Loading...
Loading…
Jatim Status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi, Semua Pihak Diminta Siaga

Jatim Status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi, Semua Pihak Diminta Siaga

TOP | inewsid | Jumat, 20 Desember 2019 - 20:00

SURABAYA, iNews.id - Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa menetapkan status siaga darurat bencana hidrometeorologi. Semua pihak terkait seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan kepala daerah diminta siaga.

Penetapan Status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi itu berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jawa Timur No.188/650/KPTS/013/2019. Status ini dikeluarkan menyusul potensi bencana alam akibat dampak meteorologi yang cukup tinggi seperti angin kencang, hujan lebat dan gelombang tinggi.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim, Suban Wahyudiono mengatakan, status itu berlaku sejak Senin (16/12/2019) hingga 150 hari ke depan dan berlaku di seluruh daerah di Jatim.

"Karena itu seluruh Kepala BPBD dan para kepala daerah diharapkan bersiaga dalam penanganan bencana hidrometeorologi yang berpotensi terjadi dalam beberapa bulan ke depan," katanya, Jumat (20/12/2019).

Suban mengatakan, apabila di kemudian hari terjadi bencana meteorologi maka status itu akan ditingkatkan menjadi Surat Keputusan Tanggap Darurat Bencana.

Gubernur Jatim juga telah mengeluarkan surat imbauan kepada para kepala daerah untuk menyiapkan segala potensi untuk antisipasi bencana alam, Jumat (22/11/2019).

Baca Juga :
Dilanda Banjir, Gubernur Riau Minta Warga Tak Hura-Hura Rayakan Tahun Baru 2020

Di tingkat provinsi, Gubernur Jatim mengimbau para Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di lingkungan pemerintah provinsi (pemprov) yang mempunyai fungsi penanggulangan bencana harus bekerja sama dengan TNI-Polri untuk antisipasi bencana alam.

"Dengan adanya antisipasi ini maka diharapkan Jatim dalam kondisi siap menghadapi bencana hidrometeorologi. Selain itu kami juga mengharapkn doa dari para ulama dan santri agar aman dari bencana alam," katanya.

Suban menjelaskan dari pemetaan BPBD, ada 22 wilayah di Jatim yang rawan bencana hidrometeorologi jelang puncak musim hujan bulan Desember 2019 hingga Januari 2020.

Suban membeberkan dari 22 daerah itu, daerah rawan banjir umumnya didominasi oleh luapan sungai di sekitarnya. Seperti Sungai Bengawan Solo yang luapannya bisa membanjiri wilayah Bojonegoro, Magetan, Madiun, Lamongan, Gresik, Ngawi, dan Tuban.

Sementara daerah yang berpotensi banjir akibat luapan Sungai Berantas yakni Malang Raya, Kediri, Jombang, Mojokerto, Sidoarjo, Probolinggo, Surabaya, Bondowoso, Lumajang, Banyuwangi, dan Jember. Sedangkan di Pasuruan, banjir berpotensi diakibatkan oleh meluapnya Sungai Welang.

Baca Juga :
Awal 2020, Sebanyak 61 Rumah di Kulonprogo Rusak Tertimpa Pohon

Di wilayah Madura, dampak luapan Sungai Kemuning berpotensi membanjiri wilayah Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Daerah-daerah ini setiap tahunnya jadi langganan banjir dan banjir bandang," kata Suban.

Selain banjir, bencana hidrometeorologi yang lain adalah longsor. Potensi bencana ini mengancam wilayah Jombang, Ponorogo, Kediri, Banyuwangi, Jember, Lumajang, Probolinggo, Pasuruan, Malang, Batu, dan Pacitan karena terdapat pegunungan dan perbukitan.

Suban mengaku pihaknya sudah berkoordinasi dengan BPBD, Pemerintah Daerah (Pemda), dan pihak-pihak terkait seperti Basarnas, Tagana, Tim SAR, PMI, dan TNI-Polri untuk mengantisipasi potensi bencana. Selain itu juga membentuk lembaga-lembaga penanggulangan bencana, baik dari pemerintah maupun swasta.

"Kami berharap peran aktif masyarakat bersinergi dengan pemerintah daerah maupun provinsi dalam penanganan bencana alam. Di samping itu juga sudah kami siapkan jalur dan lokasi evakuasi serta titik-titik penampungan," katanya.

Original Source