Menilik Stasiun Kabel Telegraf Bawah Laut Pertama Indonesia yang Ada di Banyuwangi
delta3.co.id Tiga hari lalu Indonesia memperingati hari Bhakti Post, Telegraph dan Telephone (PTT) peringatan ini mungkin bagi sebagian orang terdengar asing.
Lantaran dalam beberapa dekade terakhir, ketika peringatan ini dilaksanakan. Rerata titik beratnya bermuara pada Hari Bhakti Pos dan Telekomunikasi atau disebut Postel.
Sedangkan untuk telegraph yang hingga kini memang sudah tidak digunakan jarang sekali terdengar dalam peringatan dan acara seremonial yang meriah seperti hari-hari peringatan lainnya.
Padahal jika diruntut sejarahnya peringatan ini memiliki nilai yang sarat akan historis dalam upaya kemerdekaan Indonesia.
Mengingat peringatan hari PTT di Indonesia berawal dari perjuangan para pahlawan dalam mengambil Jawatan PTT dari tangan Jepang oleh Angkatan Muda PTT pada 27 September 1945, tepat 77 tahun yang lalu.
Kala itu, saat pemerintahan Jepang di Indonesia, jawatan PTT dikuasai oleh militer Jepang. Angkatan Muda PTT kemudian mengambil alih kekuasaan jawatan PTT tersebut dan kemudian secara resmi berubah menjadi Jawatan PTT Republik Indonesia.
Jika Pos dan Telephon hingga saat ini masih bisa kita menikmati, beda dengan Telegraph. Sebab seiring berjalanan waktu alat ini kemudian digantikan oleh telepon, mesin faks, dan Internet yang bahkan lebih cepat.
Namun tidak dipungkiri jika penemuannya menjadi pondasi awal bagi sejarah telekomunikasi dunia.Alat ini ditemukan oleh Samuel Finley Breese Morse dan Alfred Vail di tahun 1830-an.
Keduanya saat itu berhasil mengembangkangkan telegraf yang ada saat itu menjadi telegraf elektrik dan menggunakan kode-kode khusus dan mampu mengiriman pesan jarak jauh dalam waktu yang singkat.
Hingga 14 tahun setelah awal kali ditemukan alat tersebut dapat diuji cobakan pertama kali dari Washington, D. C. ke Baltimore, Maryland dengan jarak 70 kilometer.
Pesan Telegraf pertama waktu itu dilakukan langsung oleh penemunya Samuel Finley Breese Morse pada 1844. Selang 22 tahun kemudian tepatnya 1866, garis telegraf telah terpasang melintasi samudra Atlantik dari Asia Ke Eropa.
Jangan membayangkan pesan Telegraf masa kamari seperti kalian berbagi pesan di WhatsApp atau Telegram pada zaman kiwari. Sebab Cara kerja telegraf pada zaman itu kalian hanya perlu menekan kode untuk setiap huruf dalam bentuk sinyal panjang dan pendek.
Nah, sinyal pendek direpresentasikan sebagai titik (dits). Sedangkan sinyal panjang diwakili sebagai tanda hubung (dahs). Kode tersebut diubah menjadi impuls listrik dan dikirim melalui kabel telegraf yang pajang membentang.
Sinyal panjang dan pendek itulah yang disebut dengan sandi atau kode Morse, yang tentunya tidak sembarangan orang bisa membaca tanpa mengetahui arti dan maksud sandi dan kodenya itu.
Hari ini setelah 77 tahun setelah pengambilan Jawatan PTT dari tangan Jepang, ternyata peninggalan stasiun telegraf masih bisa ditemui di Kabupaten Banyuwangi.
Bagi kalian yang sempat dan ingin berkunjung di Bumi Blambangan, tidak ada salahnya kalian mampir ke lokasi ini.
Meski saat ini lokasi stasiun telegraf digunakan sebagai asrama TNI namun jejak peninggalan kolonial ini tetap masih bisa kalian temui dengan gratis tanpa perlu membayar biaya sepeserpun.
Lokasi stasiun ini berada di Kompleks Inggrisan Banyuwangi yang beralamat di Jalan Diponegoro Nomor 1, Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Kota Banyuwangi.
Meski asal-usul asrama ini memiliki tiga versi pembangunan, namun masyarakat tetap menjaga keutuhan bangunan yang ada di sebelah barat Taman Blambangan Banyuwangi.
Sumber pertama menyatakan bahwa Asrama Inggrisan dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1776-1811.
Sedangkan, sumber lainnya mengatakan bahwa bangunan ini dibangun pada tahun 1811-1816 oleh Letnan Kolonel Meycin S.Y seorang berkebangsaan Inggris yang menikah dengan wanita Belanda.
Ketidakpastian tentang pembangunan asrama ini didasari oleh tidak adanya bukti kuat terkait awal mula pembangunannya.
Bahkan adapula yang menyebutkan bahwa, masa pembuatan asrama ini sejak tahun 1736-1757 oleh rakyat Blambangan pada saat Pangeran Danuringrat yang merupakan Raja ke-2 Blambangan berkuasa.
Menurut sumber ke tiga ini, Asrama Inggrisan difungsikan sebagai markas yang bernama Singodilaga.
Bukti otentik yang dapat dilihat jika tempat ini dulunya pernah digunakan sebagai Stasiun Kabel Telegraf bawah laut ialah adanya tutup lorong yang ada dibelakang bangunan utama.
Diatas lorong itu bertuliskan Burn Brothers Rotunda Works 3 Blackfriars Road London S.E . Tulisan itu merujuk pada perusahaan asal Inggris yang memproduksi benda-benda kedap air, salah satunya kabel bawah laut kedap air.
Selain itu berdasarkan peta Belanda yang ditemukan di museum Leiden juga menerangkan bahwa Asrama Inggrisan disebut sebagai Kabelhuis (red. rumah kabel). Namun sayangnya sisa-sisa kabel telegraf itu sudah dihancurkan oleh Jepang pada saat Perang Dunia II.
Kemungkinan besar untuk kebel yang masih utuh berada di bawah laut. Mengingat stasiun telegraf di Banyuwangi terhubung dengan Kota Darwin Australia.
Ini merupakan jalur Kabel bawah laut pertama di Indonesia dengan panjang 970 Naugtcal Mile (nm) yang setara dengan 1796,44 kilometer.
Tidak hanya kabel yang dibuat oleh inggris, namun stasiun telegraf ini juga dibuat oleh perusahaan Inggris bernama British-Australian Telegraph Company pada tahun 1870.
Perusahaan Inggris tersebut memasang kabel bawah laut yang merupakan bagian dari proyek menghubungkan dunia melalui kabel, setelah sebelumnya eropa dan asia sudah terhubung.
So, jika kalian singgah ke Banyuwangi tidak ada salahnya menyempatkan untuk melihat peninggalan ini. Sambil mendoakan para pahlawan yang dengan jerih payah tenaga dan fikiran merebut kemerdekaan untuk kita bisa menikmati seperti saat ini.***
