Loading...
Loading…
Sejarah Pembantaian Dukun Santet di Banyuwangi Tahun 1998: Ratusan Orang Tewas Dibacok dan Dibakar

Sejarah Pembantaian Dukun Santet di Banyuwangi Tahun 1998: Ratusan Orang Tewas Dibacok dan Dibakar

Powered by BuddyKu
Travel | Republika | Selasa, 23 Agustus 2022 - 09:36

KURUSETRA -- Salam Sedulur... Rezim Orde Baru (Orba) baru saja runtuh usai Soeharto menyatakan mundur sebagai presiden pada 21 Mei 1998. Di saat era Reformasi baru saja menetas dan atmosfer politik belum sepenuhnya mereda, Indonesia dibuat geger dengan kasus pembantaian ratusan orang yang disebut sebagai dukun santet. Kasus pembantaian ratusan dukun santet itu terjadi di Banyuwangi, Jawa Timur, pun hingga kini belum menemui titik terang.

Peristiwa berdarah itu pun berkembang liar, termasuk ke Jakarta. Kabar angin menyebut aksi keji itu dilakukan ninja karena mereka selalu berpakaian serba hitam ketika melakukan aksi pembunuhan. Bahkan, kabar ninja sebagai pelaku utama bukan sekadar pembunuh biasa, tetapi memiliki keahlian bela diri, masuk ke dalam tempat sempit, hingga berubah menjadi asap lalu menghilang.

Dalam buku Geger Santet Banyuwangi yang disusun oleh Abdul Manan, Imam Suma Atmadja, dan Veven Sp. Wardhana, dituliskan para ninja itu bergerak gesit, terlatih, dan bergerak secara sistematis. Mereka juga dibekali benda sejenis handy-talky untuk berkomunikasi.

Lokasi pembantaian pun tersebar di 18 kecamatan, tetapi ada dua versi mengenai jumlah korban. Versi pertama datang dari Pemerintah Kabupaten Banyuwangi yang menyebut korban yang dibunuh karena diduga sebagai dukun santet mencapai 115 orang. Jumlah lebih besar datang dari versi kedua yang dikeluarkan Tim Pencari Fakta Nahdlatul Ulama (NU), di mana 148 orang dilaporkan tewas dalam peristiwa tersebut.

Langkah pencegahan sebenarnya sudah dilakukan Bupati Banyuwangi saat itu, Purnomo Sidik. Pada 6 Februari 1998 Purnomo memerintahkan seluruh camat di wilayahnya mengumpulkan data masyarakat yang berprofesi sebagai paranormal hingga dukun pengobatan tradisional. Tujuannya untuk memberikan penanganan jika terjadi sesuatu. Namun perintah mengumpulkan data tersebut seperti pisau bermata dua. Pasalnya, Sejak Februari sampai Semptember 1998 jumlah korban pembunuhan semakin meningkat.

Dalam pemberitaan Republika.co.id pada Selasa, 10 Februari 2015, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mendalami kembali kasus pembunuhan berantai bermotif tuduhan dukun santet tersebut. Tim Komnas HAM menggali informasi dalam kasus tersebut dengan meminta keterangan Sekretaris Daerah Jawa Timur Akhmad Sukardi di Kantor Gubernur Surabaya.

Kami ingin mencari data sejauh mana Pemprov Jatim telah memberi bantuan, baik secara moril, materil, hingga dukungan rehabilitasi sekaligus pendampingan terhadap keluarga korban, kata Komisioner Komnas HAM, Nurkhoiron saat itu.

Komnas HAM sudah membentuk tim untuk menyelesaikan kasus tersebut.... baca di halaman selanjutnya...


Khoiron menjelaskan, atas permintaan masyarakat, Komnas HAM telah membentuk tim yang memiliki fokus terhadap penyelesaian kasus yang diduga melanggar HAM tersebut. Tim sudah dibuat pada Oktober 2014 dan akan berupaya hingga Mei 2015," katanya.

