendiri, mulai dari yang berskala ringan hingga sedang meliputi seperti kelelahan, mulut kering, meningkatnya rasa haus, buang air kecil berkurang, produksi air mata jadi lebih sedikit, kulit kering, perut sembelit, pusing, dan sakit kepala.
Dehidrasi sudah sepatutnya tak dipandang sebelah mata, karena seperti diungkap Dr. Muhammad Fajri Adda\'I, dokter relawan Covid-19 sekaligus edukator kesehatan, bisa menyebabkan dampak fatal yakni kematian.
Iya dalam keadaan tertentu, paling sering mengalami heatstroke dulu baru dehidrasi, ujar Dr. Fajri saat dihubungi MNC Portal Indonesia.
Apalagi ditambah suhu sampai ekstrim itu bisa, jadi dehidrasi bisa menyebabkan kematian, sementara heatstroke bisa mengganggu sistem sarafnya," pungkasnya.
