Ketersediaan Beras Jelang Nataru Aman
RADAR JOGJA Ketersediaan bahan pangan pokok khususnya beras menjelang Natal dan Tahun Baru 2023 dipastikan aman. Ketersediaan ini dilihat dari masih tersedia gabah di lumbung petani, maupun beras siap konsumsi sebanyak 400 ton di Gudang Beras UD Sri Rahayu Bantul.
Kepala Biro Administrasi Perekonomian dan Sumber Daya Alam (APSDA) Setda DIJ Yuna Pancawati mengatakan, ketersediaan beras dipastikan oleh Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) DIJ pada Jumat lalu (09/12) di Gudang Beras UD Sri Rahayu, Pandak, Bantul. Kami pastikan kemampuan UD Sri Rahayu menyediakan beras dengan komoditas giling per hari mencapai 50 kuintal dan rutin dipasok oleh petani, katanya.
Yuna menjelaskan menyongsong Nataru, harga kebutuhan bahan pangan mulai merangkak naik. Namun kenaikan ini masih terbilang wajar, mengingat juga terjadi pada skala nasional hingga memicu inflasi. Tercatat, pada minggu pertama Desember kenaikan inflasi terjadi dari angka 0,11 persen menjadi 0,32 persen karena kenaikan bahan bakar rumah tangga, ujarnya.
Oleh karena itu, untuk mengantisipasi gejolak di tengah masyarakat akibat kenaikan bahan pangan, pemprov melakukan berbagai kegiatan seperti operasi pasar, sidak di pasar-pasar tradisional maupun pasar modern, kerjasama dengan daerah penghasil pangan/produksi/komoditi pangan untuk kelancaran pasokan bahan pangan, gerakan menanam dan Gerakan Bantuan Tak Terduga (BTT) pangan.
Kami juga memberikan bantuan transportasi ke distributor pengiriman atau ongkos kirim sebesar Rp2.000 per kilo dari APBD DIJ. Ini dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya kenaikan harga dari tingkat distributor ke konsumen, jelasnya.
Kepala Badan Intelijen Daerah DIJ sekaligus Pengawas Pangan DIJ Brigjen Pol Andry Wibowo mengatakan, asosiasi atau distributor hasil pertanian sangat baik dalam merespon hasil pertanian. Distribusi juga merata dan seluruhnya, sehingga bisa terbeli oleh distributor baik yang berupa beras, cabai maupun produk pertanian lainnya. Masyarakat diimbau agar bijaksana dalam menyikapi stok pangan akhir tahun ini. Secara ketersediaan lebih dari cukup hingga seusai Natal 2022 dan Tahun Baru 2023 sangat cukup, katanya.
Hanya, ada periode-periode tertentu yang merangsang kenaikan harga, maka masyarakat hendaknya bisa melihat secara bijaksana. Hal ini karena menjadi siklus tahunan menjelang hari Natal dan Tahun Baru, maupun lebaran memang menjadi momen, barang ada harga naik, tambahnya.
Sementara, variabel lain yang cukup mendasar yaitu yang tidak bisa dijangkau pemerintah daerah adalah adanya kenaikan BBM, termasuk di dalamnya gas LPG, akibat masih tergantung harga beli import dan harga jual beli dunia. Namun demikian, pemerintah telah berupaya maksimal dalam rangka menyejahterakan masyarakatnya, imbuhnya. (wia/bah)

