WHO Nyatakan Uganda Bebas Ebola Setelah 42 Hari Tanpa Kasus Baru

WHO Nyatakan Uganda Bebas Ebola Setelah 42 Hari Tanpa Kasus Baru

Terkini | okezone | Kamis, 27 Agustus 2026 - 11:19
share

UGANDA - Uganda dinyatakan bebas dari wabah Ebola setelah melewati masa pemantauan selama 42 hari tanpa menemukan kasus baru. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi berakhirnya wabah tersebut dalam konferensi pers bersama Kementerian Kesehatan Uganda, pada Selasa 26 Agustus 2026.

Sekretaris Tetap Kementerian Kesehatan Uganda, Diana Atwine mengatakan, pemerintah telah memastikan rantai penularan virus Ebola di negaranya telah terputus.

"Kami telah menilai risikonya, kami telah menilai seluruh rantai penularan dan dinamika masuknya virus ke negara ini, dan kami tahu bahwa kami bebas dari Ebola," kata Atwine kepada stasiun televisi nasional NTV, dilansir dari Aljazeera, Kamis (27/8/2026).

Menurut Atwine, WHO tetap harus menunggu hingga periode 42 hari terpenuhi sebelum secara resmi menyatakan Uganda bebas Ebola. Periode tersebut setara dengan dua kali masa inkubasi maksimum virus Ebola.

Atwine juga meminta negara-negara yang sebelumnya memberlakukan pembatasan perjalanan terhadap Uganda selama wabah untuk segera mencabut kebijakan tersebut.

"Kecuali jika mereka memiliki alasan lain, mereka seharusnya mencabut pembatasan di negara ini, dan warga Uganda harus bebas bepergian ke negara mana pun," ujarnya.

 

20 Kasus, Dua Orang Meninggal

Selama wabah berlangsung, Uganda melaporkan total 20 kasus Ebola. Kasus terakhir yang dikonfirmasi tercatat pada 21 Juni 2026.

Sebanyak dua orang meninggal dunia akibat virus tersebut.

Pasien terakhir dinyatakan sembuh dan dipulangkan dari Pusat Isolasi Rujukan Nasional Mulago pada 16 Juli. Selanjutnya, Kementerian Kesehatan Uganda mengumumkan wabah telah berakhir pada 28 Juli.

Deklarasi WHO pada Agustus kemudian menandai berakhirnya masa pemantauan resmi setelah tidak ditemukan kasus baru.

Uganda Waspadai Wabah dari Kongo

Meski dinyatakan bebas Ebola, Uganda tetap menghadapi risiko penularan dari negara tetangganya, Republik Demokratik Kongo (DRC).

Wabah Ebola di DRC justru masih meluas. Data pemerintah terbaru yang dikutip Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa menunjukkan kasus terkonfirmasi di DRC mencapai 5.656 hingga 25 Agustus, dengan 2.715 kematian.

Provinsi Ituri di timur laut DRC menjadi salah satu pusat wabah dengan lebih dari 4.700 orang terinfeksi.

 

Uganda berbatasan langsung dengan wilayah timur laut DRC. Untuk mengantisipasi penyebaran lintas batas, WHO membantu memperkuat kapasitas perawatan dan laboratorium di Aru dan Kasenyi, yang berada di Provinsi Ituri.

Perwakilan WHO untuk Uganda Kasonde Mwinga mengatakan model kerja sama lintas batas tersebut dapat diperluas ke wilayah lain.

Uganda juga berencana membuka dua pusat pengobatan Ebola tambahan di DRC sehingga jumlah pusat pengobatan yang didukung menjadi empat.

Pada Senin, pejabat Uganda dan DRC bertemu di Kampala untuk meninjau nota kesepahaman bilateral mengenai keamanan kesehatan lintas batas.

Wakil Menteri Kesehatan Uganda Kenneth Akiiri meminta WHO dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC) meningkatkan dukungan untuk menghadapi wabah Ebola di DRC.

"Ketika Anda rentan dan memiliki sumber daya yang lebih sedikit, Anda seharusnya meminta bantuan," kata Akiiri dalam pernyataan bersama.

Sementara itu, Kepala Delegasi DRC Adelard Lufungula menyerukan tindakan lebih agresif untuk menghentikan penyebaran virus tersebut.

"Kami ingin memerangi Ebola seperti dalam perang," ujarnya.
 

Topik Menarik