Tari Glipang Probolinggo: Sejarah, Kebudayaan Intangible, dan Wujud Kebudayaannya
PROBOLINGGO, NETRALNEWS.COM - Tari Glipang merupakan Seni Tari asal Probolinggo, Jawa Timur. Karya kesenian ini tercipta dari proses peradaban dari zaman ke zaman dan generasi, dimulai dari zaman penjajahan Belanda hingga zaman kemerdekaan.
Ide tari ini dicetuskan oleh Sandari dan dilanjutkan konsepnya oleh Sari Truno sehingga menjadi sebuah karya dan kearifan lokal. Pegembangan tari juga b erkelanjutan turun-temurun sampai cucunya yang bernama Ibu Asiya dan Karto Djirdjo (Maghfiroh, 2020:56).
Tari Glipang ini masih sering dijumpai pada saat diadakannya Pentas seni atau hajatan besar di Probolinggo.
Sejarah Tari Glipang
Pada 1912, Bapak Sandari bermigrasi ke Probolinggo. Sebelumnya beliau berasal dari Desa Omben, Sampang, Madura. Migrasi dilakukan karena beliau berebut untuk mengembangkan Tari Topeng Gethak.
Di Probolinggo, Sandiri tinggal di Pendil, Kecamatan Banyuanyar, Kabupaten Probolinggo. Di Desa Pendil ia mengajarkan Tari Topeng Gethak dan bela diri, namun ternyata masyarakat Pendil yang agamis sulit menerima seni tari tersebut .
Setelah berpikir keras, Sandiri mengubah alat musik yang awal mula gamelan menjadi alat musik terbang Gending. Namun disayangkan, di tengah ambisinya menciptakan karya, Sandiri meninggal dunia dan akhirnya konsep dan pemikirannya diwariskan ke Sari Truno, yang tak lain adalah putranya.
Aktivitas Sari Truno yang mengajarkan bela diri pada petani mulai diketahui pihak Belanda.Tidak menyerah, Sari Truno mengelabuhi Belanda dengan menggabungkan seni musik Terbang Gending, tari rudat, Saman, dan Hadrah. Hal ini dilakukan dengan harapan pihak Belanda tidak curiga lagi dengan aktivitas Sari Truno dan kawan-kawannya.
Dari sinilah awal mula Tari Glipang terbentuk, yang menciptakan sebuah ekpresi kesenian kolaborasi dari kesenian Pencak Silat, Tari Saman, Tari Rudat, Hadrah, diiringi musik Terbang Jidor.

