Perpecahan di Kesultanan Cirebon Mirip dengan Mataram Islam
JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Abad ke 12 sampai 16 Masehi merupakan episode dalam sejarah Indonesia yang ditandai dengan munculnya kerajaan-kerajaan Islam. Salah satu di antaranya adalah Kesultanan Cirebon yang berada di antara Kesultanan Banten dan Mataram.
Heru Erwantoro dalam jurnalnya yang bertajuk "Sejarah Singkat Kerajaan Cirebon" menerangkan bahwa negara tersebut lahir pada 1479 dengan dinobatkannya Sunan Gunung Jati sebagai penguasa daerah tersebut. Eksistensi Kesultanan Cirebon bertahan sampai kira-kira tahun 1600an.
Selama 200 tahun keberadaannya, Cirebon telah berubah dari negara bawahan kerajaan Sunda menjadi salah satu pusat agama Islam di Tatar Pasundan. Barang tentu prestasi yang membanggakan tersebut ialah suatu pencapaian.
Pencapaian tersebut dibuktikan dari peninggalan-peninggalannya. Goa Sunyaragi dan Keraton Kasepuhan adalah beberapa di antaranya.
Pada 16 November 2022, tim Netralnews.com mengadakan kunjungan acara ke situs-situs tersebut. Dengan bantuan para pemandu, informasi menarik seputar kerajaan tersebut berhasil digali.
Elang Aji merupakan salah satu abdi dalem yang bekerja di Keraton Kasepuhan. Ketika tim reporter sampai ke bangunan pertama, yaitu Mande Semar Tinandu, sang abdi dalem mengungkapkan makna filosofis dalam bangunan tersebut.
Pada bangunan ini tidak ada kursi jadi semuanya duduk bersila sambil membungkuk untuk menghormati raja. Uniknya, pernyataan tersebut juga turut dilontarkan oleh pemandu wisata yang turut bekerja di Goa Sunyaragi pada kunjungan sebelumnya.
Bangunan kompleks Sunyaragi sengaja dibuat pendek agar membumikan nilai filosofis menghormati orang tua atau penting. Menariknya, sang tour guide juga menerangkan bahwa situs tersebut telah menjadi milik successor state dari Kesultanan Cirebon yaitu Kesultanan Kaprabonan.
Pernyataan ini barang tentu menimbulkan pertanyaan, apakah Cirebon mengalami perpecahan yang sama dengan Mataram?
Seperti yang kita tahu, Mataram Islam memiliki empat successor states Kesultanan Yogyakarta, Kesultanan Surakarta, Kadipaten Pakualaman, dan Kadipaten Mangkunegaran.
MC. Ricklefs dalam bukunya yang berjudul a History of Indonesia menerangkan proses disintegrasi Mataram tersebut. Disintegrasi pertama terjadi pada 1755, lewat Perjanjian Giyanti, Mataram terpecah menjadi dua antara Yogyakarta dan Surakarta.
Disintegrasi kedua terjadi dua tahun setelahnya. Perjanjian Salatiga mewajibkan Kesultanan Surakarta untuk melepas sebagian wilayahnya untuk dijadikan Kadipaten Mangkunegaran.
Perpecahan ketiga terjadi pada 1813 bertepatan dengan serbuan Inggris ke Jawa. Yogyakarta di bawah perintah Gubernur Raffles diwajibkan untuk memberikan sebagian wilayahnya yang mana akan digunakan untuk mendirikan Pakualaman.
Kembali lagi kepada pertanyaan soal disintegrasi Cirebon, hal tersebut dikonfirmasi oleh sang abdi dalem. Tahun 1678 Keraton Pakuwati ini terpecah menjadi dua keraton.
Pakuwati adalah nama lain dari Keraton Kasepuhan tersebut. Kalimat tersebut mengisyaratkan bahwa tahun itu Cirebon mengalami perpecahan. Pecahan dari gelombang pertama adalah timbulnya faksi Keraton Kanoman dan Kasepuhan.
Di masa abad ke-18, Keraton Kanoman ini memecahkan diri kembali, karena ada konflik antar keluarga di sini menjadi Keraton Kacirebonan. Tahun 1900, Keraton Kanoman pecah kembali, ada Keraton Peguron. Keraton Peguron ini adalah nama lain dari Keraton Kaprabonan.
Berdasarkan pernyataan tersebut jelaslah faksi Kanoman ini yang paling banyak mengalami perpecahan. Bagaimana tidak? Kacirebonan adalah turunannya yang mana memiliki turunan sendiri yaitu Kaprabonan.
Mirip seperti rekannya yang ada di tanah Jawa Tengah, Kesultanan Cirebon ini pecah dari dalam. Hal ini adalah petaka mengingat wilayahnya yang sempit, terhimpit oleh Banten dan Mataram makin menyipit.
Penulis: Muhamad Wafi Fahriawan
Mahasiswa Universitas Negeri Malang

