Candi Surawana sebagai Salah Satu Cagar Budaya Kediri
KEDIRI - Saat mendengar nama Kediri mungkin yang terlintas di pikiran Anda adalah Monumen Simpang Lima Gumul. Tapi siapa sangka Kediri memiliki peninggalan pada masa Hindu-Budha yang dijadikan sebagai tempat wisata.
Apa yang terlintas di pikiran Anda saat mendengar kata candi? Sebuah bangunan kuno, tempat beribadah, dan tempat wisata? Beberapa orang juga berpendapat bahwa candi menjadi peninggalan sejarah yang cukup penting.
Hampir semua peninggalan sejarah bisa dijadikan sebagai objek wisata. Salah satu contoh peninggalan sejarah yang dijadikan objek wisata yaitu Candi Surawana. Candi menjadi sumber sejarah berbentuk benda yang digunakan ahli sejarah untuk mengkaji peristiwa sejarah.
Cagar budaya, beberapa tidak mengetahui apa aitu cagar budaya. Cagar budaya merupakan warisan budaya bersifat kebendaan berupa benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, struktur cagar budaya, situs cagar budaya, dan kawasan cagar budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan.
Cagar budaya dibagi menjadi dua bentuk, yaitu tangible dan intangible . Lalu apa perbedaan dari kedua bentuk ini?
Jadi, tangible merupakan hasil kebudayaan yang berbentuk sebuah benda atau produk budaya berwujud nyata. Intangible merupakan hasil kebudayaan yang tidak berbentuk, berupa kepandaian, dan tradisi atau produk budaya yang tidak berwujud.
Candi Surawana menjadi salah satu cagar budaya berbentuk tangible. Di tingkat provinsi untuk itu, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Jawa Timur akan menugaskan seorang timnya untuk melestarikan dan merawat bangunan cagar budaya.
Candi Surawana menjadi salah satu cagar budaya yang harus dilestarikan. Kondisi Candi Surawana saat ini sangat baik dan terjaga kelestariannya. Cagar Budaya milik suatu negara memiliki perawatannya sendiri seperti, tim dari Tenaga Ahli Cagar Budaya (TAC).
Sebagai cagar budaya, Candi Surawana memiliki manfaat dalam bidang agama, sosial, pendidikan, pengetahuan, kebudayaan, serta pariwisata.
Candi Surawana terletak di Desa Canggu, Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri. Candi yang menghadap ke barat dengan ukuran 8 x 8, merupakan salah satu candi peninggalan kerajaan Majapahit pada abad ke-14. Diperkirakan dibangun pada 1390 merupakan tempat pendharmaan Bhre Wengker. Bhre Wengker yang dimaksud adalah Hyang Purwawisesa.
Saat saya datang ke tempat tersebut suasana Candi Surawana sangat sepi, hanya beberapa orang yang masuk untuk melihat-lihat. Akses jalan yang dilewati menuju candi sangat bagus berada di lingkungan yang strategis dekat dengan rumah para warga.
Menurut hasil wawancara penjaga Candi Surawana, sebelum adanya pandemi, pengunjung Candi mencapai 2.000 hingga 3.000 orang tiap bulannya. Saat datang ke Candi ini, saya tidak dikenakan biaya masuk.
Candi Surawana berbahan batu andesit dan merupakan Candi Syiwa. Candi ini berada tepat di tengah dengan taman yang mengelilingi candi dengan di bagian depan terdapat reruntuhan candi yang sengaja dibiarkan.
Adanya reruntuhan yang diletakan di depan candi membuat candi ini tidak dapat digunakan untuk acara hari besar. tetapi dapat digunakan untuk acara tirtayasa (untuk umat beragama Hindu).
Candi ini pernah dilakukan ekskavasi di tahun 1997. Ekskavasi dilakukan agar relief pada Candi dapat terbaca dan mengetahui fondasi dari Candi tersebut.
Menurut sebuah sumber, candi ini pernah dilakukan pemugaran oleh D.M. Verbeek dan J. Knebel di tahun 1908 dan oleh P.J. Perquin pada 1915.

