Loading...
Loading…
Tak hanya Rusia-Ukraina, Dunia Perlu Antisipasi Ketegangan di Semenanjung Taiwan

Tak hanya Rusia-Ukraina, Dunia Perlu Antisipasi Ketegangan di Semenanjung Taiwan

Powered by BuddyKu
Travel | IDX Channel | Minggu, 18 September 2022 - 03:37

IDXChannel - Suasana tidak kondusif dan penuh ketidakpastian yang terjadi di perekonomian dunia saat ini, oleh banyak pihak, dianggap bersimpul pada perang yang terjadi antara Rusia dan Ukraina.

Meski demikian, dunia diminta untuk tidak hanya fokus pada perkembangan yang terjadi pada perang tersebut. Hal ini mengingat munculnya potensi memanasnya geopolitik dari situasi terbaru di Semenanjung Taiwan, yang melibatkan dua negara besar, Amerika Serikat (AS) dan China, serta negara kecil namun sarat nilai tawar, Taiwan.

"Bagi Indonesia saja, misalnya, Taiwan merupakan penghasil semikonduktor terbesar yang berpengaruh ke industri otomotif dan elektronik di Indonesia. Di banyak negara, nilai tawar Taiwan juga cukup besar dan berpengaruh," ujar Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, Sabtu(17/9/2022).

Karenanya, menurut Bhima, misal kita berandai-andai perang Rusia-Ukraina bakal berakhir dalam waktu dekat, dirinya masih belum cukup yakin bahwa situasi dunia bakal segera membaik. Pemikiran tersebut didasarkannya pada sejumlah faktor.

Faktor pertama, ada risiko gagal bayar utang di sejumlah negara berkembang meski perang telah berakhir, tetap berpotensi menimbulkan krisis keuangan. Selain itu, ada juga faktor masalah pangan, yang meski juga dipengaruhi oleh dampak perang, namun ada pengaruh yang lebih besar lagi dari gangguan cuaca ekstrem yang terjadi di berbagai negara.

"Dan seperti Saya bilang tadi, faktor yang juga cukup berpengaruh adalah kondisi geopolitik yang saat ini terjadi di Semenanjung Taiwan," ungkap Bhima.

Potensi konflik di lokasi tersebut, dalam pandangan Bhima, memiliki tingkat risiko yang lebih besar, karena secara geografis berada di wilayah Asia.

"Jadi posisi Taiwan ini juga perlu lebih dicermati sebagai game changer konflik geopolitik dunia," pungkas Bhima. (TSA)

Original Source

Topik Menarik

{