Tinjauan Haji Dalam Berbagai Dimensi Spiritual 12 Misteri Maqam Ibrahim

Tinjauan Haji Dalam Berbagai Dimensi Spiritual 12 Misteri Maqam Ibrahim

Travel | BuddyKu | Minggu, 17 Juli 2022 - 07:00
share

Maqam Ibrahim bukanlah kuburan Nabi Ibrahim. Maqamnya ada di Hebron, negeri Palestina yang dikuasai Israel sekarang. Maqam Ibrahim adalah tempat pijakan kaki Nabi Ibrahim ketika merehab atau membangun Kabah. Konon, ketika meninggikan dinding Kabah untuk mencapai ketinggian tertentu, Putranya, Nabi Ismail, mengambilkan sebongkah batu sebagai tempat pijakan, tetapi keajaiban terjadi karena batu tempat pijakan kedua telapak kaki itu berlubang, menyerupai pahatan, dengan panjang 22x11 sentimeter.

Ukuran telapak kaki seperti ini lebih kurang sama dengan ukuran kaki normal manusia modern saat ini. Konon, juga bertambah tinggi bangunan dinding Kabah bertambah tinggi pula batu tempat pijakan itu. Kini, prasasti itu dapat disaksikan di dalam kotak kaca yang berdiri di depan pintu Kabah.

Bangunan Maqam Ibrahim sekarang sangat kokoh. Ditabrak dan ditarik oleh orang banyak pun tidak akan rebah atau rusak. Bangunannya juga diamankan dengan jeruji besi dan kaca tebal yang kokoh. Maqam Ibrahhim berdekatan dengan Multazam sehingga sering juga digunakan shalat dan berdoa para jamaah haji dan umrah di arah tempat ini.

Dalam sejarah, Maqam Ibrahim sering dijadikan incaran para pemimpin qabalah dan pemegang kekuasaan, seperti halnya Batu Hitam (Hajar Aswad) yang menempel di Kabah pernah dicongkel oleh sekelompok orang dari Dinasti Qaramithah. Namun, tiga tahun kemudian dikembalikan ke tempat aslinya, meskipun sudah mengalami pecah belah. Ada juga ide untuk menjauhkan Maqam Ibrahim dengan Kabah untuk menghilangkan kemungkinan orang menyembah atau mengkultuskan Maqam Ibrahim.

Semula, Maqam Ibrahim menurut kalangan ahli sejarah Saudi Arabia, menempel di dinding Kabah seperti halnya Hajar Aswad, tetapi di zaman Khalifah Umar bin Khattab, batu ini dipisahkan dengan dinding Kabah dan digeser ke belakang Kabah. Semula, Maqam Ibrahim ini diletakkan di sebuah bangunan lemari perak berukuran 6x3 meter, kemudian dibuat dalam kotak ukuran lebih kecil (180x130 centimeter = 2,34 meter), karena menghalangi arus thawaf.

Perubahan ini melalui hasil kesepakatan pemimpin umat Islam melalui Rabitah Al-Alam Al-Islami (Organisasi Konferensi Islam/OKI) pada 1387 Hijriyah. Jarak antara Maqam Ibrahim dengan sudut Kabah dan Hajar Aswad 14,5 meter. Dari Rukun Yamani 14 meter, dan dari sudut talangan air 13,25 meter.

Dalam pandangan sufistik, Maqam Ibrahim dimaknai tidak hanya secara fisik, tetapi lebih ditekankan kepada makna simboliknya sebagai Pendirian Ibrahim yang monoteistik (tauhid). Seperti diketahui, Nabi Ibrahim sering disebut sebagai Bapak Monoteisme (The Father of Monotheism). Nabi Ibrahim melahirkan keturunan penganjur tegas ajaran monoteisme, yaitu Nabi Musa yang diamanati menganjurkan agama Yahudi dengan Kitab Sucinya Taurat, kemudian Nabi Isa yang diamanati menganjurkan agama Nashrani dengan Kitab Sucinya Injil, dan terakhir Nabi Muhammad Saw dari jalur Nabi Ismail, diamanati sebagai penganjur agama Islam dengan Kitab Sucinya Al-Quran.

Bagi para penziarah Kabah, diharapkan meneguhkan dan mengokohkan pendirian ajaran monoteisme sebagaimana dianjurkan Nabi Ibrahim, yang merelakan dirinya terancam dengan berbagai ancaman, termasuk memisahkan diri dengan ayahnya sendiri yang pembuat dan penyembah berhala.