Pembentukan tim dan tindakan pendalaman atas dugaan kasus yang didapat Komnas HAM atas pengaduan dari aktivis HAM, mahasiswa, kiai, tokoh agama, dan masyarakat. Tak hanya ke Pemerintah Provinsi Jawa Timur, menurut Khoiron, timnya juga dalam waktu dekat akan meminta keterangan Mapolda Jawa Timur, Kodam V/Brawijaya, PWNU Jatim, PCNU Banyuwangi, PCNU Jember, dan lain-lain.

Sebenarnya, kasus pembunuhan bermotif tudingan dukun santet tidak hanya terjadi di Banyuwangi saja. Sejumlah kota di Jawa Timur yakni, Malang, Jember, Situbondo, Bondowoso, Pasuruan, Pamekasan, dan Sampang menjadi sasaran yang diduga kuat bermotif politik.

Banyak dari mereka yang tewas adalah guru mengaji, dukun pengobatan, bahkan ada juga pengurus organisasi Nahdhlatul Ulama (NU). Berdasarkan investigasi, tim pencari fakta NU menyimpulkan, korban meninggal tercatat 253 orang. Wilayah dengan korban paling banyak adalah Banyuwangi, yakni 148 orang.

Tim pencari fakta NU juga berkesimpulan, para pelaku adalah orang-orang terlatih. Mereka beroperasi menggunakan pakaian serba hitam, sehingga oleh masyarakat disebut sebagai ninja. Disebutkan, para ninja tersebut membunuh mereka yang dituding dukun santet dengan cara yang keji, mulai dari dibacok, digantung, hingga dibakar di dalam rumah.

Temuan tim ad hoc dari Komnas HAM yang dipublikasikan pada 2015 menyatakan jumlah korban tewas keseluruhan mencapai 309 orang, dengan rincian 194 orang di Banyuwangi, 108 orang di Jember, dan 7 orang di Malang. Penyelidikan sempat dilanjutkan ke Kejaksaan Agung pada 12 Januari 2019, namun kenyataannya siapa dalang di balik peristiwa keji yang membuat Kota Banyuwangi dicitrakan sebagai kota santet serta membuat trauma warga Banyuwangi tersebut tersebut belum terungkap.

BACA BERITA MENARIK LAINNYA:

> Download Video YouTube Ubah Jadi Lagu MP3 Pakai MP3 Juice: Dijamin Aman, Mudah, dan Cepat

> Humor NU: Orang Muhammadiyah Ikut Tahlilan Tapi Gak Bawa Pulang Berkat, Diledek Makan di Tempat Saja

> Bolehkah Makan Nasi Berkat dari Acara Tahlilan? Halal Bisa Jadi Haram

> Banyak Pria Jakarta Sakit Raja Singa Gara-Gara Wisata "Petik Mangga"

> Kata Siapa Muhammadiyah tidak Punya Habib, KH Ahmad Dahlan Itu Keturunan Rasulullah

> Pak AR Salah Masuk Masjid, Diundang Ceramah Muhammadiyah Malah Jadi Imam Tarawih di Masjid NU

> Humor Gus Dur: Yang Bilang NU dan Muhammadiyah Berjauhan Hanya Cari Perkara, Yang Dipelajari Sama

> Humor Cak Nun: Soal Rokok Muhammadiyah Terbelah Jadi Dua Mahzab

> Humor Ramadhan: Puasa Ikut NU yang Belakangan, Lebaran Ikut Muhammadiyah yang Duluan

.

Ikuti informasi penting seputar berita terkini, cerita mitos dan legenda, sejarah dan budaya, hingga cerita humor dari KURUSETRA. Kirim saran dan kritik Anda ke email kami: kurusetra.republika@gmail.com. Jangan lupa follow juga Youtube, Instagram, Twitter, dan Facebook KURUSETRA.

Original Source

Topik Menarik